Anita Deckha:

Izin share

Originally posted on Catatanku:

Ribut-ribut pemberitaan tentang gelar profesor di depan nama Rhoma Irama membuat saya harus menjelaskan lagi melalui tulisan ini. Profesor itu bukan gelar akademik seperti Dr, M.Sc, S.T, dan sebagainya (baca berita ini ), tetapi nama jabatan akademik. Di negara kita profesor adalah jabatan akademik tertinggi seorang akademisi yang telah menjadi Guru Besar.

Seorang akademisi mempunyai jenjang karir secara bertahap yang dinyatakan dalam bentuk jabatan akademik (dulu istilahnya jabatan fungsional). Jabatan akademik itu ada empat tingkat. Yang pertama Asisten Ahli, kedua Lektor, ketiga Lektor Kepala, dan yang tertinggi adalah Profesor. Untuk naik dari satu jabatan akademiki ke jabatan akademeki lain harus memenuhi angka kredit (Kum) yang telah ditetapkan oleh Dikti. Penilaian angka kredit itu dihitung dari tiga aspek tridharma, yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat. Seorang sarjana atau magister yang pertama kali menjadi dosen akan mendapat jabatan akademik Asisten Ahli. Jika dia mengambil S3 dan mengurus kenaikan jabatan, jabatan akademiknya…

View original 287 more words

Tahun Ketiga Pernikahan

Posted: 26 Februari , 2014 in Story

 Apakah kamu yakin bisa membangun keluarga dengan baik, saat usiamu skarang masih 23 tahun? ini terlalu muda! Apakah kamu bisa jamin pernikahanmu akan langgeng?Apakah kamu sudah cukup dewasa menjalani semuanya? Apakah calon suamimu sudah punya penghasilan tetap??

Dan apakah.. apakah yang lain. Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja menyerangQu siang itu.  SaatQu coba mengatakan niat baik ini ke Ibu dan Kakak. Bahwa aku akan segera menikah.

“Yang jelas dia adalah lelaki yang baik yang nit kenal dari saudari dan teman seperjuangan nit. Nit yakin Dia lelaki yang sholeh Bu’.” JawabQu sambil tersenyum tenang menatap ibu.

“Kamu kan mengenalnya hanya sekilas, bahkan dia bukan satu suku dengan kita dan tempat tinggalnya jauh, kamu siap ikut dengannya?” ibu terus saja bertanya.

Jelas mereka kaget  mendegar kabar ini. Karna selama kuliah bisa dihitung hanya berapa kali aku ketemu ibu. Sejak SMP sudah pisah dengan ibu dan kakak. Tiba-tiba pulang kerumah dan memberitahukan kalau aku siap menikah

“Mas adit adalah  orang yang Sholeh, sosok yang baik, orang yang bisa menerima semua kekuranganQu, orang yang bisa membimbingQu menjadi lebih baik, keluarganya keluarga yang baik, meski umur kita samaa-sam 23 tahun. Aku dan mas adit pasti bisa bersama membangun dan membina  rumah tangga kami , meski kami akan memulainya dari “Nol”, Sama-sama belajar, sama-sama memahami, sama-sama berbagi. Aku pasti bisa Bu’. Tolong bu’ jangan persulit niat tulus ini. Rasulullah SAW tidak pernah memberatkan anaknya, sahabatnya-sahabatnya ketika hendak  menyegerahkan pernikahan. Semoga ibu bisa  merestui kami.” Aku terus meyakinkan ibu dan kakak.

“selama ini nita sudah bisa  mandiri, kuliahpun sendiri, bahkan sampai bisa berjilbab seperti sekarang ini, dan merubah pergaulannya lebih baik, ibu dan kakak sangat senang, terlebih Alhamrhum Abah pasti bangga.  ibu yakin bahwa pilihan yang nita ambil adalah pilihan yang tepat,  tidak ada lagi  alasan tuk  ibu dan kakak menolaknya. Silahkan, tidak ada alasan ibu melarang jika nita memang  siap menjalaninya, apalagi kalau mas adit adalah lelaki yang sholeh dan baik, ibu izinkan nita menikah.” Jawab ibu tenang sambil tersenyum

 Subhanallah,, mendegar kata-kata ibu itu bahagia tak terkira. Aaaah,, Tengah hari yang panas. Tapi siang itu hati ini terasa sejuk, dingin seperti salju dari kutub utara berhembus sampai kerumahQu, terasa sampai ke hati adem,sejuk. Bahagia tak terduga,senang bukan kepalang “ Thanks to Allah” BisikQu dalam hati

Menikah dengan Mas Adit membuat sebagian mimpi-mimpiQu tercapai. Saat itu usia kita sama. Mas adit saat itu pun berumur 23 tahun. Tapi bagiQu, ini adalah usia yang tepat. Dan tidak ada yang salah dengan cepat atau lambatnya qita menikah. Ini adalah sebuah pilihan, dan kedewasan. Sejauh mana pilihan ini kita mampu mempertanggungjawabkannya.

