PROFIL DAKWAH MASA LALU DAN DAKWAH MASA KINI (Suatu Upaya Revitalisasi Peran Dakwah)

Posted: 27 April , 2008 in Karya Tulis Ilmiah

A. Untuk Apa Tulisan Ini

Sejak runtuhnya komunisme, konflik idiologi cenderung bergeser ke arah konflik yang lebih bermotifkan agama. Hal ini misalnya ditandai oleh sentimen Barat (yang nonmuslim) terhadap bangsa-bangsa di kawasan Timur (yang muslim). Tesis Samuel Huntinton mengenai konflik peradaban pada dasarnya yang lebih konkret justru adalah konflik agama.

Berdasarkan pada kecenderungan di atas, maka dituntut peran strategis dakwah agama yang lebih mengarah pada pemberdayaan umat agar lebih memahami eksistensi agama yang lebih utuh dan kaffah. Dakwah dalam konteks agama Islam karenanya harus dilakukan secara lebih kreatif dan inovatif serta menyentuh akar keagamaan Islam. Kecenderungan berkembangnya paham sekularisme keagamaan harus dapat dicermati dan diantisipasi oleh umat beragama khususnya umat Islam. Hal ini penting karena fakta menunjukkan adanya kecenderungan berkembangnya paham keagamaan yang sekuler pada generasi Islam dewasa ini. Bahkan berbicara tentang fiqih yang dasar sekali pun seringkali tidak menarik lagi bagi kalangan generasi muda Islam.

Fakta di atas turut diperparah oleh kepungan budaya global yang negatif yang dibawa oleh bangsa-bangsa Barat. Kecenderungan global ini menyerbu bangsa-bangsa lain khususnya ’negara-negara selatan’ atau ’dunia ketiga’ termasuk bangsa Indonesia. Dunia ketiga, di mana Indonesia berada di dalamnya harus menelan ”pil pahit” dari ekses negatif globalisasi tersebut. Akibatnya, label kehinaan, ketidakberdayaan, kemiskinan, dan kebodohan harus mewarnai kehidupan bangsa-bangsa di dunia ketiga itu.

Tatanan dunia baru (globalisasi) telah memberi kesempatan kepada perusahan-perusahan raksasa yang berpusat di Wall Street – New York untuk menguasai dunia. Dan, saat ini dunia ketiga termasuk Indonesia adalah objek utama dari ekspansi bisnis raksasa tersebut. Dalam konteks inilah perlu dibangun kesadaran kolektif untuk berupaya mengatasi segala ekses negatif yang mungkin dapat ditimbulkan oleh ekspansi ekonomi Barat. Jika hal ini tidak disadari dan diantisipasi, maka akan melemahkan posisi bangsa-bangsa di kawasan dunia ketiga termasuk Indonesia.

Sejatinya potensi keunggulan umat Islam melekat pada setiap individu atau generasi umat yang memiliki nila-nilai kejujuran, keilmuan, etos kerja, produktif, dan akhlak karimah lainnya. Demikian juga pemimpin yang memiliki nilai kesadaran dan kejujuran, serta mempunyai visi dan misi yang jelas dan ide-ide yang prospektif. Dengan bekal nilai-nilai rabbani inilah umat Islam sesungguhnya secara nyata berpeluang mencapai kesuksesan hidup dalam dinamika kehidupan global.

Sorotan bahkan klaim bahwa umat Islam identik dengan keterbelakangan dalam pentas peradaban dunia, konsumtif, dan tidak produktif, mengekor dan tidak kreatif, bergantung pada orang lain, haruslah dipahami sebagai motivasi atau penggerak untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas umat. Kita, umat Islam tidak boleh bersikap pasif dalam memahami kemuliaan dan kesuksesan dalam hidup ini, baik secara material dalam berhadapan dengan bangsa-bangsa lain dan dalam persaingan hidup maupun secara spiritual. Sebaliknya, umat Islam harus lebih proaktif.

Namun, bagaimana kita dapat kembali merealisasikan contoh teladan kita terbesar, termulia, dan akhlak yang mempesona, yaitu akhlakul karimah Nabi Muhammad SAW yang kita rindukan, sehingga apabila tujuan kita satu yaitu Allah SWT, maka contoh teladan kita pun harus tertuju kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai insan kamil, karena misi utama Rasullah membawa risalah Islam adalah untuk menebarkan kasih sayang bagi semesta alam. Dengan demikian, apabila kita lepas dari itu semua pasti akan terhina di hadapan makhluk Allah yang lainnya dan terlebih-lebih kepada Allah SWT. Kilas balik menjajaki misi Rasulullah pada abad V yang merupakan petarung sejati dengan semangat yang berkobar tinggi, sehingga tak sia-sia pada masa itu Beliau berhasil mendakwahi kaum Jahilliyah yang belum mengetahui apa-apa, sehingga percikan cahaya kemenangan itu masih dapat dirasakan oleh kita yang nanti akan terus melanjutkan tongkat estafet dakwah ini pada masa sekarang dan yang akan datang, karena kita menyadari hampir setiap pagi kita bangun tidur mendengar berita penemuan-penemuan baru di berbagai bidang kehidupan, khususnya IPTEK. Penemuan-penemuan itu cenderung menguatkan kebenaran aqidah kita serta mempertebal keimanan kepada Allah, karena penemuan itu justru membuktikan kebenaran al-Qur’an yang menunjukan keajaiban ciptaan Allah[1], sehingga adanya penemuan-penemuan seperti itu visi dan misi menyuarakan kebenaran Islam akan lebih mempermudah kita tanpa mengabaikan metode dakwah Rasulullah pada abad yang lalu, sehingga peradaban yang telah lama kita nantikan akan tersusun secara perlahan-lahan.

Inilah yang menjadi dasar pemikiran penulis, yaitu dengan membandingkan metode dakwah pada masa Rasulullah dan dakwah masa kini. Analisis ini memungkinkan adanya pelajaran konkret dalam strategi dakwah masa kini. Mengenai perintah dakwah ini dipertegas oleh Allah SWT dalam al-Qur’an seperti yang terdapat dalam surah Ali-Imran ayat 110. Islam yang mengandung ajaran universal sejatinya merupakan agama dakwah karena ajaran-ajarannya memuat perintah untuk menyebarluaskan kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan dunia dan akhirat.

