My Beloved Hometown

Posted: 11 September , 2008 in Karya Tulis Ilmiah

mndMANADO MONUMEN PLURALISME BERAGAMA

DI INDONESIA

Oleh : Anita Deka*

Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan termasuk didalamnya perkembangan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan, yang begitu pesat secara relative memperdekat jarak dan budaya antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Hal demikian pada gilirannya, juga mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kesadaran manusia tentang apa yang disebut fenomena “ Agama”.

Pada penghujung abad ke-19, lebih-lebih pada pertengaan abad ke-20, terjadi pergeseran paradigma pemahaman tentang “agama” dari yang dulu terbatas pada “ idealitas “ kearah “historitas” dari yang hanya berkisar pada doktren kea rah etnitas “ sosiologis “ dari diskursus “ esensi” ke arah “eksistensi”.[1]

Dalam pergaulan dunia yang semakin terbuka, orang tidak dapat dipersalahkan untuk melihat fenomena-fenomen “agama” secara aspectual, dimensional danbahkan multidimensional approaches. Selain agama memang mempuyai doktren teologis-normatif, dan memang disitulahletak “ hard core” dan padakeberagaman manusia, orang dapat pula melihatnya sebagai “tradisi”, sehingga berkembangnya paham-paham agama dewasa ini telah menjadi kenyataan hidup manusia, suka atau tidak suka terhadap pluralisme yang sudah menjadi bagian yang mestakung (semesta mendukung ) dibawah kolong langit. Namun pluralisme agama menghdapkan kita pada tantangan iman, bagaimana mendefinisikan iman kita ditengah keragaman iman yang lain.

Dalam plurlisme agamatidak digerakan untuk menuju kehidupan yangdisharmonis pertikaian ataupun perkelahian fisik antara agama. Di Sulawesi Utara khususnya Kota Manado yang penulis tempati merupakan daerah yang multikultural dimana beragam agama, suku, dan budayayang telah menjadi realita dikota Manado, meski dengan perbedan-perbedaan agama yang sering ditemui tidak menjadi penghambat mereka untuk melakukan aktifitas, interaksipun tetap bejalan, dimana telah menjadi kebiasaan yang agak umum bahwa semua golongan beragama melakukan kerjasama dalam pembangunan mesjid, gereja atau dalam pembangunan gedung sekolah swasta, dengan suasana ramai dan spontan kerjasama itu membuktikan hubungan antara umat beragama didaerah ini cukup potensial dan tidak dilakukan secara terpaksa oleh komunitas dari agama yang berbeda.

Keharmonisan yang terbangun antara umatberagama disulawesi utara khususnya Manado membuat penulis ingin menelaah lebih jauh lagi, karena kalau berbicara konflik seharusnya Manado sendiri berpotensi konflik, karena dari segi multikultualnya akan banyak perbedaan-perbedaan pendapat yang akan bermunculan, ataukah dikarenkan Manado plural dari segi etnis, dan apakah karena dibantu oleh badan kerja sama antar umat beragama (BKSAUA) sehingga sampai sekarang semboyan dari mantan gubernur sulawesi utara E.E. Mangindaan “ Torang Samua Basudara”[2] masih tertanam dihati masyarakat kota Manado.

Analisis ini merupakan ekses positif terhadap realita yang sedang terjadi di kalangan kota Manado, sehingga sampai sekarang apakah pantas kota Manado disebut sebagai monumen pluralisme beragama di Indonesia,dengan melihat latar realita diatas penulis rasa penting untuk dibahas.


A.)Letak Geografi Kota Manado

Kota Manado[3] diperkirakan sudah didiami manusia sejak abad XIV dan nanti pada abad XVII ( 1623 M ). Menurut perkembangan sejarah nasional Indonesia, Manado telah dikenal sejak abad ke- 16. Pada abad ini, Manado bahkan telah dikenal oleh orang-orang Barat ( Eropa ) karena hasil buminya. Hal ini sebagimana termuat dalam dokumen Negara Bab VII, tentang kesan-kesan histories Manado – Minahasa pada tahun 1623.[4]

Kemudian, berdasarkan beslit GubernurJenderal Hindia Belanda maka terhitung mulai tanggal 1 juli 1919, gewets Manado ditetapkan sebagai staats gerneente yang kemudian dilengkapi dengan alat-alat yakni dewan germeente atau gemeente raad yang diketuai oleh walikota ( Burgemeeste ).[5]

