Merintis Paradigma Baru Pendidikan Islam(Kajian Historis)

Posted: 24 Maret , 2008 in Karya Tulis Ilmiah

SaintPendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju kedewasaan. Kedewasaan dalam bentuk akal, mental, maupun moral dalam rangka menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba dihadapan khalik-Nya dan juga sebagai khalifahtul fil ardh pada alam semesta ini.
Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, peran pendidikan benar-benar bisa diaktualisasikan dan diaplikasikan pada zaman kejayaan Islam. Dimana aktualisasi tersebut adalah sebuah proses dari sekian lama umat muslim berkecimpung dalam naungan ilmu-ilmu keIslaman yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah. Hal ini dapat kita saksikan ketika pendidikan benar-benar mampu membentuk peradaban, sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan, sekaligus yang mewarnai peradaban di sepanjang jazirah arab, asia barat, hingga eropa timur. Berangat dari hal yang telah disebutkan di atas terlihat bahwa adanya sebuah paradigma pendidikan yang memberdayakan peserta didik merupakan sebuah keniscayaan.


Upaya membangun pendidikan Islam berwawasan global dewasa ini bukan persoalan mudah karena pada waktu bersamaan pendidikan Islam harus memiliki kewajiban untuk melestarikan, menanamkan nilai-nilai ajaran Islam dan dipihak lain berusaha untuk menanamkan karakter budaya nasional Indonesia dan budaya global. Upaya untuk membangun pendidikan Islam yang berwawasan global dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah yang terencana dan strategis, apabila nilai-nilai tersebut dapat memasuki relung-relung pendidikan Islam sampai pada akar-akarnya kemungkinan pendidikan kita akan menemukan jalan keluar, pendidikan Islam yang brwawasan global yang dimaksud adalah pemikiran yang terus menerus harus dikembangkan melalui pendidikan untuk merebut kembali kepemimpinan iptek, sebagaimana zaman keeamasan dulu.
Merintis kembali pendidkan Islam Ala Rasulullah Saw, maupun ilmuan-ilmuan intelek Islam yang berjaya dimasa itu merupakan dorongan bagi umat Islam, Pencarian paradigma baru dalam pendidikan Islam dimulai dari konsep manusia menurut Islam. Pandangan Islam terhadap iptek, kemudian dirumuskan konsep atau system pendidikan Islam secara utuh pendidikan Islam yang ingin dikembangkan adalah pendidikan yang menghilangkan atau tidak ada dikotomi antara Ilmu dan agama, serta ilmu tidak bebas nilai tetapi bebas dinilai. Selanjutnya terjadi perubahan paradigma pendidikan, juga sebagai akibat dari percepatan aliran ilmu pengetahuan yang akan menentang system pendidikan konvensional, karena sumber ilmu pengetahuan akan tersebar diamana-mana dan setiap orang akan dengan mudah memperoleh pengetahuan tanpa kesulitan. Peran Web, Homepage, CD-Room yang merupakan alat Bantu yang akan sangat mempercepat proses distributed knowledge, semakin berkembang. Dengan demikian Pendidikan Islam harus mulai berbena diri dan menyusun strategi untuk menjawab tantangan perubahan tersebut sehingga dengan adanya sudut pandangan dari pendidikan Islam saat ini kita dapat mengetahui sudah sejauh manakah pendidikan Islam sekarang ini dan bagaimana mentransformasikan pendidikan Islam apakah pendidikan Islam sekarang sedang berjalan, tertinggal, atau malah tidak melakukan suatu pengubahan, dan apakah output yang dihasilkan dari sekolah – sekolah yang berlabelkan Islam memiliki kwalitas, dengan berlandaskan moral yang tinggi atau malah mengalami kemunduran.
Dari latar belakang masalah diatas penulis menarik beberapa rumusan masalah yang akan di bahas antara alain :
1. Bagaimana membangun pendidikan Islam berwawasan global tanpa harus mengabaikan nilai-nilai keIslaman?
2. Bagaimana menghasilkan output pendidikan Islam yang berorientasi pada pembaharuan?