B. Menapaki Dakwah Rasulullah SAW dalam Masyarakat Pagan

1. Titik balik

Ketika Nabi Muhammad SAW. lahir (570 M)di Mekah, yaitu sebuah kota yang sangat penting di antara kota-kota negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Biasanya dalam membicarakan masalah geografis yang dialami bangsa Arab sebelum Islam, orang membatasi pembicaraan hanya pada jazirah Arab, padahal bangsa Arab juga mendiami daerah-daerah di sekitar jazirah. Jazirah Arab memang merupakan kediaman mayoritas bangsa Arab kala itu. Bila dilihat dari asal-usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat dapat dibagi menjadi 2 (dua) kelompok besar, yaitu Qahthaniyun (keturunan Qathan) dan Adnaniyun (keturunan Ismail bin Ibrahim)[2]. Akan tetapi, lama-kelamaan kedua golongan itu membaur karena perpindahan dari Utara dan dari Selatan. Organisasi dan identitas sosial yang berakar pada keanggotaan dalam suatu komunitas yang luas, sehingga beberapa kelompok membentuk kabila (clan). Beberapa kelompok kabila membentuk suku (tribe) yang dipimpin oleh syekh. Mereka sangat menekankan pada hubungan kesukuan, sehingga kesetiaan atau solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabila atau suku. Mereka suka berperang, karena itu peperangan antara suku sering terjadi. Melalui jalur perdagangan bangsa Arab berhubungan dengan bangsa-bangsa Syuria, Persi, Habsya, Mesir (Qitbi) dan Romawi yang semuanya telah mendapat pengaruh dari kebudayaan Helenisme, melalui kerajaan-kerajaan Protectorat banyak berdiri kolonial dan tawanan perang Romawi dan Persia di Ghasan Mir’a. Penganut agama Yahudi juga banyak mendirikan koloni di jazirah Arab yang terpenting di antaranya adalah Yastrib, walaupun agama Yahudi Kristen sudah masuk ke jazirah Arab. Bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka yaitu percaya kepada banyak dewa yang dijadikan dalam bentuk berhala dan patung, setiap kabilah mempunyai berhala sendiri. Berhala-berhala tersebut dipusatkan di Ka’bah.

2. Sebelum Memegang Amanah Basar

Dunia Arab ketika itu merupakan kanca peperangan yang terus-menerus berlangsung dengan kondisi alam yang sepertinya tidak berubah. Masyarakat khususnya masyarakat Badui pada dasarnya tetap berada dalam pendirian mereka tentang dasar-dasar kehidupan yang dipegang. Hal ini dapat dimaklumi mengingat masyarakat Badui pada saat itu sama seperti bangsa-bangsa lain yang masih berada dalam taraf permulaan perkembangan budaya. Bedanya dengan bangsa lain hampir seluruh penduduk Badui adalah penyair[3]. Orang Badui dikenal bersikap keras, kasar, kaku, serta bodoh, mereka tidak berpendidikan dan tidak bisa baca-tulis. Pada umumnya mereka tidak tinggal menetap disuatu daerah ke daerah lain, karena itu rumah mereka hanya berupa kema-kema yang mudah dibawa-bawa. Berkaitan dengan masalah ini, tak seorang Rasulpun berasal dari kalangan Badui, semua Rasul yang diutus Allah berasal dari masyarakat kota. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an (Surat Yusuf:109 ), mengapa Allah hanya mengutus para Rasul-Nya dari kalangan penduduk kota? Beberapa ahli Tafsir memberi argumentasi di antaranya adalah Imam Ibnu Zaid yang menyatakan bahwa karena penduduk kota itu adalah orang yang lebih berpendidikan dan lebih sopan dari pada penduduk Badui. Al-Qur’an sendiri memberi kesan negatif terhadap mereka, yaitu dalam Qur’an Surat At-Taubah:97. Meskipun demikian, Al-Qur’an masih memberi sedikit ruang bahwa di antara penduduk Badui terdapat orang-orang yang beriman. Al-Qur’an menegaskan hal ini dalam Surat At-Taubah:99.

3. Misi Yang Mengglobal

Peradaban Arab Jahiliyah sebagaimana peradaban lain di masanya, dikenal sebagai peradaban yang menganut nilai-nilai yang jauh dari nilai ke-Islam-an, Ketuhanan dan Kemanusiaan. Disebut bodoh bukan karena mereka merupakan bangsa yang tidak cerdas akalnya, tetapi karena mereka meletakkan akal pikiran tidak pada tempatnya. Masyarakat Arab Jahiliyah dalam hal Aqidah adalah masyarakat Pagan (yang memper-Tuhan-kan berhala). Budaya yang mereka anut dalam keseharian adalah budaya Hedonis, yang cenderung memper-Tuhan-kan hawa nafsunya[4]. Saat masa kerasulan Nabi, menjelang usianya yang keempat puluh turunlah perintah dari Allah SWT untuk membawa risalah Islam, yaitu agama Samawi atau agama Langit yaitu Islam. Dengan turunnya perintah itu mulailah Rasulullah SAW berdakwah, mula-mula untuk istrinya sendiri Khadijah, kemudian saudara sepupunya Ali Bin Abi Thalib, kemudian Abu Bakar, lalu Zaid bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya. Demikian seterusnya, hingga mereka mengakui kebenaran ajaran Islam yang dibawa Rasulullah. Rasulullah datang membawa Islam untuk memperbaiki peradaban manusia yang rusak itu. Sejak awal dilantiknya Muhammad sebagai Nabi dan Rasul beliau telah memberikan gambaran visi Islam yang hendak diwujudkan. Nabi Muhammad SAW belum berhasil meletakkan dasar-dasar Islam di Mekkah akhirnya beliau bersama para Sahabat Hijrah ke Madinah, waktu itu Madinah dijadikan Rasulullah sebagai model atau protitipe masyarakat berperadaban Islam dan Masjid Nabawi sebagai pusatnya. Lewat mesjid beliau membangun kultur masyarakat baru yang dinamis, progesif, visi yang jauh ke depan, lewat keteledan dan kutbah-kutbahnya, setiap hari Rasullah mengubah masyakatnya dari pemahaman tentang kehidupan, dari pemikiran yang beku, keru, dan kotor kepada pemikiran yang jernih dan dinamis, dari pemikiran taqlid (buta) kepada pemikiran kritis, bebas, dan mandiri dari pemikiran mistis dan takhayul kepada pemikiran ilmiah yang menuntut pembuktian, logika, dan akal sehat.