Sesuai beslit tersebut, makaditetapkanlah hari lahir kota Manado, yakni pada tanggal 14 juli 1623, dengan penjelasan secara fiksasi bahwa tanggal 14, di ambil dari tanggal 14 februari sebagai hari terjadinya peristiwa merah putih, dimana pada waktu itu putra-putra daerah bangkit menentang penjajahan colonial Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan. Bulan juli, diambil dari unsur yudiris, bahwa pada bulan juli tahun 1919, beslit gubernur jenderal dikeluarkan. Tahun 1623 diambil dari unsur historis, bahwa nama Manado mulai dikenal, disebut-sebut, bahkan digunakan dalamsurat-surat resmi. Berdasarkan 3 peristiwa tersebut, maka hari lahir kota Manado jatuh pada tanggal 14 juli 1623 dan untuk tahun 2008 ini Manado telah merayakan HUT-nya yang ke- 383.[6]

Kota Manado terletak di ujung pulau Sulawesi Utara, dengan kedudukan khusus sebagai Ibu kota Propinsi Sulawesi Utara. Posisi geografis Kota Manado terletak pada 1240 40’55’ sampai dengan 1240 55’54 bujur timur dan 00 25’43 sampai dengan 0.10 38’55 Lintang Utara.[7]

Sesuai PP No. 22 Tahun 1998 Perubahan Batas wilayah, maka luas kota Manado yang semula hanya 2.369 Ha bertambah menjadi 15.726 Ha. Kaitannya dengan hal iu, ditetapkan perda (Peraturan Daerah ) No. 04 tanggal 27 September 2002 perubahan status desa menjadi kelurahan.[8] Dengan demikian wilayah administrasi kota Manado yang semula terdiri atas 5 kecamatan dengan 66kelurahan / desa, menjadi 9 kecamatan dengan 87 kelurahan.

Berdasarkan hasil sensus tahun 2008, tercatat bahwa jumlah penduduk kota Manado sebanyak 413.554 jiwa dengan komposisi penduduk menurut kecamatan.[9] Dari sekian jumlah penduduk yang tersebar dalam tiap-tiap kecamatan adalah masyaarakat Manado yang awalnya sebagai pendatang dari berbagai daerah, baik dari dalam maupun dari luar daerah Sulawesi Utara. Menurut Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1532.[10]


Skema : Demografi Penduduk Kota Manado

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]>SHAPE\* MERGEFORMAT <![endif]–>

Asli

Penduduk

Pendatang

Orang Indonesia

Orang Asing

Minahasa

Sangihe Talaud

Bolaang Mongondow

Gorontalo

Bugis/Makasar

Ternate

Maluku

Batak

Jawa

Cina

Arab

Sangir Tua

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>


B.)Sruktur Ekonomi, Sosial, Politik dan Budaya

Kehidupan ekonomi masyarakat kota Manado tergolong pada kategori menengah keatas. Sebab dari data sensus tahun 2000 menunjukan konsumsi perkapita masyarakat sebagian besar mencapai Rp. 100.000,00 s/d Rp 150.000,00 per bulan. Kehidupan ekonomi yang kemudian didukung oleh lapangan kerja yang cukup luas di Manado. Jenis lapangan kerja yang ditekuni oleh penduduk Manado mulai dari Pegawai Negeri ( PNS ), peternakan, perikanan, indusrti, pedagang, pengangkutan darat dan TNI / Polri.

Dalam bidang sosial, seiring dengan pesatnya perkembangan pendidikan didaerah ini cukup baik. Kegiatan-kegaiatan sosial yang dikelolah masyarakat lewat berbagi organisasi berkembang pesat. Lembaga pendidikan baik yang dimiliki oleh pemerintah maupun swasta tumbuh subur ditangah masyarakat. Demikian pula dengan kehadiran pesantern yang dikelolah dengan baik oleh para ustabdz dan ustadza besar andilnya dalam mengembangkan kegiatan sosialnya.

Ada sejumlah struktur kegiatan yang dijadikan akomodatifterbuka bagi semuagolongan sehingga dapat meredam isu dan koflik yang dapat muncul, terutama konflik yang bersifat antar golongan atau antar kelompok. Misalnya, bidang ekonomi. Struktur kegiatan dalam bidang ekonomi hubungan antara umat beragama tidak memeperlihatkan batas-batas sosial yang disebabkan perbedaan agama, maka kondisi tersebut sngat memungkinkan terwujudnya dialog. Dalam kehidupan ekonomi tidak terlihat adanya identitas agama yang di aktifkan utuk memenagkan persaingan. Dalam bidang ini, hubungan-hubungan itu berlangsung atas dasar keuntungan yang diperoleh oleh masing-masing pihak yang terlibat. Aktivitas ekonomi ini dapat dijumpai dibeberapa tempat, misalnya dipasar bersehati, pasar karombasan, pasar tuminting, maupun aktifitas ekonomi yang ada dipusat 45 ( bender).

