RANAH AFEKTIF YANG TERPINGGIRKAN

Posted: 25 Januari , 2018 in Artikel-artikel

Pendidikan itu BUKAN PERSIAPAN UNTUK HIDUP, karena PENDIDIKAN ADALAH KEHIDUPAN.. SEPANJANG HIDUP..

Hasil gambar untuk zebra cross

Berawal dari cerita Prof Sunandar tentang orang Jepang dan Zebra Cross yang saya dengar dalam sebuah sesi materi acara PEKERTI yang sedang saya ikuti, saya jadi tergelitik untuk mengetahui apakah memang peran aspek atau ranah Afektif dalam pendidikan Indonesia sedemikiannya terpinggirkan atau malah memang di pinggirkan?

Baiklah, mari kita mulai membaca cerita tentang orang Jepang dan Zebra Cross tersebut :

“Sekolah ‘KNOWING’ vs Sekolah ‘BEING'”

Cerita seorang teman :

Kantor kami, Perusahaan PMA dari Jepang, mendapat pimpinan baru

dari Perusahaan induknya.

Ia akan menggantikan Pimpinan  lama yang sudah waktunya kembali ke negaranya.

Sebagai partner, saya ditugaskan utk mendampinginya selama ia di Indonesia.

Saya memperkenalkan kepadanya  relasi, dan melihat objek wisata kota Jakarta dan Bandung .

Pada saat kami ingin menyeberang jalan, teman saya ini selalu berusaha utk mencari zebra cross.

Berbeda dgn saya dan org Jakarta yg lain, dgn mudah menyeberang di mana saja sesukanya.

Teman saya ini tetap tdk…

Lihat pos aslinya 1.161 kata lagi

Iklan

Semua bangsa memiliki mitos asal-usul untuk menjelaskan dari mana mereka berasal. Dalam mitologi suku Aborigin Tasmania, dewa bernama Moinee dikalahkan oleh dewa bernama Dromerdeener dalam pertempu…

Source: Mitos Asal-Usul, Penciptaan, dan Agama

Kalian Semua Adalah Juara

Posted: 22 Desember , 2015 in Artikel-artikel

image

Ketika apa yang kau inginkan belum tercapai, Tuhan sedang memberitahumu untuk berusaha lebih lagi! Tapi dibalik usaha keras yang telah kau lalukan itu, sesungguhnya bagiku kau telah meraih juara. 🙂

‎Besok itu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh siswa-siswaku. Saat-saat yang mendebarkan, saat dimana semua yang telah mereka perjuangkan akan mendapatkan hasilnya. Usaha yang telah mereka lakukan selama satu semester ini apakah akan sesuai dengan yang di inginkan atau tidak?

Inbox FB dan HP pun mulai dibanjiri dengan pertanyaan karena rasa penasaran mereka, “Bu’ aku juara berapa?”

“Bu’ nilaiku gimana?”

“Nanti lihat  besok saja yah, saat penerimaan rapor,” jawabku singkat.

Aku pun menerawang ke masa-masa SMA dulu. Tidak jauh beda dengan yang pernah kurasakan. Saat itu, mendekati penerimaan rapor semua rasa bercampur jadi satu. Pikiranku saat itu, kalau memang tidak meraih juara satu, hadiahpun raib. Keinginan menjadi nomor satu pun  pupus. Harga diri pun jatuh kalau kalau ternyata harus‎ mendapat juara dengan angka yang paling banyak.

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku merasa baik-baik saja, meski ada sedikit kekecewaan bahwa keinginan juara satu yang kuimpi-impikan gagal diperoleh. Dari kegagalan itu, aku kembali berkaca pada diri sendiri, bahwa memang aku belum begitu bersungguh-sungguh dalam belajar, belum bersungguh-sungguh berusaha. Jadi, tidak ada kata lain selain harus berlapang dada, meski lapang dada itu tidak mudah, namun akan semakin tidak mudah jika tidak berlapang dada. Kembali legowo menerima semua dengan ikhlas apa yang kuperoleh. Itulah hasil yang sesungguhnya.

Aku kembali sadar bahwa untuk menjadi yang terbaik, tidak harus menjadi nomor satu, yang terpenting telah berusaha semaksimal mungkin. Nilai-nilai tinggi itu bukanlah segala-galanya, yang terpenting kau masih bisa memberi kemanfaatan untuk semesta.

Jadi, jangan pernah merasa paling hina atau merasa paling bodoh, dan galau atau apalah-apalah jika memperoleh ranking paling banyak di kelas. Kita diciptakan dengan masing-masing kemampuan, dan tidak ada satupun mahkluk yang diciptkan di muka bumi ini sia-sia. Tetap semangat dan terus menebar manfaat.

Bagiku kalian semua adalah juara. 😉

Generasi Rabbani ^_^

Posted: 24 Maret , 2015 in Cerpen

mengajiMendung tipis masih bergelayut di langit sore sudut barat desa. Ramai suara anak kecil mengaji. Berdegam bagai senandung penyejuk hati di rumah mertua tiap sore.

Di dalam ruang ini, sesekali mereka bercengkrama sesama teman. Merasa seperti tak punya beban. Yaa.. begitulah anak-anak.

Di ruangan belakang sudut rumah. Setiap sore mereka berkumpul untuk mengaji, menghafal surah, praktek sholat dan menghafal Asmaul Husna. Kadang berpindah di ruangan tengah, jika ruangan belakang difungsikan.