Pidato terakhir yang disampaikan Rasullah di Arafah pada haji wada’ sesungguhnya merupakan pesan penting dan harus dikembangkan oleh umat Islam. Pidato pamungkas Rasulullah tersebut memberi pilar-pilar penting tegaknya peradaban Islam, yaitu :

- penghapusan pertumpahan darah

- penghausan sistim riba

- penghormatan terhadap kaum wanita

- pentingnya berpegang penting kepada hukum Allah

- penegasan bahwa tidak ada Nabi setelah beliau

- kewajiban untuk menunaikan zakat, sholat, puasa dan haji

- penegasan pentingnya kedisiplinan dalam menati pemimpin yang menaati Allah dan Rasul.

Karena alasan strategis itulah, tujuan pokok dari misi dakwah Rasulullah adalah memberi kesempatan kepada kaum muslim untuk belajar berkebudayaan. Di tanah yang baru itu mereka diwajibkan untuk menjalankan shalat jumat berjamaah, di sana pula mereka dibiasakan untuk menghadiri majelis-majelis ilmu.

Pada masa kulafa’ ar-Rashidin dan kekhalifahan bani umayah, Abbasiyah, Fathimiah dan Usmaniah, lembaga-lembaga dakwah yang dibawa Rasulullah mulai berkembang pesat. Dengan membentuk halaqah-halaqah (kelompok-kelompok kecil). Dengan gigih rasul menyuarakan kebenaran islam sehingga secara perlahan-lahan masyarakat Arab di masa itu mulai simpati terhadap Rasulullah dengan sendirinya mereka menyatakan keislaman itu dihadapan Rasul, karena telah tertanam teladan yang baik yang patut dicontohi. Dakwah Muhammad saw. tidak hanya melahirkan suatu revolusi tauhid yang lebih universal, tetapi juga menyelamatkan peradaban manusia dari kebangkrutannya. Kemunculan Islam di Jazirah Arab terjadi pada saat peradaban dunia sedang berada di tebing kehancuran. Joseph McCabe dalam bukunya The Splendour of the Moorish spain mengatakan, ”…orang-orang Arab memasuki arena pada periode paling penuh keputusasaan yang pernah dirasakan dunia sejak fajar peradabannya, yaitu pada paru yang pertama abad ke tujuh. Sekiranya ada seorang pemikir filsafat dimana pun di bumi ini pada awal abad tersebut, tentu akan mengumumkan bahwa kisah perjalanan panjang upaya manusia untuk menciptakan peradaban telah berakhir dengan kegagalan .” Islam kemudian juga menyebar, secara militer maupun secara da’wiyah, ke berbagai belahan dunia. Dari peradaban-paradaban besar yang pernah ada, sebagian besar masuk ke dalam wilayah Islam, dan selebihnya menerima pengaruh secara signifikan, entah mereka mengakuinya atau tidak, entah menyukainya atau membencinya. Peradaban Mesopotamia, Mesir, Persia, India, dan juga Cina hingga tingkat tertentu telah ter-Islam-kan. Sementara Yunani dan Romawi menerima pengaruh dengan enggan dan angkuh. Kelahiran Islam benar-benar menjadi suatu titik balik sejarah yang mengglobal, tidak hanya secara militer seperti yang dilakukan Alexander the Great, tetapi juga secara keyakinan dan kebudayaan. Kemunculan dan penyebaran Islam menandai fase globalisasi yang pertama di dunia, sebuah globalisasi klasik di mana bahasa Arab menjadi lingua franca dan kebudayaannya menjadi standar umum peradaban. Pertukaran pengetahuan, migrasi intelektual, hingga arus perdagangan bergerak semakin leluasa antar wilayah-wilayah yang jauh, kendati masih agak lambat karena keterbatasan transportasi yang ada.

4. Pudarnya Kejayaan Islam

Sejarah memperlihatkan kehidupan kaum muslimin pada masa itu melompat tinggi dari satu sisi, tetapi mengalami dekadensi pada sisi lain. Kekhalifahan pada masa khalifa yang keempat (khulafa ar-rashidin) dipegang dengan benar-benar mengacu pada sistem yang diadakan Rasullah SAW. Khilafa ala manhaj nubuwah mengalami pergeseran sedikit demi sedikit, akhirnya pengunduran kejayaan Islam terjadi tatkala lembaga-lembaga kepemimpinan khalifah sudah tidak memiliki legitimasi yang kuat dan bahkan cenderung hanya menjadi simbol-simbol yang tidak menentukan kebijakan. Alhasil, tidak ada model ideal bagi masyarakat model madina masa kini, kecuali apa-apa yang dicontohkan Rasulullah dengan para khulafa ar-rashidin, meskipun model-model kekhalifahan bani umayah, Bani Abbasiyah dan Bani usmaniyah telah menunjukan keunggulannya dan kesuksesannya dalam mengusung warna peradaban Islam di panggung sejarah selama tiga belas abad terakhir.