Sedangkan dalam bidang politik dan budaya masyarakat Manadomnunjukan kemajuan yang pesat. Dalam bidang politik bias dilihat dengan kehadiran berbagai partai politik di daeah ini baik Golkar, PPP, PAN, PKS, PBB, PKB, PDI- P, PDS dan liain-lainya banyak mendapat dukungan dari masyarakat pemilih.

Budaya masyarakat siring dengan meningkatnya pendidikan tenyata mengalami kemajuan. Kerukunan yang dimiliki oleh masyarakat Manado. Konflik agama yang dialami oleh daerah daerah sacara geogafis tidak begitu jauh dari Manado. Justru dianggap tidak mempengaruhi keadaan hubungan antar umatberagama didaerah. Hamonisasi sosial –agama cukup terpelihara, walaupun bnyak kalagan yang ragu mengenai stabilitas keamanan politik menjelang pemilu 2008. tapi kekhawatiran ini tidak terealisasikan, dimana kota Manado tetap menunjukan rasa aman, damai dan rukun. Kenyataan ini makin meningkatkan rasa kepercayaan masyarakat Manado bahwa kota Manado adalah “kota damai “ (peace Village )yang berhasil dibangun oleh pemerintah / aparat dan dukungan masyarakat.

Masyarakat Manado mengenal budaya terbuka dan toleransi dalam kehidupan keseharian mereka. Alasan yang menjadi bukti dari budaya terbuka dan toleransi ini dapat diamati dalam kehidupan sosialitas masyarakat Manado dengan komposisi masyarakat yang berasal dari latar belakang agama budaya dan suku yang berbeda-beda ini di ikat dalam ikatan simbolik yaituBo- Hu- Sa –Mi (BolaangMonongondow-Hulontalo/Gorontalo-Sangir-Minahasa). Ikatan simbolikini, dipahami oleh masyarakat Manado sebagai ikatan persaudaraan yang tidak memeperdulikan perbedaan bahasa, suku dan budayabahkan agama.


C.)Sejarah dan Peran BKSAUA

BadanKerja Sama Antar Amat Beragama yang kemudian disingkat menjadi BKSAUA adalah sebuah oraganisasi yang beranggotakan perwakilan dari lima agama yang di akui, yang di akui oleh pemeritah, terdiri atas islam, Kristen protestan, katolik, Hindu dan Budha. Sementara konghucu tidak termasuk dalam keanggotaan organisasi ini.

BKSAUA dibentuk pada tanggal 23 juli 1969, berdasarkan surat keputusan gubernur / kepala daerah tingkat I propinsi sulawesi utara No. 91/KPTS/ 19us anggota69.(8) surat keputusan gubernur dalam hal ini H.V worang berisi tentang pembentukan badan kerja sama antar umat beragama Propinsi sulawesi utara.

Menurut Pdt. DR. R. A. D. Siwu salah seorang tokoh agama kristen protestan dan sekaligus anggota BKSAUA mengatakan ada beberapa factor pendorong terbentuknya organisasi tersebut, terdiri atas ; 1. kondisi sosiologis masyarakat sulawesnai utara yang majemuk, 2. Kecenderungan masyarakatnya yang terbuka dan toleran 3.Peristiwa serangan G 30 Septemberdan 4 masalah kultur yang dihadapioleh masyarakat sulawesi utara.(9).

Faktor-faktor di atas mendorong diakannya Musyawarah Alim Ulama Antar Umat Beragama se- Propinsi Sulawesi Utara. Musyawarah tersebut diprakarsai oleh Pemerintah Daerah Tingkat I yang berlangsung pada tangga 29-30 November 1967.[11] Musyawarah ini dihadiri oleh wakil-wakil dari lima agama.[12] kesepakatan para pemimpin agama untuk menerima usulan tersebut baru dapat dilaksanakan pada tanggal 3-7 jul 1969, setelah BKSAUA terbentuk, maka pada tanggal 6 oktober 1969 organisasi ini melaksanakan siding yang pertama.

