Islam Di Tengah Idieologi Besar Dunia

Posted: 26 Mei , 2008 in Karya Tulis Ilmiah

islamicA. Latar belakang masalah

Awalnya istilah “idiologi “ dimaksudkan oleh penciptanya. Destrut detracy (1796) dkk, sebagai ilmu ide yang diharapkan mampu membawa perubahan institusional, muali dari pembaharuan menyeluruh atas sekolah-sekolah sekolah si Perancis. Tracymemberikan defiisi idiologi adalah suatu system ide, yang mencoba melepaskan diri dari hal-hal metafisis. Paraidiologi dalam kurun waktu tertentu mmbauat kebijakan dlam kelas II ( Ilmu-ilmu moral politik ) di Institut nasional. Tetapi pertentangan denganNapoleon, mneyebabkan Napaoleon Boneparte (penh mistuk ) berusaha untuk menghapus pembahruan dalam institusi (1802-1803). Ia memecat anggota-anggotanya sebagai tukang khayal tidak berguna dan membuat mereka sebagai bahan cemohan. Idiologi juga bias diartiak sebagai perangkat system dan tata niilai dari berabagai kesepakatn-kesepakatan, yang harus ditaati daam sebauh kelompok social. Idiologi adalah motivasi bagi prksis social yang memberikan pembenaran da mendorong suatu tindakan. Idiologi mendorog untuk menunjukan menunjukan bahwa kelompok social yang di yakininya mempunyai alasan untuk ada.

Dalm sejarah peratarungan social dan politik dunia, idiologi juga tidak jarang banyak mengorbankan ribuan bahkan jutaaan nyawa demi sebuah perjuangan membela idiologi. Apalagi kalau idiologi sudah masuk pada ranah politik dan kekuasaan.demi sebuah idiologi , 600.000 orang tewas karena terlibat atau tertuduh sebagai PKIdalam aksi” balas dendam “ yang legal sehabis tragedy 30 september 1965 di Indonesia. Kemunculn tiga arus besar idioligi dunia.serta perkembangan dasyat gerakan social dan ilmu pengetahuannyang diikuti oleh menculnya teori-teori baru beserta prediksi-preiksi Ilmiah mau tidak mau menyeret wacana idiliologi dalamper bincangan hangat dikalangn kaum intelektual

Disaat islam dikatakan sebagai salah satu dari ketiga idiologi besar dunia, apakah islam sendiri mampu membawa kemudian menunjukan bahwa doktren islamlah yang mampu menjawab berbagai persoalan –persoalan yang muncul dalam tatan dunia global dewasa in? Inilah yang menjadi dasar pemikiran penulis yang dituangkan dalam makalah ini yaitu dengan membandingkan konsep idiologi islam dengan idiologi kapitalis dan sosialis. Analisis ini memungkinkan adanya pelajaran konkret bagaimana islam mampu membawa nilai- nilai islam yang menjadi doktern agama, dan menjadi agama rahmatan lil -alamin.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah diatas penulis menarik beberapa rumusan masalah yang akan dibahas antara lain:

1. Bagaimanakah Aplikasi idiologi Kapitalisme dan sosialisme-komunisi dalam tataran praksisnya?
2. Bagaimana Dampak idiologi kapalitalis setelah munculnya idiologi sosialis-komunis dalam tataran dunia global
3. Bagaimana kontribusi Islam jika dikatakan sebagai salah satu Idilogi terbesar Dunia?

BAB I

PEMBAHASAN

1. Aplikasi Idiologi kapitalis dan Idiologi sosial komunis

A. Idiologi kapitalis

– Pengertian

Idiologi kapitalisme adalah suatu ideologi yang mengagungkan kapital milik

perorangan atau milik sekelompok kecil masyarakat sebagai alat penggerak kesejahteraan manusia.

Kepemilikan kapital perorangan atau kepemilikan kapital oleh sekelompok kecil masyarakat adalah dewa di atas segala dewa, artinya

semua yangada di dunia ini harus dijadikan kapital peroranganatau kelompok kecil orang untuk memperoleh keuntungan melalui sistem kerja upah, di mana kaum pekerja (buruh) sebagai produsen diperas, ditindas, dan dihisap oleh kaum kapitalis.Bapak ideologi kapitalisme adalah Adam Smith dengan teorinyaThe Wealth of Nations yaitu kemakmuranbangsa-bansa akan tercapai melalui ekonomi persaingan bebas, artinya ekonomi yang bebas dari campur tangan negara. Kemudian Ideologi kapitalisme diperbaharui dan dikembangkan oleh Keynes dengan teorinya Campur tangan Negara dalam ekonomi khususnya dalam menciptakan kesempatan kerja menetapkam tingkat suku bunga, tabungan, dan investasi W.W. Rostow dengan teorinya The Five Stage Scheme, Harrod-Domar dengan teorinya.