Bab II
pembahasan

Membangun pendidikan islam berwawasan global tanpa harus mengabaikannilai-nilai keislaman
Masuknya Pendidikan Islam
Kajian historis tentang pendidikan Islam diindonesia sejak awal masuknya Islam keindonesia dapat dibagi menjadi 3 fase, fase pertama sejak mulai tumbuhnya pendidikan Islam, fase kedua sejak masuknya ide-ide pembaharuan pendidikan Islam dan ketiga sejak diundangkannya undang-undang tentang sikdiknas (UU.No.2 Tahun 1989 dan dilanjutkan dengan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 setiap fase ditandai dengan cirri khas masing-masing pada fase pertama adalah awal dimulai dengan muncul pendidikan formal, cirri yang paling menonjol adalah materi pelajaran terkonsentrasi kepada pengembangan dan pendalaman ilmu-ilmu agama. Fase ketika masuknya ide-ide pembaharuan pemikiran Islam ke Indonesia, sejak abad ke 19 masehi telah berkumandang ide-ide pembaharuan pemikiran Islam dimulai daari gerakan pembaharuan dimesir, turki Saudi Arabia dan juga Indonesia. Pelopornya adalah Muhammad Ali Pasya, Muhammad Abdah sultan mahmud II di Turki. Khusus pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia dilatar belakangi oleh dua factor yaitu factor extern tokoh yang berpengaruh adalah syekh Muhammad Jamil Jambek, Haji Karim Amrullah, Haji Abdullah Ahmad, Ahmad Dahlan, Haji Hasan dengan gerakan persis, K.H Hasyim Asy’ary (NU).
Menurut Steenbrink ada empat factor yang mendorong munculnya pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia.
 Sejak Tahun 1900 M, telah banyak pemikiran untuk kembali ke Al-Quran dan Sunnah
 Dorongan kedua adanya usaha-usaha dari umat Islam untuk memperkuat organisasinya
 Banyak yang tidak puas dengan metode pendidikan tradisional (steenbrink 1986 : 46-47)

Ada empat sasaran pokok yang diperbaharui, pertama materi pelajaran yaitu dulunya hanya terpusat kepada pelajaran agama. Setelah mengalami pembaharuan maka kemudian ilmu-ilmu keIslaman itu lebih kompleks dalam pengetahuan umum seperti Aljabar kimia ekonomi dan lain-lain. Dan salah satu lembaga pendidikan yang lahir sebagai hasil pembaharuan adalah madrasah. Perkataan madrasah baru popular setelah awal abad kedua puluh. Karena madrasah diindonesia merupakan perpaduan antara pesantren dan sekolah.
Perkembangan berikutnya adalah fasse ketiga yakni setelah diundang-undangkannya UU No.2 Tahun 1989 yang diikuti dengan lahirnya sejumlah peraturan pemerintah tentang pendidikan diikuti pula dengan lahirnya UU No. 20 Tahun 2003.
PP No.27 Tahun 1990 tentang pendidikan pra sekolah
PP No 28 Tahun 1990 tentang pendidikan dasar
PP No 29 Tahun 1990 tentang pendidikan menengah
PP No 30 Tahun 1990 tentang pendidikan yang kemudian disempurnakan
PP 60 Tahun 1999 tentang pendidikan tinggi