Pada abad XIX (1800 M) ketika Eropa mendominasi Dunia dalam abad XIX dan awal abad ke XX, didorong oleh kehidupan ekonomi industri terhadap bahan-bahan baku dan pemasaranya, dan juga oleh kompetisi politik dan ekonomi satu sama lain, negara-negara Eropa menegakkan kerajaan teritorial Dunia. Belanda menjajah Indonesia, Rusia mengambil Asia, Inggris mengkonsolidasikan kerajaan merak di India dan Afrika. Pada permulaan abad ke-20 kekuatan Eropa hampir menguasai seluruh dunia Islam. Kesemuanya dilindungi dengan peningkatan kekuatan angkatan bersenjata dari negara-negara Eropa, akibatnya Aljazair menjadi negara arab pertama yang ditaklukkan oleh Perancis (1830-1847 M). Negara-negara Islam dan masyarakatnya pada waktu itu tidak lagi hidup dalam keadaan stabil serta tidak mapan sistem kebudayaannya, sehingga keperluan mereka yang mendesak adalah bagaimana menggerakkan kekuatan agar selamat dari dominasi bangsa lain. Sementara agama dan kebudayaan hukum islam terus dipertahankan [6]. Pemikiran baru mulai bermunculan mencoba untuk menjelaskan sebab-sebab kekuatan Eropa dan mengusulkan negeri-negeri Islam agar dapat mengadopsi ide-ide Eropa tanpa kehilangan identitas dan keperceyaan diri, sebagian besar dari mereka adalah melakukan reformasi terhadap hukum Islam, membentuk basis baru dari kerajaan usmani, persamaan hak kewarganegaraan, dan di akhir abad XIX. Pada abad XVIII orang Eropa sudah memiliki kesadaran renaisans yang tinggi, sedangkan Turki usmani mengalami kemunduran kekuasaan karena kemerosotan moral dan korupsi melanda mereka. Pada paru ke-2 abad XVIII, sehingga negara-negara Barat seperti rusia, Australia, Perancis, dan Inggris mulai memiliki daerah jajahan usmani.

Perang dunia pertama diakhiri dengan lenyapnya kerajaan usmani dan ditandai dengan kemunculan Turki sebagai negara yang independen[7]. Pengaruh Eropa terhadap dunia Islam menyadarkan kerajaan usmani untuk melakukan perubahan. Dunia Islam abad XX ditandai dengan kebangkitan dari kemunduran dan kelemahan secara budaya maupun politik setelah kekuatan Eropa mendominasi. Keunggulan-keunggulan Barat dalam bidang industri teknologi, tatanan politik dan militer tidak hanya menghancurkan pemerintahan negara-negara muslim yang ada pada waktu itu, tetapi lebih jauh dari itu, mereka bahkan menjajah negara-negara muslim yang ditaklukannya sehingga pada penghujung abad XIX hampir tidak satu negara muslim pun yang tidak tersentuh penetrasi negara Barat. Sejak Napoleon menduduki Mesir umat Islam mulai merasakan dan sadar akan kelemahan dan kemundurannya. Sementara mereka juga kaget dengan kemajuan yang telah dicapai Barat. Gelombang ekspansi Barat ke negara-negara muslim yang tidak dapat dibendung itu memaksa para pemuka Islam untuk mulai berpikir guna merebut kembali kemerdekaan yang dirampas. Mereka tidak tinggal diam karena dengan perkembangan teknologi yang dikembangkan oleh Barat dapat menjadi sarana untuk maju, artinya segala komunitas multimedia itu ada manfaat untuk dakwah Islamiah, sehingga berdasarkan pengalaman sejarah itu, sebagian umat Islam percaya pada situs pergiliran kejayaan per tujuh abad. Mereka berharap pada abad XV hijriah ini menjadi titik balik kebangkitan peradaban Islam. Inilah saat awal situs kedua kejayaan Islam. Kalangan ini berharap umat Islam kembali berjaya di berbagai bidang. Diharapkan negara-negara industri maju dan kaya justru berasal dari belahan dunia islam. Begitu pula dari segi kekuatan militer, diharapkan khilafah islamiyah yang kelak menjadi negara adikuasa menggantikan posisi Amerika.

C. Teknologi Sebagai Media Dakwah Masa Kini

Kini, mercusuar peradaban Islam yang tinggi dan agung itu telah meredup, dunia kembali diselimuti kegelapan. Barat telah mencoba menggantikan peran Islam sebagai mercusuar dunia, tetapi kenyataanya justru menyebarkan virus yang membahayakan kehidupan, ketidakadilan, ketimpangan sosial dan ekonomi, kerusakan ekologi dan sumber daya alam, serta yang lebih penting lagi adalah kerusakan moral dan pemerataan kemaksiatan. Paham materialisme menjadi visi mereka tidak lebih dari sekadar pemuasan diri secara materi. Mereka menjadikan nafsu sebagai alat, motivasi, energi, sekaligus tujuan. Peradaban Barat yang dipaksakan baik secara halus maupun kasar melalui berbagai cara itu telah banyak menelan korban. Demi kepentingan ”ekonomi belaka” yang dibungkus dengan kemasan hak asasi manusia, satu per satu manusia diluluhlantakkan dan tidak perduli berapa juta nyawa yang menjadi korban eksploitasi ekonomi. Rakyatnya diadu domba, kekayaannya dirampok, penduduknya dibodohkan dan dimiskinkan. Imprealisme yang mereka lakukan justru pada abad yang mengagung-agungkan hak asasi manusia[8]. Melalui sarana komunikasi dan informasi, majalah, televisi, dan internet tiap hari masyarakat muslim dicekoki pemikiran dan gaya hidup masyarakat Barat yang permisif (bebas nilai).

Dua ratus tahun belakang ini laju perkembangan ilmu pengetahuan dapat dikatakan tercepat dan terdahsyat dalam sejarah peradaban manusia. Perkembangan ini memiliki akar sejarah cukup panjang sejak Thales (700 tahun SM) melontarkan pikiran-pikiran SAINS-nya yang sistematik. Pada masa ini diletakkan dasar-dasar berbagai cabang ilmu pengetahuan, dari logika sampai gramatika, dari astronomi sampai fisika[9]. Akhirnya, umat muslimin melanjutkan tradisi ilmiah peradaban Helenisme, dengan perkembangan-perkembangan yang spektakuler menurut kekuatan zamannya. Itulah sebabnya Islam sangat menekankan pentingnya ilmu pendidikan bahkan wahyu yang pertama kali diturunkan langsung memerintahkan umat Islam untuk Iqra (membaca). Hanya dengan cara itu manusia secara bertahap akan menjadi masyarakat yang beradab dan berbudaya.