TanganNegaradalamEkonomikhususnyadalammenciptakankesempatankerja,menetapkantingkatsukubunga,tabungan,daninvestasi,W.W.RostowenganteorinyaTheFiveStageScheme,HarrodDomardenganteorinyaTabnTeori dan investasi, Mc Clelland dengan teorinya The Need for Achievement, Reagan dan Tachedengan teorinya Neo-Liberalisme atau Globalisasi PasarBebas atau teori Kedalualatan Pasar Bebas. Pelaksanaan teori-teori tersebut di atas didukung oleh IMF(international Monetary Fund), World Bank, dan parakonglomerat internasional.

– Aplikasi

Sebagaimana halnya dengan ideologi-ideologi yang lain, ideologi sekuler memiliki pemikiran dan metode untuk semua aspek kehidupan manusia, termasuk dalam sistem pendidikan. Ideologi sekuler-kapitalisme juga menjadikan sistem pendidikan sebagai salah satu sarana untuk mentransfer pemikiran-pemikiran mereka ke masyarakat dan mencetak para pengemban-pengemban baru ideologi ini.

Bahkan lebih dari itu, bila dilihat dari sejarah awal ideologi ini, akan terlihat pentingnya peranan dunia pendidikan bagi ideologi sekuler-kapitalisme. Pemikiran-pemikiran awal ideologi sekuler muncul dalam benak kaum pemikir dan intelektual abad pertengahan Eropa. Penindasan dan pengekangan pemikiran yang dilakukan institusi gereja di abad pertengahan menyebakan lahirnya pemikiran-pemikiran tandingan dari kaum intelektual Eropa yang berupa konsep kebebasan.

Perkembangan di Eropa, sebagai akibat kuatnya kaum menengah dan kaum intelektual, kemudian melahirkan revolusi industri, yang memunculkan kelompok berkuasa yang baru, yaitu para pemilik modal dan para pengusaha. Semenjak itulah, ideologi sekulerisme menjadi lebih dominan pada sektor ekonominya, dan lebih sering disebut sebagai ideologi kapitalisme. Walaupun begitu, peran penting para cendekiawan dan intelektual masih sangat kuat, karena mereka menjadi motor penggerak pemikiran-pemikiran ideologi ini, serta menjadi penjaga bagi keberlangsungan ideologi ini.

Sinergi antara para intelektual dan para pemilik modal, menjadi bentuk sinergi baru mirip seperti sinergi para gerejawan dan raja sebelumnya. Paraintelektual merupakan ujung tombak dalam perang pemikiran yang dikobarkan ideologi ini dalam menghadapi pemikiran-pemikiran ideologi lawan, seperti ketika akan menjajah suatu negara yang mungkin di dalamnya terdapat suatu ideologi baik diemban oleh negara tersebut ataupun diemban oleh sebagian masyarakatnya, ataupun ketika berusaha mendominasi percaturan politik dunia.

Pemikiran-pemikiran ideologi sekuler-kapitalisme didasarkan pada ide dasar pemisahan agama dari kehidupan, sehingga kehidupan pun kemudian diatur berdasarkan pada pemikiran manusia. Dalam hal pengaturan kehidupan yang menjadi asasnya adalah asas manfaat sedangkan tujuannya adalah mencapai kebahagian/kesejahteraan material semaksimal mungkin. Untuk mencapai tujuannya, terdapat beberapa konsep-konsep yang hendak diwujudkan dan dijaga, demi tetap terjaganya sekulerisme. Konsep-konsep ini berintikan pada konsep kebebasan, yaitu: konsep kebebasan kepemilikan, kebebasan berpendapat/berekspresi, kebebasan beragama/berkeyakinan, dan kebebasan bertingkahlaku.

Pemikiran ideologi sekuler kapitalisme dalam sistem pendidikan berlandaskan pada konsep-konsep serta asas-asas di atas. Dunia pendidikan difungsikan sebagai penopang bagi mesin industri kapitalisme, sehingga tujuan dari pendidikan dalam ideologi ini adalah untuk mencetak individu-individu yang profesional yang dapat mendukung keberlangsungan industri-industri mereka, intinya adalah mencetak para pekerja yang baik.