Kepemimpinan BKSAUA adalah kepemimpina yang bersifat presidium dan merupakan satu kesatuan kepemimpinan kolektif. Jenis tata kerja yang dilaksanakan oleh organiasi BKSAUA terdiri atas sidang pleno dan musyawara. BKSAUA mempunyai secretariat yang berfungsi sebagai pengendalian adminitrai BKSAUA. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa segala kegiatan BKSAUA dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja (APBD) Tingkat I Propinsi Sulawesi Utara dengan ketetapan tersendiri oleh Gubernur Kepala daerahTingkat I Propinsi Sulawesi Utara.

Tugas- tugas yang di emban oleh BKSAUA di atas lahir dari kesadaran untuk memelihara terciptanya toleransi dan kerukunan antar umat beagama. Menurut beberapa anggota pengurus BKSAUA, keberadaan BKSAUA merupakan alat untuk meredam terjadinya konflik di dalam lingkungan inter / antar umat beragama. BKSAUAsebagai organisasi keagamaan menjalankan tugasnya selalu berpedoman pada kesepakatan-kesepakatan yang telah diepakati bersama seperti yang termuat dalam tugas-tugas pokok BKSAUA diatas. Organisasi ini turut terlibat dalam melakukan pencegahan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan dibidang keagamaan. Dari data yang ada, BKSAUA telah banyak melakukan kegiatan antar umat beragama yang penuh dengan persahabatandan kekeluaragaan demi terwujudnya kerukunan antarumat beragama. Dibawah ini penulis akan menguraikan bentuk- bentuk kegiatan BKSAUA dalam bentuk kerjasama antarumat beragama.

1.Kerjasama dalam pembangunan masjid dan gereja

Sebuah kebiasaan yang agak umum bahwa semua golongan beragama melakukan kerja samadalam pembangunan mesjid, gereja atau dalam pembagunan sebuah gedung swasta. Kerja sama seperti ini pada umumnya dipelopori oleh pemerintahan setempat yang bekerja sama dengan pimpinan BKSAUA baik pada tingkat kecamatan, kelurahan maupun desa. Dengan suasana ramai dan spontan, kerja sama itu membuktikan bahwa hubungan antarumat beragama di daerah ini cukukp potensial dan tidak dilakukansecara terpaksa oleh komunitas dari agama-agama yang berbeda. Misalnya kegiatan pengocoran pembanggunan masjid Qordova yang terletak di kelurahan Perkamil dekata kampus STAIN Manado. Kaum Kristian dari kelurahan itu membantu kaum Muslim dlam pembangunan masjid QOrdova pada tahun 1996. contoh pembangunan rumah ibadah ini seperti tergambar dalam hubungan antara kaum Muslim dan Kristen di Harison, salah satu bagian dari kota metropolitan New York[13].

Dalam hal ini pendirian rumah ibadah, umat Kristiani berbeda dengan umat Islam. Hal ini didasarkan pada pendapat Abdurrahman Wahid yang mengatakan:

…orang Islam tidak akan memandang apakah dia Sunni ataukah Syi’ah, NU ataukah Muhammadiyah, pengikut fiqh Syafi’I, Maliki, Hambali atau Hanafi, penganut teologi Qadariah, Jabariah dan seterusnya, mereka bisa duduk dan shalat bersama dalam satu masjid. Orang-orang Kristen tidak begitu, karena mereka dibagi dalam sekte, sinode dan aliran-aliran yang memang ritus dan liturginya berbeda-beda. Jadi, kalau di setiap kilometer ada gereja itu tidak aneh. Bukan untuk bersaing dengan masjid orang Islam tetapi bersaing sesama mereka[14].

Kerja sama dalam pembangunan rumah ibadah di ota Manado sebagai gambaran tentang budaya toleransi yang tumbuh dalam masyarakat di daerah ini. Berbaurnya antara komunitas yang berbeda agama, suku dan golongan tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk melakukan berbagai macam kegiatan.

2.Perayaan Hari-Hari Besar Agama

Selain pendirian rumah ibadah, umat beragama tidak bisa menghindar dari berbagai cara keagamaan di lingkungan yang kian heterogen. Misalnya perayan halal bi halal dan Natal secara bersama[15]. Para pemuda Gereja melakukan penjagaan begitu juga sebaliknya. Dari contoh ini perbedaan agama tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk saling mengunjungi dan mengucapkan selamat hari Natal dan Hari Raya Idul FItri.

3.Menghadiri upacara perkawinan dan kematian.