Kita memasuki abad ke-21 hanya dalam bilangan jari tangan, begitu cepatnya putaran bumi hampir-hampir kita tidak merasakan itu. Seperti dibayangkan oleh John Naisbitt dalam bukunya Mega Trend Asia bahwa akan terjadi perubahan besar di kawasan Asia Tenggara, di mana Asia Tenggara merupakan bagian dari padanya globalisasi dan akan mencapai puncaknya pada saat ini, dan menuntut kita agar meningkatkan sumber daya manusia dalam semua aspeknya, maka secara detail umat Islam tidak boleh ketinggalan dengan perkembangan yang terjadi di masa modern ini. Kita menyadari bahwa abad sekarang adalah abad teknologi dan informasi, Al-Qur’an dan sunnah mengajarkan kepada setiap muslim untuk menguasai ilmu termasuk dalam mempelajari teknologi agar kaum mereka mampu berdiri di depan dalam perlombaan ilmu teknologi. Misalnya televisi merupakan media informasi sekaligus media hiburan yang dapat kita jumpai di mana-mana sehingga dakwah multimedia merupakan terobosan baru untuk dapat melakukan aktivitas dakwah. Televisi merupakan media audiovisual yang juga sering disebut media pandang dengar. Ustad Arifin Ilham merupakan salah satu dari sekian banyak muballigh yang mampu menerobos dunia perfilman dalam menyampaikan misi dakwahnya. Alangkah indahnya jika setiap film-film yang ditayangkan itu membawa nilai dakwah. Begitu juga membuka acara dialog interaktif agama Islam di media elektronik merupakan bentuk dakwah yang cukup memiliki nilai keterbukaaan, sebagaimana setiap acara yang dilakukan oleh para muballigh kita di setiap acara buka puasa atau acara santap sahur pada setiap bulan Ramadhan.

Proses dakwah di media celluler juga merupakan media informasi yang cukup canggih dan trend di zaman sekarang. Hal ini dapat dilihat dari begitu banyaknya pemakaian celluler, mulai dari pengusaha sampai yang bukan pengusaha, bahkan seperti yang kita ketahui para pekerja yang dilihat kekurangan dalam taraf hidupnya, pelajar yang belum memiliki penghasilan dan pengangguran pun telah dapat menggunakan celluler, bahkan rata-rata telah memilikinya. Maka alangkah baik celluler dimanfaatkan sebagai media dakwah, yaitu dengan cara memanfaatkan fasilitas Multimmedia Messaging Service (MMS) sebagai media untuk mengirim pesan-pesan normatif. Dengan ber-SMS kita dapat berdakwah dengan biaya yang murah. Begitu juga dengan pelatihan Leadership Training mulai menggunakan LCD, OHP, dan beberapa alat canggih lainnya, dan itu sangat besar manfaatnya dalam kehidupan kita. Namun, kesemuanya itu hanya merupakan faktor-faktor ikutan yang otomatis akan terjadi jika umat Islam beriman dan bertaqwa dengan cara menegakan hukum-hukum Allah. Sebaliknya, keterpurukan dan penderitaan akan muncul jika kita memertuhankan benda-benda tesdebut[10]. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, dalam hal ini tidak pernah mencela dan menghambat umatnya untuk mempertinggi budaya dan kemampuan mereka. Hanya saja dalam mengejar kebahagiaan dunia jangan sampai melalaikan kehidupan akhirat dan mengingatkan kita agar tidk menjadi hamba materi sehingga mengakibatkan umat Islam terperosok terbawa dengan segala tipu daya barat yang mencengangkan. Kita telah mengetahui perkembangan teknologi dari negara barat dan itu merupakan peluang yang tidak dapat kita manfatkan untuk menyiarkan Islam secara modern atau memanfaatkan informasi teknologi yang berkembang pesat saat ini adalah hal yang wajar-wajar saja.

Abdus Salam, seorang fisikawan muslim yang meraih hadiah nobel pada tahun 1979 mengemukakan tafakur al bereflaksi, berpikir tentang menemukan hukum-hukum alam (sains); taskhir adalah memeperoleh penguasaan atas alam (teknologi), jelaslah bahwa al-Qur’an dengan penatah yang berulang kali, mengandung sunah untuk bertafakur dan bertaskhir atau (mengejar sains dan teknologi)[11]. Inilah yang menjadi peluang terbesar umat Islam, dengan berkembang pesatnya teknologi masa kini maka akan semakin besar pula peluang dakwah kita untuk umat. Mengapa? Karena, dengan begitu akan terlihat keagungan Allah yang Maha Dashyat dan semakin tinggi pula tingkat keimanan kita di sisi-Nya. Bagaimana kita bisa membangun peradaban Islam pada masa kini, apabila kelengahan dan kemalasan masih menyelimuti kaum muslimin, begitu banyak contoh teladan yang ada dalam diri Rasulullah, tak heran ketika itu pernah dikatakan Aisyah ra. bahwa Rasulullah adalah al-Qur’an yang berjalan karena setiap gerak gerik beliau mencerminkan al-Qur’an, sehingga pada masa itu beliau berhasil membangun peradaban jahiliyah menjadi peradaban Islam yang luas.

D. Perbandingan Dakwah pada Masa Rasulullah Saw dan Masa Kini

Beberapa perbandingan dakwah yang diterapkan pada masa Rasulullah dan masa kini yang dilihat dari segi transportasi, tempat, metode dakwah, maupun dalam bidang ekonomi, dan politik yaitu:

1. Tranportasi

Dari segi transportasi tidak ada satupun teknologi canggih yang membantu Beliau dalam menyiarkan dakwah, unta merupakan salah satu alat transportasi yang biasa digunakan dalam kegiatan sehari-hari, dan juga membantu dalam penyebaran dakwah. Namun, dalam berdakwah sahabat tidak selalu menggunakan unta, karena ada pula yang berjalan kaki. Alhasil, semua dapat dicapai, karena dengan gigihnya Rasulullah dan sahabat menyuarakan kebenaran Islam, sehingga perlahan-lahan masyarakat Arab berbondong-bondong masuk Islam. Namun, pada masa skarang ini hampir setiap pagi kita bangun tidur mendengar berita penemuan-penemuan baru di berbagai bidang kehidupan, contohnya mobil. Dengan adanya alat transportasi ini maka akan mempermudah kita melakukan berbagai kegiatan khususnya dakwah. Namun, sangat disayangkan kecanggihan teknologi di masa modern ini membawa umat Islam terlena ke arah yang negatif, dalam arti lebih menghambakan materi. Akhirnya dakwah yang mereka jalankan tidak berjalan secara efektif dan efisien.

