Arsip untuk September, 2008

My Beloved Hometown

Posted: 11 September , 2008 in Karya Tulis Ilmiah

mndMANADO MONUMEN PLURALISME BERAGAMA

DI INDONESIA

Oleh : Anita Deka*

Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan termasuk didalamnya perkembangan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan, yang begitu pesat secara relative memperdekat jarak dan budaya antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Hal demikian pada gilirannya, juga mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kesadaran manusia tentang apa yang disebut fenomena “ Agama”.

Pada penghujung abad ke-19, lebih-lebih pada pertengaan abad ke-20, terjadi pergeseran paradigma pemahaman tentang “agama” dari yang dulu terbatas pada “ idealitas “ kearah “historitas” dari yang hanya berkisar pada doktren kea rah etnitas “ sosiologis “ dari diskursus “ esensi” ke arah “eksistensi”.[1]

Dalam pergaulan dunia yang semakin terbuka, orang tidak dapat dipersalahkan untuk melihat fenomena-fenomen “agama” secara aspectual, dimensional danbahkan multidimensional approaches. Selain agama memang mempuyai doktren teologis-normatif, dan memang disitulahletak “ hard core” dan padakeberagaman manusia, orang dapat pula melihatnya sebagai “tradisi”, sehingga berkembangnya paham-paham agama dewasa ini telah menjadi kenyataan hidup manusia, suka atau tidak suka terhadap pluralisme yang sudah menjadi bagian yang mestakung (semesta mendukung ) dibawah kolong langit. Namun pluralisme agama menghdapkan kita pada tantangan iman, bagaimana mendefinisikan iman kita ditengah keragaman iman yang lain.

Dalam plurlisme agamatidak digerakan untuk menuju kehidupan yangdisharmonis pertikaian ataupun perkelahian fisik antara agama. Di Sulawesi Utara khususnya Kota Manado yang penulis tempati merupakan daerah yang multikultural dimana beragam agama, suku, dan budayayang telah menjadi realita dikota Manado, meski dengan perbedan-perbedaan agama yang sering ditemui tidak menjadi penghambat mereka untuk melakukan aktifitas, interaksipun tetap bejalan, dimana telah menjadi kebiasaan yang agak umum bahwa semua golongan beragama melakukan kerjasama dalam pembangunan mesjid, gereja atau dalam pembangunan gedung sekolah swasta, dengan suasana ramai dan spontan kerjasama itu membuktikan hubungan antara umat beragama didaerah ini cukup potensial dan tidak dilakukan secara terpaksa oleh komunitas dari agama yang berbeda.

Keharmonisan yang terbangun antara umatberagama disulawesi utara khususnya Manado membuat penulis ingin menelaah lebih jauh lagi, karena kalau berbicara konflik seharusnya Manado sendiri berpotensi konflik, karena dari segi multikultualnya akan banyak perbedaan-perbedaan pendapat yang akan bermunculan, ataukah dikarenkan Manado plural dari segi etnis, dan apakah karena dibantu oleh badan kerja sama antar umat beragama (BKSAUA) sehingga sampai sekarang semboyan dari mantan gubernur sulawesi utara E.E. Mangindaan “ Torang Samua Basudara”[2] masih tertanam dihati masyarakat kota Manado.

Analisis ini merupakan ekses positif terhadap realita yang sedang terjadi di kalangan kota Manado, sehingga sampai sekarang apakah pantas kota Manado disebut sebagai monumen pluralisme beragama di Indonesia,dengan melihat latar realita diatas penulis rasa penting untuk dibahas.


A.)Letak Geografi Kota Manado

Kota Manado[3] diperkirakan sudah didiami manusia sejak abad XIV dan nanti pada abad XVII ( 1623 M ). Menurut perkembangan sejarah nasional Indonesia, Manado telah dikenal sejak abad ke- 16. Pada abad ini, Manado bahkan telah dikenal oleh orang-orang Barat ( Eropa ) karena hasil buminya. Hal ini sebagimana termuat dalam dokumen Negara Bab VII, tentang kesan-kesan histories Manado – Minahasa pada tahun 1623.[4]

Kemudian, berdasarkan beslit GubernurJenderal Hindia Belanda maka terhitung mulai tanggal 1 juli 1919, gewets Manado ditetapkan sebagai staats gerneente yang kemudian dilengkapi dengan alat-alat yakni dewan germeente atau gemeente raad yang diketuai oleh walikota ( Burgemeeste ).[5] (lebih…)