Dalam contoh ini ada sikap yang luwes para alim ulama termasuk dari kalangan BKSAUA terhadap calon mempelai yang berbeda agama, sehingga hampir tidak ada keluarga besar marga Sulawesi Utara yang semuanya seagama. Dalam acara perkawinan, masyarakat dari berbeda-beda agama, suku dan golongan termasuk dan turut membantu keluarga melaksanakan hajatan (perkawinan). Begitu juga dalam hal kematian. Dalam kasus seperti ini, rasa saling membutuhkan satu sama lain dan merasa ikut terpanggil dalam suka dan duka dalam wujud kerjasama antar sesama merupakan gambaran betapa tingginya budaya mapalus dalam masyarakat Manado, sehingga nampak solidaritas sosial yang dibangun secara bersama di atas perbedaan agama dan keyakinan demi terwujudnya suatu masyarakat yang rukun dan damai.

4.Kerjasama dalam pemberantasan judi.

Dewasa ini judi sudah menjadi problem sosial yang nyaris merata. Perjudian telah merajarela dan masuk ke seluruh wilayah. Bentuk-bentuk perjudian yang paling merakyat di kota Manado, misalnya togel (toto gelap), binbol, kasino, amusement, sabung ayam, permainan kartu dan masih banyak lagi jenis-jenis perjudian yang dilakukan oleh sebagian oknum masyarakat Kota Manado. Oknum-oknum yang terlibat dalam perjudia ini tidak hanya dari lapisan masyarakat bawah, tapi juga dari kalangan atas. Bahkan keterlibatan oknum aparat kepolisian yang seharusnya memiliki kewajiban untuk memberantas segala praktek perjudian menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat Kota Manado.

Upaya pemberantasan judi ini sebenarnya dilakukan oleh BKSAUA sejak tahun 1983. bagi BKSAUA pemberantasan judi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena semua bentuk perjudian di daerah ini merupakan kebijakan Pemkot Manado dalam bentuk peraturan. Kebijakan mengenai legalisasi perjudian banyak menuai protes baik dari BSAUA, MUI Sulut dan masyarakat. Kerjasama pemberantasan judi yang dilaksanakan oleh pihak BKSAUA bekerjasama dengan pihak kepolisian tetap terus digalakan. Para pimpinan BKSAUA menyadari bahwa judi dapat memicu perkelahian antar bandar maupun broker judi. Kasus Ketapang menjadi bukti dimana judi menjadi pemicu lahirnya perkelahian yang kemudian dihembuskan menjadi konflik agama dengan adanya pembakaran rumah ibadah.

5.Kerjasama pemberantasan miras

Miras atau minuman berakohol termasuk target yang harus diberntas oleh para anggota dan presidium BKSAUA. Menurut mereka miras sangat berbahaya yang dapat mengakibatkan seseorang melakukan tindakan-tindakan destruktif. Masyarakat Manado selalu khawatir untuk melakukan aktivitas di luar rumah terutama di malam hari. Hampir di setiap tempat, lorong-lorong jalan menjadi tempat berkumpulnya para pemuda yang sedang melakukan pesta minum minuman keras, bahkan tidak sedikit para pemuda ini melakukan aksi bapajak atau badola.[16] Di samping bekerjasama dengan pihak kepolisian, para pimpinan organisasi ini selalu menghimbau kepada para umatnya elalui ceramah/khutbah tentang bahaya miras.

Dalam kasus miras, memang ada sedikit persoalan. Berbeda dengan masalah judi, sikap agama mengenai miras berbeda-beda. Agama Islam sangat jelas dan eksplisit mengharamkan miras dan menyebutnya sebagai perbuatan setan (QS. 5: 90-91). Oleh karena itu gerakan anti miras lebih mudah mengambil simpati dari kalangan Islam. Sementara dalam tradisi agama lain seperti Kristen, persoalan miras tidak menjadi mainstream ajaran. Misalnya, dalam Perjanjian Lama disebutkan bahwa anggur berkadar alkohol tertentu (wine) merupakan bagian dari praktik ritual, karena ia diyakini sebagai simbol dari anugerah Tuhan. Bahkan dalam perjanjian baru (Lukas 7: 33-34; Jhon 2: 1-11; Matius 26: 26-29) dinyatakan bahwa Yesus dan pengikut-pengikut awalnya menjadikan wine sebagai minuman sehari-hari yang juga disajikan dalam pesta-pesta sesuai dengan tradisi masa itu. Disamping referensi tersebut yang menematkan miras dalam lingkup positif, di lain pihak Injil mengecam keras mereka yang menegakkan miras sampai mabuk (Lukas 21: 34). Dalam perjanjian baru (Cor 5: 11; 6: 10) juga terdapat kecaman serupa tehadap para pemabuk. Kecaman serupa juga tercermin pada ucapan St. Paul yang menggambarkan tubuh manusia sebagai tempat suci (Temple of the Holy Spirit) yang kemudian ditafsirkan bahwa tubuh harus dipelihara dari noda termasuk minuman keras.