Karena itu terkadang negara diharuskan ikut mendukung bahkan mungkin juga total mendanai masalah pendidikan. Hal ini karena pendidikan dipandang sebagai investasi, dan dengan menggunakan negara maka biaya investasi untuk mencetak pekerja-pekerja yang tangguh bagi mesin industri kapitalis, akhirnya ditanggung oleh masyarakat melalui pajak. Bentuk pendanaan oleh negara dalam dunia pendidikan ternyata bervariasi antara satu negara barat dengan negara yang lainnya. Negara seperti Jerman dan Austria, yang menerapkan sosialisme negara, mendanai seluruh sistem pendidikannya, dari tingkat rendah sampai perguruan tinggi. Sedangkan negara seperti USA, mendanani hampir keseluruhan pendidikan rendah sampai menengah, dan sebagian pendidikan tinggi. Jadi bukanlah tabu bagi negara, dalam ideologi kapitalisme, untuk ikut mendanai biaya pendidikan.

Untuk menjaga kebebasan berpendapat/berkespresi, maka peran dan campur tangan negara dalam masalah sistem pendidikan, harus sangat minimal, terutama dari segi kurikulum. Sebab bila tidak dikhawatirkan akan membatasi berkembangnya pemikiran-pemikiran atau pendapat-pendapat tertentu, lalu pemikiran dan pendapat yang sejalan dengan pemerintahlah yang akan dikembangkan, baik dalam dunia akademik, maupun di masyarakat.

Untuk menjaga kebebasan berpendapat/berekspresi ini, maka institusi pendidikan haruslah semaksimal mungkin, mandiri dan otonom, dalam pendanaan maupun dalam pembuatan kurikulum/materi ajar. Sehingga terkadang di suatu negera bentuk sistem pendidikannya tidaklah terstruktur rapi di bawah kendali negara. Seperti misalnya di USA, sistem pendidikan yang terstruktur tidak tampak dalam level pemerintah federal, tetapi hanya ada pada level pemerintah negara bagian, maupun pemerintahan lokal (distrik atau kota). Banyak badan-badan sertifikasi sekolah maupun sertifikasi guru yang tidak terkait langsung dengan struktur pemerintah.

Penanaman ideologi sekuler-kapitalisme kebanyakan tidak dilakukan secara langsung melalui kurikulum tetapi melalui materi pendidikan lewat para pendidik maupun lewat pendapat-pendapat para cendekiawan mereka yang mengembangkan pemikiran-pemikiran ini, kepada para peserta didik, khususnya di tingkat menegah ke atas, maupun ke masyarakat umum melalui media massa. Cara yang paling sering dipakai dalam dunia pendidikan adalah fakta sejarah bangsa Barat, ketika di masa penindasan gereja dibandingkan dengan masa reinaissance.

Untuk menjaga kebebasan kepemilikan, maka siapa saja, berhak dan boleh membuat institusi pendidikan, termasuk pemerintah, dan juga kalangan agamawan. Juga dibolehkan untuk menjadikan institusi pendidikan itu sebagai suatu lembaga profit, ataupun lembaga untuk mengkader orang-orang dengan pola agama tertentu. Tetapi bila dilakukan oleh negara, maka untuk menjaga kebebasan beragama/berkeyakinan, maka institusi tersebut tidak boleh mengajarkan pemikiran-pemikiran khusus agama tertentu, kecuali sebatas sebagai ilmu. Tidak boleh juga dalam institusi milik negara tadi adanya segala sesuatu yang bisa membuat institusi tersebut condong pada suatu kelompok dalam masyarakat, ataupun memusuhi suatu kelompok dalam masyarakat. Untuk menjamin keadilan dalam kebebasan kepemilikan, dalam hal dana-dana dari pemerintah untuk dunia pendidikan, termasuk dana untuk riset penelitian, tidak boleh memprioritaskan berdasarkan kepemilikan. Artinya, suatu institusi pendidikan milik pemerintah maupun milik non pemerintah memiliki hak dan kesempatan yang sama terhadap dana-dana pendidikan dan riset tadi. Termasuk juga dalam masalah kebebasan kepemilikan, institusi pendidikan bebas dalam mencari sumber-sumber dananya sendiri, baik dari masyarakat maupun dari pihak luar bahkan asing.