Peraturan pemerintah tentang pendidikan ini masih mengacuh kepada UU No.2 tahun 1989, sedangkan peraturan pemerintah dalam pendidikan yang mengacuh kepada UU No.20 Tahun 2002 sedang dalam penggodokan ada beberapa pasal dalam UU No.20 Tahun 2003 menyinggung tentang pendidikan Islam yaitu kelembagaan formal, non formal dan informal didudukannya lembaga madrasah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal yang diakui keberadaannya setara dengan lembaga pendidikan sekolah. Kemudian majelis taklim sebagai pendidikan non formal, pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Ketiga pendidikan Islam sebagai nilai, terdapat seperangkat nilai-nilai Islami dalam sistem pendidikan nasional. Orangmungkin mempertanyakan perbedaan antara madrasah dan sekolah Islam, tetapi dalam sejarah pendidikan di Indonesia kedua lembaga itu lahir dari inspirator yang berbeda : satu dari lulusan timur tengah, modern sedangkan yang lain dari gerakan yang kooperatif dengan pendidikan belanda telah memilih lembaga pendidikan untuk rakyat Indonesia. Dengan demikian sejak saat itu sudah dimulai kerangka dikotomik dalam system pendidikan untuk rakyat Indonesia, meskipun demikian, dalam proses perkembangan banyak sekolah Islam yang mendapat pengakuan dan subsidi dan pemerintah, karena menggunakan system dan kurikulum yang hamper sama. Melalui proses yang panjang dan sering kali melibatkan ketegangan politik antara exponent yang berbeda pandangan, kecendrungan untuk mensintesiskan dua kutub pendidikan nasional dan pendidikan Islam tampaknya semakain terbukti. Karena tercermin dalam undang-undang No.2 / 1989 tentang sisdiknas.
Dalam tataran praktisnya bagaimana menjadikan pendidikan Islam yang lebih sarat dengan keilmuan dalam arti mampu mengembang ilmu pengetahuan yang memang sudah ada sejak zaman Rasulullah dan memposisikan pendidikan Islam ini sesuai perkembangan Zaman, (Al-Attas pemikir muslim kontemporer yang mendefinisikan arti pendidikan Islam Adam bakhtiar) dengan terus melakukan proses pengubahan pendidikan Islam, khususnya dalam bidang formal, informal, maupun non formal yaitu dengan menghilangkan atau tidak ada dikotomik antara ilmu dan agama serta ilmu tidak bebas dinilai tetapi bebas dinilai. Selain itu, mengajarkan agama dengan bahasa ilmu pengetahuan dan tidak hanya mengajarkan sisi tradisional, melainkan sisi rasionalnya , kemudian pendidikan Islam harus mampu membangun keilmuan dan kemajuan kehidupan yang integrative antara nilai spiritual, moral materi bagi kehidupan manusia. kehidupan Islam dipacu agar mampu membangun kompotisi, manusia, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik berupa manusia demokratis, kompetitif, inoratif berdasarkan nilai-nilai Islam, pendidikan harus disusun atas dasar kondisi lingkungan masyarakat baik masa kini maupun kondisi pada masa yang akan datang, karena perubahan kondisi lingkungan merupakan tantangan dan peluang secara cepat dan tepat. Karena pendekatan masa lalu dan sering tidak tepat diterapkan pada kondisi berbeda, bahkan seringkali menimbulkan problem yang dapat memundurkan dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam dewasa ini, pendidikan Islam harus mampu mengemban kemampuan untuk berpartisipasi didalam dunia kerja, pendidikan Islam lebih menekankan dan diorientasikan pada proses pembelajaran, diorganisir, dalam struktur yang lebih bersifat fleksibel. Menghargai dan memperlakukan peserta didik sebagai individu yangmemiliki potensi untuk berkembang dan diupayakan sebagai proses berkesinambungan serta senantiasa berinteraksi dengan lingkungan, tanpa harus mengabaikan nilai-nilai keIslaman yang telah ditanam oleh Nabi Muhammad SAW. Sejak dizaman keemasan Islam Berbagai macam istilah tujuan pendidikan seperti tersebut di atas, perlu disederhanakan guna untuk melihat tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman. Misalnya, cukup dengan dua istilah tujuan pendidikan, yaitu tujuan pendidikan secara khusus dan tujuan pendidikan secara umum. Misalnya, tujuan pendidikan secara khusus menurut Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga semua pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kritis dan kreatif. Kemudian, tujuan pendidikan secara umum adalah untuk memungkinkan manusia memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan, kemajuan, dan keteraturan dunia