6.Kerjasama pemberantasan narkoba

Seperti perjudian dan minuman keras, narkoba menjadi perhatian para pimpinan BKSAUA. Menurut salah seorang pengurus BKSAUA, narkoba adalah bahaya yang harus diwaspadai, karena kebayangan para pengguna dan koraban dari narkoba adalah remaja yang merupakan generasi penerus bangsa.

Himbauan BKSAUA melalui ceramah/khutbah pada para orangtua agar senantiasa memberikan perhatian pada anak-anaknya agaar tidak terlibat dalam pesta narkoba. Peredaran narkoba saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dimana peredaran narkoba hanya dilakukan pada tempat-tempat tradisional, seperti hiburan malam. Sementara saat ini sudah masuk ke “wilayah-wilayah terlarang” seperti sekolah-sekolah. Malah lebih parah lagi sekolah dasar (SD) tidak luput dari incaran para pengedar narkoba.

Ini jelas ancaman untuk seluruh lapisan masyarakat Manado, terutama kalangan umat beragama. Sebab, agama manapun melarang umatnya untuk mengkonsumsi narkoba.

7.Dialog Antarumat Beragama

Kegiatan dialog antarumat beragama yang dilakukan BKSAUA merupakan langkah untuk menghilangkan sikap dan pandangan eksklusif yang tercermin dari pola pikir dan cara pandang para penganut agama. Sikap dan pandangan seperti ini berimplikasi pada keretakan hubungan atarumat beragama. Dialog sebagai cara efektif yang dapat menyatukan umat beragama yang berbeda-beda dan melangkah ke arah kerjasama dan saling menghargai satu sama lain.

Gerakan dialog antarumat beragama yang dilakukan oleh BKSAUA merupakan pilihan yang strategis untuk mewujudkan kehidupan umat beragama yang rukun, damai, bebas dari kecurigaan dan perseteruan maupun pertentangan. Dengan dialog, semua umat beragama bertemu dan sling menyapa satu sama lain, sekaligus berkomunikasi antarsesama. Di samping itu dialog dapat mempertemukan umat beragama yang berbeda-beda yang selama ini hidup dan bermasyarakat dalam satu komunitas atau hidup dalam komunitas yang berbeda namun saling curigai sama lain.

Dialog antarumat beragama adalah salah satu dari beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh BKSAUA. Dialog antarumat beragama bukan untuk mengadakan peleburan (fusi) agama-agama menjadi satu agama, dan bukan pula untuk membuat sinkretisme “agama baru” yang memuat unsur-unsur ajaran agama. Dialog bukan pula untuk mendapatkan pengakuan akan supremasi agamanya sebagai agama yang paling benar dan menanggap agama lain adalah salah. Tetapi, yang dicapai oleh diaolg adalah bagaimana ppara partisipant dialog membicarakan tentang pentingnya membangun hubungan yang baik dan membangun kerjasama lintas agama. Hal ini dianggap penting karena tugas agama tidak hanya mengajarkan kepada pemeluknya untuk menyembah kepada Tuhan, tetapi tugas agama membawa misi pembebasan. Misi pembebasan ditujukan kepada mereka yang mengalami penindasan, eksploitasi dan ketidakadilan. Masalah ketidakadilan, eksploitasi, penindasan, kemiskinan merupakan masalah yang dihadapai oleh manusia sejak awal lahirnya agama-agama sampai saat ini. Semua itu mendesak untuk menuntut soslusi yang dapat membebaskan mereka dari masalah-masalah tersebut.Dengan memahami agama secara universal dan bukan secara parsial maka harus diarahkan pada pembebasan umat manusia yang dihadapinya.

Demikianlah bentuk-bentuk kegiatan yang digalakan oleh BKSAUA. Kegiatan-kegiatan di atas di satu sisi, sebagai upaya untuk membangun solidaritas lintas agama. Pada sisi lain sebagai refleksi atas pemahaman dan pengamalan atas perintah Tuhan yang termaktub dalam kitab suci. Solidaritaes lintas agama dapat dilakukan lewat kerjasama yang selama ini telah diagendakan, tanpa harus melihat perbedaan teolegis (aqidah) yang justru menempatkan perbedaan menjadi penghalang bagi hubungan antarumat beragama.