1. Sosialism – Komunis

– Pengertian

Sosialisme merupakan reaksi terhadap revolusi industri dan eksesnya. Awal sosialisme yang muncul pada bagian pertama abad ke sembilan belas dikenal sebagai sosialisme utopia.

Sosialisme ini lebih didasari pada pandangan kemanusiaan (humanitarian) dan meyakini kesempurnaan watak manusia. Penganut paham ini berharap dapat menciptakan masyarakat sosialis dengan penuh argumentasi dan kejelasan,

bukan dengan cara revolusi dan kekerasan sebagaimana komunisme. Perbedaan utama dua ideologi ini terletak pada sarana yang digunakan untuk mengubah kapitalisme menjadi sosialisme. Paham sosialis lebih luwes dalam berjuang dan

pemberdayaan buruh secara bertahap dan bersedia berperan serta dalam pemerintahan yang belum sepenuhnya sosialis. Sedang komunisme menekankan cara revolusi dan pemerintahan mesti dalam bentuk diktator proletariat walau dalam

masa transisi. Ideologi sosialisme hakikatnya adalah menelanjangi keserakahan kapitalisme.

– Aplikasi

Bapak ideologi sosialisme adalah Karl Marx dengan teorinya Materialisme Dialektika dan

Materialisme Historis, dan Das Kapital.Kemudian ideologi sosialisme dikembangkan olehAlthusser

dengan teorinya Strukturalisme, AntonioGramsci dengan teorinya Hegemoni, Samir Amin dan

AdreGunder Frank dengan teorinya Ketergantungan, Max Hokreimer, Hebert Marcuse,

Theodor W. Adorno denganteori Kritisnya yang ingin membebaskan manusia dari belenggu

penindasan penghisapan, tetapi anti dogmatisme yang artinya Marxisme tidak boleh dijadikan

dogma (keyakinan membuta).

2.Dampak Idiologi Kapalitalis setelah Munculnya Idiologi Sosialis-Komunis dalam tataran dunia Global

– Post Modernisme

Ideologi ini lahir karena kontradiksi antara kapitalisme dan sosialisme yang makin menajam.

Mereka mencari jalan keluar, pemikir kapitalis mencari jalankeluar berupa PostModernisme

sedangkan pemiki rsosialis mencari jalan keluar berupa Post Marxisme.Kedua ideologi ini

hakikatnya adalah revisionisme,mengaburkan paham kapitalisme dan sosialisme.

Post ModernismePost Modernisme ialah ideologi tentang hak untuk berbeda

(The Right of Different) yang menolak penyelamatan manusia dari penghisapan

manusia atas manusia yang dikumandangkan oleh ideologi sosialisme, dan menolak

hegemoni dan dominasi kapital terhadap kehidupan manusia. Hakikatnya post

modernisme menolak ideologi kanan (kapitalisme) dan ideologi kiri(sosialisme).

Menurut GeorgeRitzer (jurnal TheAmerican Sosilogist No 10, 1975 yang dikutip

oleh Widodo Dwi Putro, Kompas, 23 September 2002), konfikkanan-kiri

yang menang adalah kanan (kapitalisme) karena kapitalisme mempunyai kekuatan

kapital dan kekuasaan politik. Kemenangan kapitalisme atas sosialisme dewasa ini

(akhir abad 20) dikukuhkan oleh tesis Francis Fukuyama dalam

The End of History andThe Last Man, yang menjelaskan bahwa evolusi terakhir

ideologi manusia adalah demokrasi liberal karenaditerima diseluruh dunia dan

menerima kapitalisme sebagai cara produksi yang paling efektif, produktif,dan efisien.

Selanjutnya Fukuyama menjelaskan bahwa dewasa ini kekuasaan tertinggi manusia adalah

Konsumerisme karena ideologi inilah yang palingotoriter pada kehidupan manusia, dan ideologi ini

disebut The Late Capitalisme (kapitalisme akhir)Kesadaran manusia tidak lagi dipersatukan olehi deologi kapitalisme dan sosialisme tetapi oleh

konsumerisme dan daya tarik gayahidup; manusia tidak peduli pada ideologi kapitalisme dan sosialisme tetapi tertarik pada gayahidup.