Kemudian tahap kedua yang harus diperbaiki setelah Komponen kurikulum adalah materi atau bahan pendidikan. Materi atau bahan pendidikan bisa berupa kitab kuning (seperti di pesantren-pesantren salaf), buku-buku, jurnal-jurnal, laporan-laporan hasil penelitian, dan apa saja yang dapat digunakan sebagai konteks untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Materi pendidikan pada masa sekarang diatur dalam bentuk nama-nama mata pelajaran atau matakuliah sesuai dengan nomenklatur keilmuannya. Dari masing-masing mata pelajaran atau mata kuliah tersebut terdapat sekian banyak literatur yang berfungsi sebagai bahan atau sumber pembelajaran. Kemudian, pembahasan kerangka materi seperti tersebut akan digunakan untuk melihat seperti apa bahan atau sumber pendidikan menurut Rahman. Misalnya, Rahman dengan mengacu kepada al-Qur’an meminta manusia supaya mempelajari apa yang terdapat pada diri manusia itu sendiri, alam semesta, dan sejarah umat manusia Dari sini barangkali dapat dilacak materi atau sumber pendidikan.
Komponen kurikulum yang ketiga adalah metode pendidikan. Metode pendidikan diperlukan untuk mengatur proses pembelajaran mulai dari persiapan sampai dengan melakukan evaluasi. Adalah John P. Miller, seorang ahli metode pembelajaran dari Ontario Institute for Studies in Education yang banyak melakukan kritik terhadap metode pembelajaran. Menurut Miller banyak peserta didik yang tidak tertarik belajar di kelas, bahkan mereka merasa tersiksa. Oleh karena itu, disusunlah model pembelajaran yang menarik bagi peserta didik dengan diberi nama Humanizing The Classroom: Models of Teaching in Affective Education . Melvin L. Silberman mengemukakan 101 strategi pembelajaran yang dapat mengaktifkan peserta didik. Menurut Silberman jika peserta didik hanya mendengarkan pelajaran, mereka akan lupa; jika mendengar dan melihat, mereka ingat sedikit; jika mereka mendengar, melihat dan melakukan diskusi, mereka akan faham; jika mereka mendengar, melihat, berdiskusi dan melakukan, mereka akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan; dan jika mereka dapat mengajarkan kepada peserta didik lain, mereka akan menguasainya . Kemudian, metode dan strategi pembelajaran tersebut akan digunakan untuk melihat dan meneliti metode pembelajaran menurut Rahman. Rahman banyak melakukan kritik terhadap metode pendidikan umat Islam terutama pada abad pertengahan yang hanya sekedar mengulang-ulang pelajaran sampai hafal. Metode semacam ini disebut metode mekanis. Sebaliknya, Rahman menyarankan kepada umat Islam agar menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan melakukan observasi, analisis, dan eksperimen Disamping itu, Rahman juga mengemukakan metode gerakan ganda. Metode ini dapat dipahami, dirumuskan kembali dan diterapkan dalam proses pembelajaran.
Komponen kurikulum yang keempat adalah evaluasi hasil belajar. Evaluasi digunakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan telah dicapai peserta didik. Evaluasi hasil belajar yang baik adalah evaluasi yang dapat mengevaluasi semua proses pendidikan mulai dari awal sampai akhir, yang dapat mengevaluasi baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. William E. Blank mengemukakan suatu jenis evaluasi yang disebut dengan evaluasi performansi. Menurut Blank hanya dengan evaluasi performansi seorang pendidik dapat mengetahui bahwa peserta didiknya telah mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan atau belum Kemudian, evaluasi jenis ini akan digunakan untuk melihat pemikiran pendidikan neomodernisme Rahman. Misalnya, sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa tujuan pendidikan menurut Rahman adalah untuk mengembangkan manusia- sedemikian rupa sehingga semua pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi pribadi yang kritis dan kreatif yang memungkinkannya memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan, kemajuan, dan keteraturan dunia. Untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan ini telah dicapai oleh peserta didik, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap performansi peserta didik terutama dari sifat kritis dan kreatif, dari segi kemampuan memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan manusia, dan dari segi keberhasilannya menciptakan keadilan, kemajuan, serta keteraturan dunia.
Kemudian, Pendidikan Islam, jika dilihat dari proses pengembangan kurikulumnnya, dapat diketahui adanya tiga langkah kegiatan, yaitu merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi. Sebagaimana disebutkan oleh Murry Print berikut:
“ Once a curriculum has been conceptualized, through the process of curriculum planning and incorporating a curriculum design, it may then be developed, usually to become a written document and finally to be implemented and evaluated. …the process of planning, implementing, and evaluating learning opportunities intended to produce desired changes in learners”.( Murry Print, Curriculum Development and Design, Allen & Unwin, Australia, 1993, hlm. 23.)

