Generasi Rabbani ^_^

Posted: 24 Maret , 2015 in Cerpen

mengajiMendung tipis masih bergelayut di langit sore sudut barat desa. Ramai suara anak kecil mengaji. Berdegam bagai senandung penyejuk hati di rumah mertua tiap sore.

Di dalam ruang ini, sesekali mereka bercengkrama sesama teman. Merasa seperti tak punya beban. Yaa.. begitulah anak-anak.

Di ruangan belakang sudut rumah. Setiap sore mereka berkumpul untuk mengaji, menghafal surah, praktek sholat dan menghafal Asmaul Husna. Kadang berpindah di ruangan tengah, jika ruangan belakang difungsikan.

Ketika jarum jam telah menunjukkan angka setengah empat, saat itu lah kegiatan mengaji segera dimulai. Sekitar belasan anak kecil dengan balutan busana muslim, telah siap duduk lesehan sambil berdesakan.

“Aku duluan!” seru seorang santri

“Ah,,, aku! aku yang duluan datang,” balas santri lain yang merasa on time.

“Aku duluan! aku duluan!” seru Syifa dengan semangat, sambil menyodorkan Iqronya.

Akhirnya semua mengalah.

Mereka saling berdesakan hingga nampak hangatnya keakraban satu dengan yang lainnya.

Walau dengan peralatan mengaji ala kadarnya. Semangat dari anak-anak kecil ini tak pernah surut untuk menuntut ilmu agama.

Di tengah era modernisasi, ketika hedonisme telah menjadi salah satu warna dalam masyarakat. Maka, menanamkan budi pekerti akhlak mulia serta pemahaman ilmu agama sedari kecil, teramat penting. Ibu mertua turut ambil bagian.

Melihat ibu sibuk mengajari anak-anak. Aku tak ingin tinggal diam. Sesekali menyempatkan waktu untuk ikut andil.

Suasana sore yang mendung bercampur gerimis. Anak-anak ini sudah ada di rumah. Semoga kelak, kalian bisa menjadi generasi-genrasi rabbani itu :)

“Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu pemuda dapat mengubah dunia,” ungkapan Bung Karno ini yang selalu kuingat.

Menari di bawah temaram bulan sabit

Posted: 6 Februari , 2015 in Cerpen

vlcsnap-2013-04-16-02h59m03s6“Ummi.. ummi, tuh.. tuh, ada bulan!” jari-jemarinya yang mungil menunjuk-nunjuk bulan sabit dari balik pintu, yang sedari tadi bersembunyi di antara pepohonan.

Kakiku melangkah gontai ke depan pintu,mendekati bocah yang umurnya tak lama lagi menginjak 3 tahun itu.

“Wah indahnya. Eh, coba Syifa lihat! ada bintang juga, tuh!” Sahutku.

Senyumnya mengembang bak bulan sabit dengan mata menyipit melihatku. Bocah manis itu melompat-lompat kegirangan, lalu bergegas memakai sandal. Mbak Jannah, Mas Ikhsan dan Mbak Nurul yang asyik bermain dalam rumah, sekejap menyambar sendal di depan pintu. Mereka berlari berhamburan di halaman rumah. Menari-nari di bawah temaram bulan sabit.Sesekali berteriak riang.

Aku hanya terduduk di antara anak tangga teras rumah, menyaksikan keriangan mereka malam itu.

Mataku menerawang, seperti melihat diriku sendiri. 17 tahun silam bersama alm. Abah. Dia tak pernah melarangku.

Setelah puas melihat alam raya di malam hari. Tertawa lepas. Mereka bergegas masuk rumah.

“Da.. dah.. bulan, Syifa masuk dulu, ya,” kata Syifa kepada bulan, sambil melambaikan tangannya.

Kejutan Menjelang Senja ^_^

Posted: 6 Februari , 2015 in Cerpen

“Dik, ayo, ke belakang rumah! ada yang ingin Kakak perlihatkan.”

“Perlihatkan, apa?”

“Ayo, cepat! pakai jilbabnya! nanti keburu malam.”

Segera kusambar jilbab di atas ranjang.

“Ada apa sih, Kak?” tanyaku lagi, semakin penasaran.

“Nanti Adik lihat sendiri,” jawab Abi, sambil  berjalan ke samping rumah mengambil sepeda motor dan segera menghidupkannya.

“Hmmm…”

Sepeda motor melaju, melintasi gang sempit menuju kebun belakang. Sesekali melewati kubangan lumpur. Badanku melompat-lompat di atas motor.

“Jalan di sini rusak,” desisku.

“Iya.”

“Mau ke manakah?”

“Nggak lama lagi sampai, nanti Adik lihat sendiri.”

Beberapa menit kemudian.

Perlahan, rumput yang kurindukan itu makin jelas di pelupuk mata. Melambai-lambai oleh tarian angin. Bagai hamparan kapas putih yang bergoyang dan sesekali kapas-kapas itu berterbangan menari-nari di udara.

Terkesima.

Ilalang itu seperti melambaikan salam sunyi kepadaku.

“Nah! ini yang ingin Kakak perlihatkan. Adik pernah bilang ingin lihat ilalang,” kata lelaki sederhana itu dengan mantap dan segera memarkirkan motornya.

Bahagia tak terkira.

“Semak ilalang nan indaah. Aaakh….” aku memekik senang. Hamparan ilalang yang luas bernuansa putih, kini berada di depanku.

Aku menerawang. Ingatanku tertujuh pada wajah yang selalu kurindukan dan kudoa’akan.

Alm. Ayah dan masa kecil.