2. Tempat (Bangunan dan Jarak)

Di masa Rasulullah, Madinah dijadikan sebagai model atau prototipe masyarakat berperadaban Islam, dan Mesjid Nabawi sebagai pusatnya. Lewat mesjid beliau membangun kultur masyarakat baru dan selalu mendorong pengikutnya untuk maju, meningkatkan kehidupan mereka dan mengeluarkan kehidupan dari kegelapan kepada cahaya, mengubah sifat yang keras dan bodoh menjadi berdisiplin dan beradab. Rasulullah sering mengunjungi para sahabatnya dari rumah ke rumah untuk menyampaikan Risalah Beliau dalam bentuk halaqah-halaqah atau kelompok-kelompok kecil. Jarak yang selalu ditempuh Rasulullah mana kala berdakwah letaknya lebih jauh dibandingkan dengan kita yang berdakwah pada saat ini, begitu pula tempat yang kita gunakan lebih memprioritaskan pada fasilitas-fasilitas modern sehingga sudah tidak menggunakan mesjid sebagai tempat pendidikan dalam berdakwah.

3. Metode Dakwah

Komunikasi merupakan sala satu metode dakwah yang Rasulullah terapkan kepada para para sahabatnya, tanpa komunikasi tidak akan mampu berjalan menuju target-target yang diinginkan, demikian komunikasi tanpa dakwah akan kehilangan nilai-nilai Ilahi dalam kehidupan. Maka dari sekian banyak definisi dakwah ada satu definisi yang menyatakan, bahwa dakwah adalah proses komunikasi efektif dan kontinu, bersifat umum dan rasional, dengan menggunakan cara-cara ilmiah dan sarana yang efisien. Definisi tersebut menyiratkan peran dakwah dalam berkomunikasi dengan orang banyak melalui media-media tertentu yaitu dengan cara meyampaikan Islam kepada masyarakat adalah salah satu media komunikasi dakwah yang digunakan Rasulullah saw dengan pesan berantai ’…Maka hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir” (al-hdis) karena Rasulullah saw dalam pesan-pesan strategi dakwahnya selalu memberikan arahan-arahan yang komunikatif, bukan sekedar menyampaikan pesan tanpa perhatian kepada sistem yang efektif dalam mengkomunikasikannya. Adapun metode dan media-media pendukung yang dapat kita cermati atara lain: (1) Dakwah dengan pendekatan psikososial, sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Rasulluah saw sangat memperhatikan tempo-tempo dalam memberikan nasehat, karena khawatir terjadi kejenuhan, karenanya pula Rasullulah saw seringkali memberikan ilustrasi untuk memahamkan hal-hal teoritis yang abstrak kepada para pengikutya; (2) Dakwah dengan pola-pola yang memberikan kemudahan bukan menyulitkan, pola yang memberikan kemudahan dalam dakwah ini merupakan prinsip dasar dalam berdakwah, berdakwah lemah lembut dan santun tidak beralih kepada tindakan keras kecuali dalam keadaan darurat, sebagaimana yang dijelaskan dalam sirah nabi dan ditegaskan oleh para ulama (DR. Fadhl lahi, Mura’at Ahwal al-Mukhathabin,h. 179-180, cet. 1 th.1417 H/1996, Maktabah Malik Fahd Riyad KS). Konkretnya saat ini, menyampaikan kebenaran Islam harus berpusat pada bagaimana agar pesan-pesan itu dapat diterima dengan baik dan dapat diaplikasikan dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dakwah dapat berperan aktif dalam perubahan sikap dan perilaku. Untuk mencapai tujuan tersebut, peran komunikasi dakwah sejogyanya dilakukan seefektif mungkin.

4. Ekonomi

Sistem perdagangan yang diterapkan oleh Rasulullah sangat mulia, artinya segala sesuatu yang beliau lakukan tidak semata-mata untuk memperoleh keuntungan, akan tetapi beliau melatih kesabaran dan kejujurannya. Dengan kesabaran dan kejujurannnya maka Sitti Khadijah memilih Rasullullah sebagai tangan kanannya dan pada`akhirnya dijadikan suami. Sitti Khadijah memercayakan seluruh harta kekayaannya untuk Rasulullah dan harta tersebut dijadikan Rasulullah sebagai sarana untuk berdakwah. Sekarang, kita sudah jauh dari nilai-nilai tersebut, dalam bidang ekonomi misalnya sifat sabar dan jujur sudah tidak kita miliki karena orang-orang pada dasarnya hanya mencari materi dan tidak melihat faedahnya. Kita sangat menyadari kemajuan teknologi yang berasal dari dunia Barat (Uni-Eropa, Amerika Utara plus Jepang), sebaliknya negara-negara miskin dan terkebelakang justru berada di dunia Islam. Begitu juga yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi canggih, termasuk mesin-mesin adalah negara Barat. Sedangkan, negara-negara Islam hanya menjadi konsumennya, bahkan tanpa sadar telah menjadi ”kelinci percobaan”, sebagaimana yang terjadi di Irak dan Afghanistan. Dalam sosial budaya kondisinya tidak kalah menyedihkan.