Akhir-akhir ini krisis yang dihadapi manusia cukup beragam dan kompleks. Masalah kemiskinan, ketidakadilan,moral dan etika tela melengkapi krisis yang dihadapi oleh manusia. Dari rangkaian kompleksitas masalah yang ada, membutuhkan penyelesaian mendesak agara manusia tidak larut dalam masalah tersebut. Adalah BKSAUA sebagai organisasi yang terlibat dalam mewujudkan pembangunan moral masyarakat, sangat signifikan keberadaannya sebagai organisasi yang dapat diharapkan mampu berbuat sesuatu untuk melakukan transformasi dan pembebasan bagi umat beragama yang menjadi korban dari struktur sosio-ekonomi yang menindas dan eksploitatif serta krisi ekologi yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Munculnya organisasi keagamaan dengan latar belakang dan tujuan yang berbeda-beda mengindikasikan bahwa kesadaran untuk mengiplementasikan nilai-nilai agama sangat kuat dalam keidupan umat beragama. Disamping itu, kesadaran ini juga lahir karena adanya pemahaman bahwa agama sebagai kekuatan pembebas untuk membebaskan umatnya dari keterpasungan, penderitaan, ketidakadilan.

Adalah BKSAUA sebagai organisasi yang menghimpun perakiln pimpinan dari lima agama yang diakui oleh pemerintah (Islam, Kristen, Protestan, Hindu dan Budha) cukup memberi peran atarumat bergama di Manado, Sulawesi Utara. Organisasi ini banyak melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan lintas agama. Baik itu kegiatan pembangunan psikis (bathiniyah) maupun fisik (lairiyah).

Mengamati dan menganalisis apa yang telah dilakukan oleh BKSAUA dalam kegiatan-kegiatan pembangunan secara lintas agama merupakan bentuk aksi “solidaritas lintas agama” (interreligious solidarity). Kenyataan ini patut diberikan penghargaan, karena kegiatan-kegiatan yang ada didasarkan pada pembangunan moral umat beragama dan pembinaan pentingnya kerja sama lintas agama dalam memberikan penyelesaian masalah yang dihadapai oleh umat beragama.

D.)Membangun Kultur Perdamaian Lewat Tahun Kasih

Perdamaian merupakan dambaan bagi segenap lapisan masyarakat yang hidup dalam kondisi sosial yang majemuk. Suasana damai memungkinkan terciptanya suatu hubungan sosial yang harmonis, rukun, dan saling menghargai satu sama lain, tanpa harus mengalami situasi insecurity yang mengancam misi perdamaian di muka bumi. Sejak permulaan sejarah perdamaian telah dianggap sebagai karunia dan rahmat, dan sebaliknya perang dianggap sebagai malapetaka dan azab. Namun baru sejak lair abad pertengahan, ahli-ahli filsafat dan negarawan dengan sistematis merenungkan masalah perdamaian.[17] Tidak sedikit organisasi-organisasi sosial keagamaan terus berupaya untuk mewujudkan masyarakat yang “bebas konflik” lewat program-program pembinaan, pendidikan, penegakan HAM dan demokrasi serta prevensi konflik. Untuk itu situasi Manado ada beberapa LSM yang concern dalam kegiatan seperti ini, misalnya Yayasan PEKA bekerjasama dengan DIAN/Interfidey Yogyakarta, Yayasan Serat FKUB, JAJAK Sulut dan BKSAUA itu sendiri. Program perdamaian tidak hanya dilakukan oleh LSM-LSM lokal, tapi juga LSM-LSM dunia, seperti yang dilakukan oleh komunitas Yahudi, Kristen dan Islam yang tergabung dalam ICPME yang dibentuk pada tahun 1987 di Amerika.

Memasuki Abad ke-21 bangsa Indonesia diguncang oleh konflik yang benuansa SARA yang terjadi di beberapa daerah, seperti Situbondo (konflik agama dan politik), Pontianak (konflik etnis dan agama), Ambon (konflik agama), Poso (konflik agama), Timika (konflik antarsuku), Medan (konflik etnis dan agama), Palembang (konflik etnis), Lampung (konflik etnis dan agama), Sanggau (konflik etnis dan agama), Ketapang (konflik etnis dan agama), Sampit (konflik etnis dan agama), Tasikmalaya (konflik politik, etnis dan agama), Kebumen, Solo, Kudus (konflik etnis dan agama), Mataram (konflik agama), Sikka (konflik agama), Kupang (konflik agama), dan Ternate Halmahera (konflik agama).[18] Konflik yang terjadi di ebebrapa daerah tidak hanya merusak bangunan-bangunan fisik lebih dari itu, konflik di atas telah memakan korban harta dan jiwa manusia dalam segala lapisan masyarakat. Akibat dari konflik tersebut telah menjadikan hubungan antar manusia tidak harmonis dan saling curiga satu sama lain.