Senyumku kembali mengembang dengan mata berkaca-kaca. Haru.

Masih tak menyangka di belakang rumah Abi ada pemandangan seindah ini.

Aku menikmati senjaku yang diiringi alanunan sunyi bersama tarian angin yang disajikan semesta.

Bahagia itu sederhana. Batinku.

“Terima kasih, kejutannya.
Aku akan sering ke sini,” ucapku pelan, sambil menatapnya dan melemparkan senyum bahagia.

10923630_10205789608120754_7891751821494706128_n

Originally posted on Jia Effendie:

janice hardy, seorang novelis amerika, menulis ini untuk romanceuniversity.org. saya mencoba menerjemahkannya untuk teman-teman :)

Image

emosi penting untuk membuat karakter terasa nyata. namun, mendeskripsikan mereka dari kejauhan terkadang membuat pembaca merasa “terputus” dari karakter tersebut. deskripsinya tidak terasa seperti perasaan karakter, tetapi seperti penulis memberi tahu pembaca bagaimana perasaan si karakter.

jika kita menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu, mungkin tidak akan terlalu terasa. namun, bagaimana jika kita menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas atau sudut pandang orang pertama? kita bisa saja kehilangan hubungan emosi dengan pembaca.

contoh:

“aku menyeka keringat dari alisku dengan tangan gemetar, sisa ketakutan dari pengalaman-hampir-mati-barusan mengalir lewat pembuluh darahku.”

apakah kamu merasakan ketakutannya? barangkali tidak, karena si tokohnya pun sepertinya tidak merasakannya. orang-orang yang sedang ketakutan tidak akan berpikir tentang apa yang mengalir di pembuluh darah mereka atau kenapa ia mengalir. mereka hanya merasakan dan bereaksi.

“dengan tubuh bergetar, aku beringsut ke bangku terdekat dan…

View original 567 more words

Little Netherland Part 2

Posted: 28 Juni , 2014 in Story

10370994_10203916785461358_3377739403516594472_nHampir memasuki tahun ketiga aku masih berada di kota ini. Kota yg dijuluki kota ATLAS atau Little Netherland julukan lain kota ini. Kota yang menjadi Kota persinggahan ketigaQu. Kota ATLAS memilki dua wilayah, yaitu kota dataran Tinggi dan dataran Rendah (baca:Kota atas/Kota bawah)

Kujuluki kota dataran rendah ini dengan sebutan “kota tergenang” (#istilahQuSendiri) karena sudah jelas berada di dataran rendah. Tergenang akibat Banjir rob yg sudah menjadi langganan  kota ini.

Aku menyukai Hujan, Sungai, laut dan semua yg mengingtkanku pada memory masa kecil saat bersama ayah, ibu dan kakak.

Ku ingin menikmati hujan dengan aromanya yang harum, aku ingin melihat sungai dengan airnya yg bening mengalir indah. Ku ingin melihat laut dengan ombaknya yang menawan yang semua itu membuatku takjub.

Tapi,,, ternyata tidak Kutemukan disini. Tidak!

Hujan yg kurindukan kadang menjadi ancaman tuk penduduk di kota ini yg menyisahkan bau lumpur yg menyengat. Sungai yg indah berubah menjadi tumpukan sampah yg mengapung & memberi aroma bau busuk. Laut yg sering Kurindukan membawa banjir rob tuk mereka begitupun aku.

Baca entri selengkapnya »

Surat Untuk Syifa

Posted: 14 Mei , 2014 in Story

istirahatAssalamualaikum,, Syifa, maaf ummi baru sempat menulis surat lagi  kepadamu. Semoga Syifa di sana bersama nenek selalu sehat, tambah pinter, dan selalu menjadi anak yang sholehah, aamiin :)

Syifa masih ingat saat kita berpisah? Ummi tau bahwa hari itu adalah hari yang teramat berat antara kita berdua FirdausQu. Sebelumnya ummi  pernah berjanji padamu bahwa kita tak kan terpisahkan lagi. Aku mengatakan padamu kita akan bersama selamanya dan tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi. Pukul 10.oo udara pagi berangsur siang mulai terasa panas. Aku menunggumu pulang sekolah. Sekolah tempatmu bermain Sekedar melihatmu tuk mengatakan “Ummi akan pegi lagi ke kota persinggahan ke tiga ummi” kata-kata ini aku tau akan begitu berat bila Qu ucapkan langsung padamu Nak. Tapi harus ummi lakukan

Meski hanya 2 bulan aku menemanimu bermain. Kita tertawa besama, bernyanyi, memasak, menjemur baju, menyapu, berenang, menemanimu naik pohon, mendengarkan kiacauan burung bersama dan menirukan suara burung, membiarkan wajah kita berdua terkena butiran-butiran air yang turun membasahi bumi saat itu, kau berlari-lari di halaman rumah nenek, yang kau panggil “Mama” dan aku kau panggil ummi. :) ” Ummi.. Ayo.. Ummi ayo kesana” seruhmu tuk mengajak aku bermain bersama.Kau begitu menyukai aroma hujan, membiarkan seluruh tubuhmu basah, dan aku tak akan memarahimu,kau tau itu. Karena ku tahu itu adalah hal yang amat menyengkan bagimu. Kau membangunkan aku saatQu tertidur karna kelelahan. Kau menarik bantalku, menarik tanganku, membangunkan aku tuk bermain bersamamu. Sering aku kabulkan permintaamu, namun sering juga aku tak menghiraukanmu karena saat itu aku benar-benar capek. MAAF KAN.. MAAF KAN AKU ANAKQU, MAAFKAN UMMI” Baca entri selengkapnya »