Ketika jarum jam telah menunjukkan angka setengah empat, saat itu lah kegiatan mengaji segera dimulai. Sekitar belasan anak kecil dengan balutan busana muslim, telah siap duduk lesehan sambil berdesakan.

“Aku duluan!” seru seorang santri

“Ah,,, aku! aku yang duluan datang,” balas santri lain yang merasa on time.

“Aku duluan! aku duluan!” seru Syifa dengan semangat, sambil menyodorkan Iqronya.

Akhirnya semua mengalah.

Mereka saling berdesakan hingga nampak hangatnya keakraban satu dengan yang lainnya.

Walau dengan peralatan mengaji ala kadarnya. Semangat dari anak-anak kecil ini tak pernah surut untuk menuntut ilmu agama.

Di tengah era modernisasi, ketika hedonisme telah menjadi salah satu warna dalam masyarakat. Maka, menanamkan budi pekerti akhlak mulia serta pemahaman ilmu agama sedari kecil, teramat penting. Ibu mertua turut ambil bagian.

Melihat ibu sibuk mengajari anak-anak. Aku tak ingin tinggal diam. Sesekali menyempatkan waktu untuk ikut andil.

Suasana sore yang mendung bercampur gerimis. Anak-anak ini sudah ada di rumah. Semoga kelak, kalian bisa menjadi generasi-genrasi rabbani itu 🙂

“Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu pemuda dapat mengubah dunia,” ungkapan Bung Karno ini yang selalu kuingat.

Menari di bawah temaram bulan sabit

Posted: 6 Februari , 2015 in Cerpen

vlcsnap-2013-04-16-02h59m03s6“Ummi.. ummi, tuh.. tuh, ada bulan!” jari-jemarinya yang mungil menunjuk-nunjuk bulan sabit dari balik pintu, yang sedari tadi bersembunyi di antara pepohonan.

Kakiku melangkah gontai ke depan pintu,mendekati bocah yang umurnya tak lama lagi menginjak 3 tahun itu.

“Wah indahnya. Eh, coba Syifa lihat! ada bintang juga, tuh!” Sahutku.

Senyumnya mengembang bak bulan sabit dengan mata menyipit melihatku. Bocah manis itu melompat-lompat kegirangan, lalu bergegas memakai sandal. Mbak Jannah, Mas Ikhsan dan Mbak Nurul yang asyik bermain dalam rumah, sekejap menyambar sendal di depan pintu. Mereka berlari berhamburan di halaman rumah. Menari-nari di bawah temaram bulan sabit.Sesekali berteriak riang.

Aku hanya terduduk di antara anak tangga teras rumah, menyaksikan keriangan mereka malam itu.

Mataku menerawang, seperti melihat diriku sendiri. 17 tahun silam bersama alm. Abah. Dia tak pernah melarangku.

Setelah puas melihat alam raya di malam hari. Tertawa lepas. Mereka bergegas masuk rumah.

“Da.. dah.. bulan, Syifa masuk dulu, ya,” kata Syifa kepada bulan, sambil melambaikan tangannya.

Kejutan Menjelang Senja ^_^

Posted: 6 Februari , 2015 in Cerpen

“Dik, ayo, ke belakang rumah! ada yang ingin Kakak perlihatkan.”

“Perlihatkan, apa?”

“Ayo, cepat! pakai jilbabnya! nanti keburu malam.”

Segera kusambar jilbab di atas ranjang.

“Ada apa sih, Kak?” tanyaku lagi, semakin penasaran.

“Nanti Adik lihat sendiri,” jawab Abi, sambil  berjalan ke samping rumah mengambil sepeda motor dan segera menghidupkannya.

“Hmmm…”

Sepeda motor melaju, melintasi gang sempit menuju kebun belakang. Sesekali melewati kubangan lumpur. Badanku melompat-lompat di atas motor.

“Jalan di sini rusak,” desisku.

“Iya.”

“Mau ke manakah?”

“Nggak lama lagi sampai, nanti Adik lihat sendiri.”

Beberapa menit kemudian.

Perlahan, rumput yang kurindukan itu makin jelas di pelupuk mata. Melambai-lambai oleh tarian angin. Bagai hamparan kapas putih yang bergoyang dan sesekali kapas-kapas itu berterbangan menari-nari di udara.

Terkesima.

Ilalang itu seperti melambaikan salam sunyi kepadaku.

“Nah! ini yang ingin Kakak perlihatkan. Adik pernah bilang ingin lihat ilalang,” kata lelaki sederhana itu dengan mantap dan segera memarkirkan motornya.

Bahagia tak terkira.

“Semak ilalang nan indaah. Aaakh….” aku memekik senang. Hamparan ilalang yang luas bernuansa putih, kini berada di depanku.

Aku menerawang. Ingatanku tertujuh pada wajah yang selalu kurindukan dan kudoa’akan.

Alm. Ayah dan masa kecil.

Senyumku kembali mengembang dengan mata berkaca-kaca. Haru.

Masih tak menyangka di belakang rumah Abi ada pemandangan seindah ini.

Aku menikmati senjaku yang diiringi alanunan sunyi bersama tarian angin yang disajikan semesta.

Bahagia itu sederhana. Batinku.

“Terima kasih, kejutannya.
Aku akan sering ke sini,” ucapku pelan, sambil menatapnya dan melemparkan senyum bahagia.

10923630_10205789608120754_7891751821494706128_n