Pendidikan Islam yang berorientasi pada pembaharuan
Ada semacam stereotyping di masyarakat kita, bahwa pendidikan Islam selalu diasosiasikan dengan lembaga pendidikan terbelakang. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena pendidikan Islam terutama pendidikan tingginya, sering tidak menghasilkan lulusan (educational output) yang memadai, tidak memiliki kemampuan komprehensif-kompetitif terutama dalam bidang ilmu pengetahuan (science) dan tidak memiliki kompetensi profesional seperti yang dituntut dunia kerja (work force). Kondisi obyektif demikian ini menempatkan lembaga pendidikan Islam bukan sebagai kelas utama (the first class) melainkan sebagai kelas kedua (the second class). Hal ini dapat dilihat secara nyata dengan tingginya kecenderungan lulusan pendidikan Islam yang memasuki perguruan tinggi agama Islam sementara sangat sedikit jumlah lulusan pendidikan Islam yang memasuki perguruan tinggi umum, dan itupun hanya terbatas pada bidang-bidang ilmu humaniora saja. Bila kita cermati, kuantitas dan kualitas kerja umat ini masih tertinggal dari Barat. Tidak dapat kita pungkiri bahwa kelebihan umum orang Barat saat ini adalah mereka memiliki kualitas dan kuantitas kerja yang luar biasa. Semangat untuk mencari kekayaan dan kekuasaan mendobrak jiwa mereka untuk bergerak mencari taraf kehidupan yang lebih tinggi. Mereka kuasai iptek, media massa, perdagangan, transportasi, dan pergaulan global. Sementara umat Islam saat ini? Masih dalam kemunduran.
Disahkannya Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberi insiatif tersendiri bagi pengembangan mutu lembaga-lembaga pendidikan Islam. Undang-Undang Sistem Pendikan Nasional (UU Sisdiknas) yang secara garis besar menggariskan tentang Dasar, Fungsi dan Tujuan Pendidikan; Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan; Hak dan Kewajiban; Standar Nasional Pendidikan; Kurikulum; Pendidik dan Tenaga Kependidikan; Sarana dan Prasarana Pendidikan; Pendanaan Pendidikan; dan Pengelolaan Pendidikan, telah memberi peluang yang besar bagi lembaga-lembaga pendidikan Islam untuk menunjukkan eksistensinya di tengah-tengah persaingan lembaga pendidikan nasional.( Menata ulang konsep dan praktik pedididkan Islam, fahrurozzi)
Dalam melakukan suatu proses menuju pendidikan Islam yang lebih baik dari uraian diatas telah digambarkan bagaimana upaya dan system pendidikan Islam akan dibawah,dalam bukunya Fazlur Rahman,Kegiatan perencanaan meliputi pengembangan kurikulum dan silabus. Dalam pengembangan kurikulum biasanya dimulai dari pengembangan landasannya, yang meliputi landasan yuridis/normatif, filosofis, sosiologis, dan psikologis. Landasan yuridis/normatif bisa berupa aturan-aturan normatif atau peraturan perundang-undangan. Landasan filosofis berupa pandangan hidup suatu bangsa atau umat beragama tertentu. Landasan sosiologis adalah landasan empiris yang mengarahkan pendidikan itu akan dibawa ke masyarakat seperti apa. Landasan psikologis menjadi pedoman untuk menentukan tingkat kematangan kejiwaan peserta didik yang akan dihasilkan oleh pendidikan tersebut.