“Apakah kamu  benar-benar siap tuk menikah?” Pertanyaan semacam ini kerap sekali  datang seperti petir menyambar telingaQu. Bagaiman saya bisa menjawab “Siap” kalau menjalaninya saja belum. Jelasnya kalau sudah menikah Siap atau tidak, jawabanya memang harus siap.Karena Aqu sudah memilih jalan  ini. konsekwensi apapun harus siaaap! Siap menerima resiko, siap jauh dengan keluarga, siap tinggal dengan mertua, siap menerima perbedaan, siap berubah tuk pasangan kita, siap mau belajar.  Clear.

Aku sudah berniat bahwa setelah meyelesaikan studyQu jika ada lelaki yang baik dan sholeh melamarQu, dan mau menerima semua kekurangan-kekuranganQu. Aku akan menikah denga lelaki itu, dan kita akan sama-sama membangun peradaban.

Dan,, Laki-laki itu adalah Mas Aditia Bayu Pratama :)

Tulisan di atas baru pengantar hihi,,,*Istiraha,t capek

Anita Deckha:

Aamiin.. aamiin

Originally posted on a madeandi's life:

Catatan: Tulisan ini adalah modifikasi dari salah satu bab dari buku saya “Berguru ke Negeri Kangguru” [Beli di sini].

Suatu hari saya mendapat email dari seseorang perihal beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) – dulu Australian Development Scholarship atau ADS. Dia adalah satu dari sekian banyak yang berkirim email untuk perihal yang sama. Saya merasa terkejut, meskipun rasanya saya sudah menulis cukup banyak tentang beasiswa AAS di blog saya, pengirim email ini “tidak tahu harus mulai dari mana”. Kalimat ini saya kutip langsung dari email-nya. Saya menduga bahwa kawan kita ini tidak sendirian mengalami kebingungan seperti itu. Maka, saya menulis dan memperbarui artikel ini khusus dipersembahkan bagi mereka yang ingin mendaftar beasiswa AAS tetapi “tidak tahu harus mulai dari mana”.

View original 2.262 more words

Originally posted on a madeandi's life:

Tentu saja tulisan ini bukan untuk Anda, pembaca yang budiman. Tulisan ini adalah untuk orang yang tidak Anda kenal. Orang yang memiliki keinginan untuk mendapatkan beasiswa luar negeri tetapi tidak sadar kalau dirinya menderita kemalasan stadium tinggi. Saya menyebutnya pejuang malas dengan ciri-ciri seperti ini:

  1. Menanyakan hal-hal yang sebenarnya ada di website atau buku panduan beasiswa. Mereka malas membaca.
  2. Selalu mengatakan ‘tes TOEFL/IELTS mahal banget’ tapi malas menabung dan tetap rajin nongkrong di cafe ;)
  3. Sibuk berpikir caranya lolos beasiswa meskipun tidak memenuhi syarat. Mereka tidak fokus berusaha agar bisa memenuhi syarat. Anehnya, dengan begitu mereka merasa kreatif.
  4. Mudah bertanya “syarat beasiswanya apa saja?” Seakan itu satu rahasia yang tidak ada di website atau buku panduan (terutama jika ditanyakan lewat email ketika penanya memiliki akses internet yang memadai).
  5. Bertanya “jurusan yg cocok buat saya apa ya?” seakan orang lain lebih paham tentang dirinya. Untuk menggali bakat dan minat sendiri saja…

View original 214 more words

“Lebih dari 5 cm”

Posted: 20 Januari , 2014 in Curhat

Ternyta ini bukanlah perkara mudah. Setiap pilihan punya konseukensi yg harus dipertanggungjawabkan. Aku, Kamu atau siapapun entahlah.. ya, aku memilih jalan ini. Jalan melanjutkan study. Mengejar mimpi2Qu. Mimpi keduaQu yang hampir mendekati puncak pencapaian.

Berharap apa yg ku dapat di persinggahan ketigaQu dapat bermanfaat bagi banyak orang. Khususnya tuk anakQu sendiri. mengajari dia byak hal, tertawa bersama, bermain, memahami dunianya berusaha menjadi seorang ibu yg baik untuk Syifa. Qu tahu ini adalah saat yang tepat mengajari dia akan banyak hal. Tak terasa putri kecilQu telah berumur 2 tahun setelah Qu kembali dari pulau seberang. Melihat dia mulai bersinar. Tapi bukan aku yg mengajari dia sampai sepintar itu. sediih. jelas hati bagai teriris sembilu melihat dia lebih dekat nenek dan kakeknya dari pada aku ibunya sendiri.