– Post Marxisme

Post Marxisme adalah ideologi kaum intelektual bekas kaum Marxist yang ingin memperbaiki nasib rakyat jelata melalui

program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintahan bourjuis. Post-Marxisme berlawanan dengan Marxisme yaitu

ideologi kaum buruh yang ingin memperbaiki nasibnya melalui suatu revolusi sosial.Dua ideologi itu memiliki sejarah yang berbeda.

Ideologi Marxisme, lahir dari kesadaran kaum buruh untuk mengubah nasibnya dari penindasan dan penghisapan kaum kapitalis

melalui revolusi sosial. Marxisme merupakan senjata idiil kaum buruh, dan buruhmenjadi senjatamateriil Marxisme. Di atas kemenangan

revolusi sosial itu didirikan pemerintahan Demokrasi Rakyat kemudian berkembang menjadi Diktatur Proletariat yang mempunyai tugas

utama memperbaik inasib kaum buruh dan kaum miskin lainnya. Sedangkan ideologi Post-Marxisme, lahir dari bekas kaum Marxistyang

mengkritik beberapa point teori Marx antara lainteori revolusi dan teori Negara Diktatur Proletariat. Di samping itu post marxisme lahir

dari kekosongan posisi sosial pada saat perjuangan kelas pekerja (kaum kiri) mengalami kemunduran, dan lahir dari pengaruh kaum

Neo-Liberalisme dengan tesis globalisme, di manakesejahteraan sosial harus diatur oleh “Kedaulatan Pasar Bebas”. Dalam tesis

globalisme, kapital, ilmu, teknologi, dan tenaga ahli adalah bebas mengarungi samudera dan bebas menjelajah ke pelosok penjuru

dunia untuk mewujudkan kesejahteraan sosial.AnalisisKonflik ideologi antara kapitalisme dan sosialis merupakan keharusan sejarah.

Karena kapitalisme ingin mempertahankan pemilikan perorangan atas alatalat produksi dan ingin mempertahankan penghisapan manusia

atas manusia melalui sistem kerja upah dimana besarnya upah ditentukan oleh pemilik kapital.Sedangkan sosialisme ingin membebaskan

manusiadari belenggu rantai penghisapan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa melalui revolusi di mana alat-alatproduksi harus

menjadi milik bersama seluruh masyarakat, digunakan bersama, dan hasilnya untuk memenuhi kepentingan hidup bersama di bawah pengatur negara.

– Kontradiksi antara idiologi kapitalisme dan Sosialisme

Dalam kapitalisme, negara adalah pelayan kaum kapitalis. Negara harus membuat undang-undang untuk melindungi kepemilikikan kapital kaum kapitalis. Disamping itu negara harus

melaksanakan kebijakan politik yang melindungi dan menguntungkan kaum kapitalis. Sedangkan sosialisme, negara adalah pelayan rakyat. Negara harus membuat undang-undang

untuk melindungi kepemilikan bersama seluruh masyarakat atas alat-alat produksi. Di samping itu negara harus melaksanakan kebijakan politik yang melindungi dan menguntungkan

kaum pekerja (buruh).Tentang lahirnya paham baru post modernisme dan postmarxisme yang dewasa ini sedang diminati oleh banyak pemikir, itu hakikatnya adalah revisionisme yang

akan mengaburkan keserakahan kapitalisme dan tesis revolusisosial menuju sosialisme. Post modernisme dan post marxisme hanya “kembang pemikiran” yang sedang meka terapkan tanpa

didasari oleh kekuatan basis (sistem ekonomi).Oleh sebab itu kembang pemikiran tersebut akan segera layu dan berguguran. Seperti tulisan Fukuyama, yang menjelaskan bahwakapitalisme akhir

adalah hegemoninya dan dominasinya konsumerisme, ia hanya melihat permukaan gejala sosia lsaja, ia tidak melihat hakikat dari gejala social tersebut. Demikian juga tentang post Marxisme,paradigma

itu hanya sebagai “hiburan kaum intelektual kiri” saja yang tidak sabar menunggu datangnya revolusi sosial. Oleh sebab itu dengan lahirnya postmarxisme, bukan berarti Marxisme sudah mati.

PostMarxisme itu hanya aliran segelintir pemikir kiri yang menyimpang dari Marxisme dan dapat dipastikan tidak akan didengar oleh kaum pekerja (buruh), apalagi dijadikan senjata morilnya.