Keempat landasan pengembangan kurikulum itu akan digunakan untuk melihat konsep pendidikan Rahman. Misalnya, dapat diketahui bahwa landasan normatif dari pendidikan Rahman adalah al-Qur’an dan al-Sunnah; landasan filosofisnya adalah pandangannya terhadap kesatuan Tuhan, alam semesta dan manusia, landasan sosiologisnya adalah sejarah peradaban umat manusia, dan landasan psikologisnya adalah kebebasan jiwa manusia untuk menentukan pilihannya sendiri’ dengan penuh tanggungjawab.
Setelah keempat landasan tersebut terumuskan dengan baik, langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan pendidikan, menentukan materi pendidikan, metode pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar. Setelah itu, baru dapat dilakukan pengembangan silabus. Silabus pada hakekatnya dibuat untuk menyusun komponen-komponen yang ada pada kurikulum tersebut secara logis dan sistematis. Oleh karena itu, komponen-komponen yang harus ada pada silabus adalah keempat komponen yang ada dalam kurikulum, kemudian ditambah alokasi waktu, media pembelajaran, dan sumber pembelajaran. Setelah silabus tersusun dengan baik, kegiatan selanjutnya adalah implementasi. Implementasi merupakan kegiatan pembelajaran dengan materi sebagai konteks untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Kemudian, kegiatan terakhir adalah melakukan evaluasi hasil belajar. Persoalannya adalah apakah pemikiran pendidikan Rahman dapat dilihat dan dimasukkan ke dalam tiga langkah kegiatan pengembangan kurikulum sebagaimana tersebut di atas? Jika dapat, Sistem pendidikan islam yang dimakasud tadi dapat di implemantasikan Maka wujudnya akan meembawa system pendidikan islam semakin maju. telah dijelaskan bagaiamana fase-fase yang dibangun dalam merintis suatu system pendidikan Islam yang tetap mencerminkan nilai-kefitrahannya karena proses pendidikan Islam pada dasarnya bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya mengembangkan potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani sehingga output yang dihasilkan dalam system pendidikan Islam benar-benar menjadi tolak ukur dan tidak diacuhkan karena opini yang berkembang dewasa ini cenderung menyudutkan arti para lulusan-lulusan sekolah yang berstatus Islam pasti sulit bersaing memang paradigma pendidikan Islam dimaksudkan untuk mengembangkan sumberdaya manusia, indicator manusia yang berkualitas padahal dapat ditandai dengan dimilikinya kemampuan mengausai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dimilikinya kemampuan menciptakan ilmu dan teknologi untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan manusia sehingga apabila paradigma pendidikan Islam dapat merubah dalam arti lebih dipahami dalam konteks mikro melainkan juga dalam konteks makro, sehingga pendidikan integrative antara proses belajar, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Meskipun bangsa maju, tidak sedikit bangsa kita yang masih terkebelakang. Akibatnya, ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa maju hanya dikonsumsi oleh sebagian kecil dari manusia Indonesia.
Sejatinya paradigma pendidikan Islam yang kita pilih adalah paradigma pendidikan sebagai pengembang SDM untuk mengikuti perkembangan Ilmu dan teknologi. Implikasi dari paradigma seperti itu, dalam praktiknya harus dicapai secara bertahap, yaitu :
1. Pendidikan harus mempelajari pendidikan dan teknologi yang sudah ada. Hal ini dilakukan mulai dari jenjang pendidikan terendah hingga jenjang pendidikan tertinggi
2. Pendidikan harus menciptakan ilmu dan teknologi. Dan
3. pendidikan harus mampu mengangkat harkat dan martabat manusia sehingga output yang dihasilkan benar-benar menjamin pendidikan Islam yang menuju pada pembaharuan. Namun dalam kenyataanya pendidikan di Indonesia khususnya pendidikan Islam masih berada pada tahap pertama yaitu belajar menguasai ilmu dan teknologi yang sudah ada. Hasil kongkret