Semenjak dalam perjLanan menuju rumah rasa tak sabar ingin segera memeluk putri kecilQu. Terlintas beribu tanya dalam pikiranQu. Apakah dia akan mengenalQu? apakah dia akan suka padaQu?, apakah dia mau bermain dengNQu? apakh dia mau tidur denganQu? apakah dia akan memanggilQu ummi? dan masih byak lagi pertanyaan yg sering terlintas dlam pikiranQu seolah2 membuatQu semakin takut tuk mengetahui jawabannya.

Libur semstr 3 yang agak lama membuatQu memilih tuk pulang ke kota persinggahan keduaQu. Disana Syifa dilahirkan dan dibesarkan. setelah diskusi dgn abi akhirnya abi mengizinkanQu tuk pulang dan melepas Rindu dgn putri kecilQu itu.

Rindu yang tiap hari mulai membuncah, aqu meninggalkannya sejak 8 bulan dan sekarang tepat berumur 2 tahun. Semua orang mengatakan bahwa AQU bukan ibu yg baik. Bgtu teganya aku meninggalkan anakQu demi mengejar mimpi. Setiap kali mendengar kata2 itu aku hanya melemparkan senyum dan berusaha sabar dan ikhlas. Kenapa? ya.. krna aqu sudah punya jawaban sendiri.

Pukul 12:45 kendraan yg aku tumpangi menuju rumah, terparkir tepat di depan rumah ibu mertuaQu. Mataqu liar mencari sosok bocah kecil yang sedang bermain di teras rumah. Yang mana syifa… yang mana? hatiQu mulai bertanya2 tak sabar. Ada beberapa anak2 yg main diteras rumah. mereka adalah teman2 syifa. MataQu berganti menatap bocah2 kecil itu tapi, tak ada satupun yang mirip dengan foto yang seringQu liad lewat Fb yg dikirim Omnya… syifanya yang mana? hatiQu terus bertanya semakin penasaran.

Bapak mertua berlajan perlahan mendekTiQu yang baru pulang dari rumah tetangga. bapak ingin membantu mengangaktkan koperQu dari dlm mobil.. bpak berjalan sambil menggendongi bocah perempuan kecil yang imut, matanya yang sipit dan rambut lurus sedagu. Aku langsung mengenali anak itu.. ya.. Ya Allaaah Dialah Syifa. Yang dulu aku tinggalkan masih merangkak sekarang bisa berlari dengN kencang.

Air mata tak hentinya berderai.. bapak mendekatiQu Dan membiarka aku menggendong anakQu.. tangisan semakin kencang. Aqu terus memeluk erat putri kecilqu, dan menciumnya.. ” Syifaaa ini ummi…” Aqu coba menjelaskan.. ” ummi rindu skali sama Syifa” aku terus memeluk dan menciumnya. Syifa hanya terdiam dan matanya berkaca-kaca melihatQu terus menangis dan memeluknya. Ummi.. mencintaimu maafkand ummi yg telah tega meninggalkanmu. sambil menyeka air mata dgn jilbab. Air mata kebahagian. inilah kerinduan yang terpendam selama setahuan. Kini jarak Qita lebih dari 5 cm.

Ajari Anak Terima Kekalahan

Posted: 26 November , 2013 in Artikel-artikel

Tidak selamanya anak akan selalu merasa senang dan menang dalam segala pertandingan. Ketika masuk usia sekolah, perlu mulai mengajarkan mereka menerima kekalahan dengan lapang dada. Dengan belajar untuk kecewa, anak akan semakin terbentuk kepribadiannya. : Irisha William

Karakter dan Urutan Lahir Berpengaruh

Mungkin sempat terlintas di pikiranmu, kok ada anak yang bisa dengan mudah menerima kekalahan saat bermain dengan temannya, sementara

yang lain bisa sampai mengamuk, bahkan menangis? Menurut edukator orangtua dari Toronto, Beverley Cathcart-Ross, ini ada hubungannya dengan temperamen anak. “Anak yang tipenya lebih intens biasanya lebih ngotot sekaligus lebih gampang frustrasi kalau kalah. Setelah itu, mereka bakal lebih lama larut dalam kekecewaan,” jelas Cathcart-Ross.

Selain itu, urutan lahir juga pengaruh, lho. Anak pertama biasanya lebih susah menerima kekalahan, karena biasanya orangtuanya telah menciptakan atmosfir anti-kalah di rumah. Harapan orangtua yang tinggi membuat anak jadi takut mengecewakan orangtua. Akibatnya, sebisa mungkin anak akan menghindari kemungkinan kalah. Karena kalau sampai kalah, hati mereka akan ikut hancur berkeping-keping.

Baca entri selengkapnya »