5. Politik

Rasullah telah menggambarkan kepada kita dengan siyasi atau politik dalam Islam karena islam sendiri tidak melarang hal ini, yaitu di mana waktu terjadinya perdebatan antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin untuk meletakan Hajar Aswad untuk menyeimbangkan Ka’bah. Dan, akhirnya Rasulullah berhasil mendamaikan kedua kaum tersebut, yaitu dengan cara mengambil sehelai kain untuk meletakan batu secara bersamaan dari kedua belah pihak. Pada saat itu dakwah yang dibawa oleh Rasullah masih bersifat sembunyi-sembunyi sehingga jangkauannya kurang meluas, oleh karena itu dakwah yang disebarkan pada masa Rasulullah melalui sistem dagang membuat Islam dapat berkembang sampai pada saat ini dan itulah politik yang digunakan Rasulullah. Pada zaman sekarang politik sudah berkembang, baik di negara maju maupun negara yang kurang maju, akan tetapi politik yang dijalankan sudah tidak berlandaskan dengan unsur-unsur dakwah melainkan untuk kepentingan pribadi dan memprioritaskan sistem persaingan.

Sehingga dengan melihat hal tersebut ada yang merasa risau melihat kondisi keterpurukan umat Islam. Namun, ada hal lain yang lebih membuat mereka risau dan sedih, yakni melihat kondisi mayoritas kaum muslimin yang dicekoki oleh pemikiran-pemikiran Barat yang cenderung menjerumuskan mereka ke hal yang negatif. Pada hal di masa Rasulullah menyebarkan Islam begitu banyak halangan dan rintangan yang dilalui, tapi dengan semangat yang bergelora mampu mendobrak peradaban Jahiliyah yang begitu bobrok, tapi tidak mengurangi sedikit semangat Beliau untuk berdakwah. Alhasil, Beliau berhasil membawa Islam sampai pada masa sekarang ini. Dan, kini kita telah ditinggalkan Nabi Muhammad selama 15 abad yang lalu dan masih merasakan manis nikmatnya iman dan Islam itu. Perkembangan zaman dengan teknologi canggih menyelimuti bumi, tapi malah kita yang menjadi lengah, seolah-olah tidak memperdulikan lagi landasan-landasan pokok yang ditinggalkan Rasulullah, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Apa sebenarnya yang membuat ini terjadi? Mungkinkah telah hilangnya nilai-nlai yang harus diteladani dari diri Rasulullah, yaitu akhlak. Kesemuanya ini tidak akan tercapai apabila kita tidak kembali ke landasan pokok itu (Al-Qur’an dan Sunnah).

Kini, dunia Barat telah tenggelam dan hanyut dalam amukan gelombang modernisasi, sebab mereka tidak hidup bersama Allah SWT, kejayaan materi dan kelengkapan sarana kehidupan yang mereka miliki, (cenderung) menjadi beban dan mendatangkan masalah baru bagi mereka, akhirnya dengan IT (Informasi Teknologi) yang berkembang pada masa sekarang ini menjadi sasaran utama oleh kaum muslimin untuk meraih peluang, yaitu maju bersama dan membangun peradaban Islam dengan cara yang jitu, artinya mereka tetap mengikuti kaidah-kaidah pokok (Al-Qur’an dan sunah) dalam konteks IT . Hal ini merupakan unsur terpenting yang membedakan umat Islam dari umat-umat lain apabila masyarakat muslim sendiri bisa mengaplikasikan nilai-nilai luhur dari Rasulullah dan maju pada era modernisasi sebagai perubahan bagi peradaban Islam, sehingga dari sini kita melihat, keserasian, keharmonisan, dan revelansi antara fikir (ide), harakah (gerakan,), manhaj (metode), dan tanzim (organisasi) untuk menjadikan umat islam, umat terbaik yang di lahirkan umtuk manusia. Kelengkapan Al-Qur’an Nurkarim adalah menjelaskan pokok-pokok segala sesuatu dan fungsinya untuk menuntut manusia yang aman. Inilah yang di maksud sebagai rahmat kebahagiaan dan keberuntungan bagi kaum muslimin, maka dengan demikian hidup manusia tidak dapat tegak lurus dan tidak akan membuahkan hasil yang baik kecuali jika bertumpuk pada asas tertentu yang menjadi fundamennya, dan di antara asas-asas terpenting yang akan menjadi pilar untuk membangun peradaban Islam masa kini, yaitu adanya:

- Asas akhlak

- Asas kemasyarakatan

- Asas politik

- Asas perekonomian

- Amar ma’ruf nahi munkar

- Jihad Fisabilillah untuk menjunjung tinggi kalimat (Din) Allah[12].

Inilah beberapa rangkaian asas yang terpenting yang harus dimiliki oleh setiap mukmin, untuk perkembangan peradaban Islam di masa kini yang disinkronkan dengan teknologi informatika (IT) yang dikembangkan oleh kaum Barat. Maka, Islam akan lebih maju dengan menanamkan nilai-nilai luhur pada setiap individu, yaitu bercermin pada sifat-sifat Allah SWT. dan mengamalkan perbuatan yang bersandarkan akhlakul karimah. Jangan hanya mengejar perkembangan zaman semata, yaitu dengan meningkatnya teknologi masa kini dan akhirnya kita mulai meninggalkan ajaran-ajaran Rsulullah, maka ini pun dapat berdampak negatif bagi umat Islam. Sehingga kemungkinan menimbulkan letupan-letupan atau ledakan-ledakan, baik berbentuk kedzhaliman, kemungkaran, kefasikan, bahkan sampai terlantarnya umat Islam itu sendiri. Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi sekutu Allah mempunyai tugas dan fungsi yang sangat besar sekurang-kurangnya sebagai kuda penarik. Islam mampu memberikan lokomotif ganda bagi setiap umat yang diseru[13]. Demikianlah sunatullahnya sebagaimana Allah firmankan dalam surah al-A’raf ayat 96.