Kaum pekerja (buruh) dimana pun selama masih ada kapitalisme tetap akan menggunakan Marxisme sebagai senjata morilnya (senjata perjuangannya). Post modernisme hakikatnya adalah

paradigma “pemikir bingung”, karena landasan berpikirnya adalah pikiran itu sendiri, bukan kondisi riil kehidupan sosial. Olehsebab itu paradigma post modernisme dapat dipastikan cenderung

ke idealisme (pikiran yang melahirkan kondisi obyektif, bukan kondisi obyektif yang melahirkan pikiran). Baik post marxisme maupun postmodernisme hanya sebagai buah pikiran berdasar pikiran,

bukan buah pikiran berdasar kondisi obyektif kehidupan sosial, akhirnya keduanya akan ditelan dan hilang oleh sejarah perkembangan masyarakat, karena hakikatnya sejarah adalah sejarah konflik

kepentingan kehidupan riil (kehidupan ekonomi) antaragolongan penguasa dengan golongan yang dikuasai, kemudianberkembang menjadi konflik ideologi.

2. Kontribusi Islam sebagai salah satu Ideologi terbesar Dunia

-Islam Sebagai Idiologi

Konsep universalitas Islam (syumuliyah) membuatnya jauh lebih besar dari sekedar ‘lembaga agama’ ataupun sekedar semangat spiritual pemeluknya. Ia adalah cara hidup total yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Islam merupakan kesatuan organik dengan pemeluknya. Sebagai sebuah ideologi, Islam telah menjadi sumber inspirasi bagi para penganutnya, terutama saat menghadapi realitas. Ia tidak hanya sekedar sebagai alat untuk merubah atau mempertahankan tatanan sosial, tetapi juga sekaligus menjadi alat analisis terhadap berbagai fakta sosial.Pada sisi lain, Islam senantiasa mendorong pemeluknya untuk secara terus menerus merealisasikan doktrin keagamaannya dan menganggap realisasi doktrin tersebut sebagai konsekuensi iman. Dalam Islam, iman adalah sebuah keyakinan yang mengandung konsekuensi tindakan (al-imanu huwa al-tashdiqu bi al-qalb, wa al-iqraru bi al-lisan wa al-‘amalu bi al-arkan– iman adalah pembenaran dalam hati, pengikraran secara lisan dan penunaian serta pembuktian dengan tindakan dan perbuatan).
Islam bermakna menyerahkan diri (aslama) pada Allah swt secara penuh hingga membebaskannya dari berbagai macam belenggu kehidupan yang memasung dan merenggut kebebasannya. Ia adalah agama Allah yang terakhir yang dibawa oleh Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia. Islam merupakan agama sempurna yang diridhai Allah (Qs. Al-Maaidah: 3) yang mampu membebaskan manusia dari berbagai belenggu kehidupan, dan mengantarkan manusia untuk hidup penuh damai dan kebahagiaan.

Di wilayah inilah, Islam berposisi sebagai ideologi hidup seorang muslim. Arus ini memahami agama Islam bukan sekedar sebagai keyakinan agama (aqidah diniyyah),tetapi ia adalah aturan sosial (qanuun ijtima’iyyah),petunjuk spiritual (hidayah ruuhiyah) dan ikatan sosial politik (rabithah ijtima’iyah siyasiyah).

– Implementasi islam sebagai agama dan doktern

Sejatinya, sebagai ajaran (doktrin), bagi para pemeluknya, Islam harus senantiasa diyakini kebenarannya seraya ditaati dan dilaksanakan titah-titahnya. Bagaima­na agar titah Islam dilaksanakan semua pemeluknya?. Dan media apa yang bisa digunakan sebagai “alat” untuk tugas implementasi Islam tersebut?. Yang paling efektif dijadikan “alat” adalah politik karena politik memiliki kekuatan pemaksa dalam menetapkan kebijakan publik.
Dalam kaitan ini, secara garis besar, umat Islam terbagi pada dua mazhab. Pertama substantifisme, yang meyakini bahwa sebagai ajaran yang komprehensif, Islam mencakup seluruh aspek kehidupan termasuk politik. Sedangkan kedua adalah sekularisme, yakni meletakkan Islam dan politik pada dua tempat yang berbe­da, satu berada pada mahligai suci (sakral) sedangkan yang lainnya berada pada koridor kehidupan yang kotor (profan).
Bagi yang melihat agama semata fenomena eskatologis, tentu akan melihat kekuasaan politik sebagai sesuatu yang musykil untuk dijadikan piranti bagi implementasi doktrin agama. Mungkin, pendapat Imam Al-Ghazali yang memandang sebelah mata terhadap pemuka agama (ulama) yang “mendekati” kekuasaan politik –disebut sebagai ulama su’ (buruk perangai), atau Ali Abdul Raziq (1888-1966) yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah semata pemimpin agama dan bukan pemimpin nagera (politik), bisa memberikan legitimasi terhadap fenomena terse­but.