Penekanan ilmu pengetahuan disini yaitu pentingnya dalam memenuhi kebutuhan intelekteual dan meraih kebahagiaan tapi tidak meninggalkan sisi-sisi spritual, jadi pengetahuan disini kita bawah pada hal-hal yang positif dan bukan sekedar komoditi social ekonomi yang hanya membawa kita khususnya umat Islam pada pelaku-pelaku negative karena kebahagiaan umat Islam bukanlah sekedar konsep, tujuan sementara kesenangan fisik yang temporer atau keadaan mental dan pikiran lebih dari itu kebahagiaan menurut Islam adalah kualitas spiritual yang permanent yang secara sadar dapat dialami dalam masa sekarang ataupun masa yang akan datang Dan menjadikan pendidikan Islam diupayakan lebih di orientasikan atau lebih menekan pada upaya proses pembelajaran [learning] dari pada mengajar[teaching]. Pendidikan Islam dapat di Organisir dalam suatu struktur yang lebih bersifat fleksibel . pendidikan Islam dapat meemperlakukan peserta didik sebagai individu yang memeiliki karakteristik khusus dan mandiri dan Pendidiakn Islam merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan lingkungan(zamroni.2000:9)

Bab III Penutup
Kesimpulan

Islam adalah agama yang menghendaki keseimbangan. Seimbang dalam pengkajian ayat-ayat kauniyah dan juga ayat-ayat qauliyah. Seimbang antara ibadah dalam keduniawian dan keukhrawian. Oleh karena itu, para ulama menetapkan bahwa hukum menuntut ilmu agama adalah fardhu ‘ain, sedangkan menuntut ilmu dunia seperti sains dan teknologi adalah fardhu kifayah. Dengan demikian, output pendidikan Islam akan menghasilkan generasi qur’ani yang cerdas otaknya dan lembut hatinya. Hal ini terbukti dengn banyaknya ilmuan muslim ketika masa kekhalifahan. Adapun para ilmuan muslim tersebut diantaranya : Ibnu Khaldun (ahli sosiologi dan ilmu sejarah), Ibnu Haitham (bapak ilmu optic), Abu Bakr Muhammad bin Zakariya ar-Razi (ahli kedokteran), Ibn Sina (pakar kedokteran), Ibnu Rusyd (filosof, dokter, dan ahli fikih Andalusia), al-Khawarizmi (pakar matematika), Jabir Ibn Hayyan (ahli kimia), al-Idrisi (ahli geografi), dan sebagainya.
Tidak pelak lagi, pencapaian sains dan teknologi yang amat tinggi, yang tidak pernah dicapai oleh umat manusia pada masa sebelumnya, adalah berkat diterapkannya Islam sebagai sebuah sistem pendidikan dan ideologi. Benar kiranya pernyatan salah seorang intelektual Muslim dari Mesir, Syekh Syaqib Arselan, yang mengatakan bahwa orang-orang Barat maju karena meninggalkan agamanya dan kaum Muslim mundur karena meninggalkan agamanya.
Sudah saatnya kita berbenah diri memperbaiki sistem pendidikan ini sebagai basis peradaban dan tunas kemajuan umat. Oleh karena itu, pembenahan kurikulum pendidikan wajib kita lakukan demi terciptanya sistem pendidikan yang lebih baik. Sistem pendidikan berbasis Islamlah yang tepat untuk mengatasi hal ini, yakni sistem pendidikan yang menghendaki adanya integrasi imtak dan iptek. Pendidikan yang menyeimbangkan antara penguasaan ayat-ayat kauniyah tanpa menafikan ayat-ayat qauliyah. Untuk itu, kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan ulama perlu dilakukan lebih intens untuk membahas pernasalahan ini demi terwujudnya sistem pendidikan yang lebih baik dan unggul. Semoga islam kembali menjadi sebuah peradaban yang dikagumi dan disegani oleh dunia. Allahu akbar!

Iklan
Komentar
  1. anitadeka berkata:

    Ass.Alhamdulilah tulisan ini ana buat Dalam Rangka mengikuti Karya Tulis Ilmiah Tepatnya DiStain Manado.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s