E. Kesimpulan

Jika diumpakan sebuah pohon, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemegahan bangunan-bangunan peninggalan abad lalu adalah buah dari satu pohon yang bernama peradaban Islam. Pohon atau batangnya adalah syari’ah dan akhlak yang dibangun sejak periode Madinah. Sedangkan, akarnya adalah nilai-nilai akidah yang telah dihujamkan ke hati sanubari para sahabat Rasulullah semenjak periode Mekah. Tanpa ditunjang akar yang kuat, batang pohon akan gampang tumbang ditiup angin, sehingga tidak dapat menghasilkan buah. Ilmuan-ilmuan muslim terkemuka pada abad pertenghan seperti Ibn. Sina, Ibn. Rusyid, Ibn. Khaldun, Al Khawarijmi, Al Ghazali dan Al Biruni, prestasi keilmuannya begitu gemilang. Namun, kegemilangannya itu bukan semata-semata disebabkan kejeniusan dan kedalaman ilmunya melainkan juga karena keshalihan mereka dan tempaan ajaran Islam yang antara lain mewajibkan mendorong umatnya mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan ”menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim dan muslimah” begitu sabda Rasulullah SAW, begitu pula firman Allah dalam surah Al-Mujadillah ”… niscaya Allah akan meninggikan di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” Alhasil untuk meretas kebangkitan umat Islam dan mewujudkan kembali nilai-nilai Islam yang unggul tidak ada cara yang dapat kita lakukan kecuali menapaktilasi langgkah-langkah Rasulullah menanamkan iman dan taqwa dalam dada para sahabatnya sejak periode Mekah hingga periode Madinah, sehingga mereka berubah dari masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat muslim, dari masyarakat biadab menjadi masyarakat beradab, dari masyarakat hina menjadi masyarakat mulia.

Proses transformasi dari masyarakat biadab menjadi masyarakat beradab ini direkam oleh Umar bin Khatab melalui pernyataannya ”dahulu kita adalah bangsa yang terendah lalu Allah memuliakan kita dengan Islam. Karena itu, manakala kita mencari kemuliaan dengan selainnya, niscaya Allah akan merendahkan kita kembali” pembagiaan fase dalam menapaktilaki langkah dakwah Rasulullah pada masa kini hanya untuk memberikan penekanan saja. Artinya, bila suatu periode dakwah ditetapkan sebagai ”fase Mekah”, maka pada saat itu semua ajaran Islam, baik akidah, akhlak, maupun syariah harus dilaksanakan secara simultan.begitu pula pada saat periode dakwah memasuki ”fase Madinah”, yang menjadi prioritas penegakan syariah, yaitu dengan terus melakukan pembinaan akidah dan akhlak. Soarang muslim adalah orang yang berkualitas. Umat Islam adalah umat yang berkualitas, karena Islam mengandung konsep-konsep hidup yang menggiring umatnya menjadai umat yang maju dalam segala hal,islam memberi dorongan yang kuat untuk menutut ilmu ,membangun hidup, dan meraih kesuksesan. Islam mengajarkan pada umatnya agar hidup serius, gigih dan bekerja keras, tidak bermalas-malasan. Di dalam surat Al-Jumuah, Allah memerintahkan agar orang-orang yang telah selasai melaksanakan sholat jumat, agar menyebar mencari rezeki Allah. Pegawai kembali ke kantornya, pedagang kembali ke tokonya, dan petani kembali ke sawahnya. Peningkatan kualitas al-ihsan senantiasa menjadi obsesi setiap muslim, sebab kualitas orang sering menjadi ”penerjemah” akidahnya[14]. Sehingga apabila setiap muslim sudah menanamkan sifat seperti itu tidak menutup kemungkinan perkembangan umat Islam di masa modern ini akan mulai berkembang menggunakan berbagai media elektronik untuk sarana dakwah dan selalu mencontoh sikap mulia Rasullah SAW sebagai hamba yang mulia dan sempurna. Maka, kini saatnya umat Islam bangkit untuk membangun kembali peradaban Islam ala Rasulullah sebagai mercusuar peradaban dunia, sebelum dunia benar-benar runtuh dan dihancurkan oleh sang Penguasa Pemilik tungalnya, Allah SWT. Cara sederhana menghidupkan kembali cahaya Islam ialah dengan menghidupkan kembali tradisi dakwah Rasulullah dengan tetap melihat segala sesuatu secara kontekstual. Semangat dakwah Rasulullah harus senantiasa dihidupkan dalam strategi dakwah masa kini.



[1] Dr. Rasyid Daud, M.A. Islam dalam Berbagai Dimensi, (cet.1, Jakarta: Gema Insani Press, 1998), hlm.27

[2] Dr. Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam (Kairo: Matba’ah Isa al-Bab l-Halabi), hlm.72

[3] Gustaf Leboun, Hadharad al’Arab (Kairo: Marba’ah ‘Isa al-Babi al-Halabi), hlm.72

[4] Hidayatullah, Januari 2007/Djulhijah 1427 H, hlm. 25

[5] Alwi alatas, SS (Tatsif. Edisi 15 Th. II/ Rabiu’ul Akhir 1427 H/Mei-juni 2006.Hal.15-16

[6] Philip k.Hitty, History of the Arabic,the Macmillan Press.London 1974.Hlm 717

[7] Ainur Rahim Munthoha.Pemikiran dan peradaban islam, (.Cet 1, yogyakarta: UII Press, 1998), Hlm 83-85

[8] Dr. K.H Didin Hafidhudin, M.Sc, Dakwah Aktual, (cet.1, Jakarta: Gema Insani Press), hlm.31

[9] Ibid, hlm.24

[10] Muhammad Arifin, S.Ag, M.Ag., Dakwah Multimedia (cet.1, Surabaya: Graha Ilmu Mulia), hlm.77-83

[11] Drs. Rasyid Daud, M.A, Islam di Berbagai Dimensi, (cet.1, Jakarta: Gema Insani Press, 1998), hlm. 24

[12] Prof. Dr. Ali Abdulahakim Mahmud, Karakteristik Umat Terbaik, (cet.1, Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hlm.94

[13] Amrulah Acmad. Dakwah Islam dan Perubahan Sosia, (cet.1, PLP2M. Januari 1983

[14] Dr.Rasyid Daud MA.islam berbagai dimensi. Cet 1.Gema insani press. Jakarta 1998. hlm 65

Komentar
  1. emil furoidah mengatakan:

    kurang dilengkapi adanya pemaparan masa lalu ketika kejayaan bani Abbasiyah terjadi

  2. naila mengatakan:

    aslmkm……………..ukhti anita kaef halk? aq sngt kagum dngn tlsnmu d atas.slm knal dr q.akhwat min mlg

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s