– Kontibusi islam terhadap kemajuan Barat

Peradaban Islam telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi peradaban Barat, namun masih banyak yang mengabaikan kenyataan itu. Sejumlah kurator seni mengungkapkan hal tersebut dalam pameran bertajuk ‘1001 Inventions: Discover the Muslim Heritage of Our World’ yang dibuka pekan ini, diselenggarakan atas kerjasama British Home Office dan Departemen Perdagangan dan Perindustrian. kontribusinya bagi ilmu pengetahuan, teknologi dan seni pada masa abad kegelapan dalam sejarah Eropa. Beragam inovasi dari peradaban Islam, mulai dari kios-kios dan catur sampai kincir angin dan ilmu memecahkan sandi rahasia-kesemua ilmu itu sangat populer dan cenderung diasosiasikan sebagai hasil peradaban Barat, padahal aslinya ditemukan oleh para ilmuwan dan cendikiawan Muslim.

Secara garis besar Muslim telah merumus kan dua kontribusi berharga dalam bidang pendidikan maupun ilmu pengetahuan, yang pertama bagsa Arab menjaga semua bentuk sistem pendidikan dan ilmu pengetahuan warisan dari nenek moyang yang telah di terjemahkan kedalam bahasa arab klasik, sedangkan yang kedua Muslim juga memberikan kontribusinya sendiri sehingga melahirkan ilmuan-ilmuan terkenal dan unggul sepanjang masa, antara lain ahli fisika, filsafat,geografi, juga sejarahwan. Keunggulan mereka dalam bidangnya tidak dapat tertandingi, ilmuan yang terkenal pada abad ini antara lain, dalam bidang ilmu pengetahuan Jabir, Jahir dan Baytar, dalam bidang matematika dan astronomi antara lain Khawarizmi, Umar Khayam, Abdul Waffa dan Nasiruddin Tusi, dalam bidang filsafat Ibn Farabi, Ibn Sina, Ghazali. Ibn Rusdi, Ibn Arabi dan Fakhruddin Razi, sejarahwan antara lain Tabri, Ibn Maskawiyah, Ibn Athir dan Ibn Khaldun, dalam bidang geografi Mas’ud, Idrisi, Ibn Hauqal dalam bidang muslik Al-Farabi, Zalzal, Siryab dan Ibrhim Mousli. Mereka adalah sarjana Muslim yang sangat berjasa dalam mengantarkan Islm menuju jaman kecemerlangan.
Sementara itu banyak universitas terkenal di dataran Islam pada abad pertengahan yang di jadikan pusat pendidikan, terutama di spanyol yang banyak di kunjungi oleh sarjana-sarjana Eropa.
kontribusi sarjana Islam tidak hanya merpengaruh di Eropa dalam bidang pengetahuan saja tapi juga dalam bidang yang lain seperti literature, seni dan budaya. Rhyme juga di perkenalkan kepada bangsa Eropa oleh Arabs. Puisi Patriarch di Prancis juga berasal dari Arab. Demikian besar kontribusi yang telah di berikan oleh sarjana Muslim walaupun akhirnya di kembangkan oleh bangsa Eropa, semoga dapat menjadi I’tibar bagi kita semua bahwa Islam pernah berjaya dan akan terus berjaya. Satu hal yang perlu kita ingat bahwa segala sesuatu tidaklah bersifat ultimate, seperti keberhasilan, kejayaan, keunggulan hanyalah bersifat sementara dan semuanya akan menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah-ubah, tanpa adanya penyesuaian keunggulan yang telah di capai akan punah di telan Zaman.

– Islam ditengah dua Idiologi

Berkaca dari kedua Ideologi diatas tentunya kita melihat adanya ketimpangan-ketimpangan yang ada dalam setiap perumusan ide-idenya. Namun seperti apa yang dikemukakan diawal, bahwa inilah dua Ideologi yang sedang menjajah dunia Islam lewat pemikiran-pemikiranya yang Atheisme. sama pula seperti yang telah katakan diatas bahwa kita umat Islam dapat menjadi penonton pada kemajuan zaman ini karena sistem pendidikannya yang kurang bagus. Intelektual-intelektual kita digodok dan di bius oleh pemikiran-pemikiran barat sehingga muncul keraguan terhadap konsepsi-konsepsi yang ada dalam ajaran Islam. Gejala ini diperparah dengan sedikitnya “pemimpin Islam” yang berusaha memperbaiki keadaan sehingga kemerosotan moral para Intelektual dan terjadinya Deislamisasimelalui program pendidikan tak dapat dielakan.
Kebebasan berusaha dengan modellaissez-faireyang memarginalkan peran negara dalam mengatur keseimbangan ekonomi telah mencitptakan suatu ketimpangan yang mencolok. Kekuatan yang dimiliki oleh para pemilik modal untuk melakukan usaha dengan sebebas-bebasnya telah membuat kalangan miskin menjadi objek usaha mereka. Logika yang berkembang di masyarakat adalah rasionalitas ilmiah, di mana sistem aturan dalam tata sosial masyarakat semakin lepas dari pertimbangan etis, sehingga nilai-nilai moral, agama dan sosial hanya jadi urusan privatyang didasarkan atas pertimbangan prarasionalitas dan konvensional
Dalam sejarahnya banyak terdapat catatan yang jauh lebih buruk.Kemiskinan dan kelaparan di Dunia Ketiga, kesenjangan ekonomi antara negara-negara maju dengan negara dunia ke tiga, konflik dan perang antara bangsa yang terus-menerus, dan terutama penjajahan negara-negara kapitalis besar seperti AS dan sekutunya atas negara-negara lain, khususnya negeri-negeri Islam, justru terjadi dan tidak pernah berhenti hingga detik ini ketika ideologi Kapitalisme dan demokrasi mendominasi dunia. Islam sebagai sebuah dinmengatur dalam konsep ideologis sistem kenegaraan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia meliputi bidang sosial, ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan dan seluruh bidang kehidupan lainnya.

Kita tidak bisa pungkiri dominasi barat dalam semua dimensi kehidupan peradaban umat manusia, dan ini menjadi tantangan buat kita sebagai umat Islam untuk mencoba mengaktulkan kembali eksistensi Islam sebagai suatu ajaran yang unggul dan kafah. memang sangat susah hidup ditengah-tengah membanjirnya paham Kapitalis dan Sosialis. walaupun begitu keadaannya kita tentunya harus tetap optimis dan yakin ditengah-tengah minimnya keyakinan.

BAB III Penutup

Kesimpulan

Islam memberikan batasan kebebasan dalam hak kepemilikan menjadi hak milik pribadi, milik umum dan milik negara. Hak milik umum tidak boleh dimiliki dan dikuasai negara. Negara hanya berperan sebagai pengelola dan pengontrol pemanfaatan hak milik umum seperti barang tambang, kekayaan laut, kekayaan hutan dan sumber daya lainnya. Negara tidak boleh memberikan dan menjual hak milik umum kepada pribadi, badan usaha pribadi atau kelompok, apalagi kepada pihak asing untuk dikelola dan diambil manfaatnya secara sepihak. Dengan adanya pengaturan ini, maka akan tercipta pemerataan distribusi, perputaran modal yang merata dan mekanisme pasar yang seimbang.

Islam juga secara tegas menentang bank dengan sistem riba [bunga] karena akan dijadikan alat pengisap modal dari masyarakat untuk menyokong perusahaan-perusahaan besar sebagai sekutu usaha bersama dalam menghimpun modal sebesar-besarnya Islam sebagai sebuah dinmengatur dalam konsep ideologis sistem kenegaraan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia meliputi bidang sosial, ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan dan seluruh bidang kehidupan lainnya.

Apabila kita menelaah secara rasional dan lebih mendalam., maka hanya Islamlah sebagai satu-satunya alternatif untuk memecahkan permasalahan umat sekarang ini. Penerapan sistem ideologi berdasarkan Islam mencakup penyaturan seluruh bidang kehidupan bagi umat manusia akan membawa pada pencerahan yang sempurna.

Maro’ji

-gigihnusantaraid@yahoo.com

– Rohim Ghazalihttp://www.blogger.com

-www.eramuslim.com/

-darul-arafah.blogspot.co

-www.kammi.com

-www.indomedia.com/bpost

-www.hizbut-tahrir.or.id/

-ROEhttp://www.blogger.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s