Persepsi bahwa agama menjadi pemicu konflik telah tercatat dalam setiap lembaran sejarah umat manusia. Perang salib adalah bukti sejarah dimana agama menjadi pemicu antara bangsa Eropa yang beragama Katolik melawan bangsa Arab yang beragama Islam. Bagi umat Islam perang salib (Crusades) merupakan contoh Kristen militan dan pertanda awal agresi imprealisme Barat Kristen. Demikian pula yang terjadi di Irlandia Utara antara pemuluk agama Katolik dengan pemeluk agama Protestan. Dari dua kasus tersebut agama menjadi faktor dominan dalam mendorong lairnya konflik di tengah-tengah pemeluknya.

Pengelaman melihat konflik komunal yang terjadi di beberpa daerah pada umumnya ikut mendorong pemerintah tokoh agama dan seluruh lapisan masyarakat Manado khususnya dan masyarakat Sulawesi Utara dapat menjaga stabilitas keamanan dan kerukunan antarumat beragama yang dipelihara selama ini, yaitu sejak tahun 2002 Manado melakukan pencanangan “Tahun Kasih”. Semangat kebersamaan masyarakat itu dilatarbelakangi oleh keidupan masyarakatnya yang dijiwai dan disemangati oleh filosofi global “torang samua basudara, baku-baku bae, baku-baku inga kong baku-baku sayang” yang tetap dipertahankan sepanjang masa. Inisiatif ini merupakan bagian dari perhatian dan kepedulian untuk menyatukan keberagaman yang ada, dalam satu tali kasih yang rukun dan damai dalam rangka meningkatkan kerukunan, persaudaraan, dan cinta damai yang penuh kasih dalam masyarakat Sulawesi Utara.

Pesan-pesan perdamaian dan cinta kasih di atas menegaskan bahwa sesungguhnya agama tidak pernah mengajarkan dan memerintahkan kepada setiap pemeluknya untuk melakukan kekerasan. Untuk mewujudkan kasih dalam masyarakat Nyiur Melambai, tokoh agama dan segenap elemen masyarakat kembali mencanangkan kembali tahun kasih tanpa kekerasan. Dengan demikian budaya kasih dan budaya cinta adalah bentuk perlawanan terhadap kekerasan. Misi tersebut mendukung terciptanya kedamaian di kota Manado.

Pertama, memahami makna kasih dan mengimplementasikannya dalam kehidupan masyarakat yang plural.

Kedua, membangun kembali rule of law atau supremasi hukum, karena sekarang ini banyak masyarakat yang melaksanakan hukum dengan tangan mereka sendiri.

Ketiga, distribusi ekonomi yang merata dan penciptaan iklim polotik yang sehat dalam bidang ekonomi, realitas kesenjangan yang mencolok antara yang kaya dan yang miskin, atau penguasa dan rakyat telah menyuburkan kebencian dan dendam sosial yang sewaktu-waktu merebak menjadi amuk massa yang sulit dihindarkan. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi tidak boleh berpusat pada kelompok atau golongan tertentu, tetapi harus menyebar dan merata.

Dalam bidang politik, sakralisasi kekuasaan ingga kini masih sangat kuat, seperti terlihat pada pandangan sebagian rakyat kecil terhadap pemimpinnya sebagai personifikasi “orang suci” yang dipandang tidak pernah salah. Oleh karena itu perlu ada upaya kekuasaan, maka kepemimpinan politik akan berjalan melalui proses seleksi yang terbuka, wajar, alamiah dan tidak direkayasa.

Keempat, membangun masyarakat yang demokratis dengan budaya yang demokratis.

Kelima, kesalehan sosial. Diharapkan para toko agama elit pemerintah dan elit politik harus menjadi teladan bagimasyarakat luas dengan berperan aktif meletakkan landasan moral, etis, dan spiritual serta peninggakatan pengalaman agama baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Keenam, Intercultural Communication (komunikasi antarbudaya) meliputi interaksi antarorang dari latar belakang budaya yang berbeda-beda. Sehingga dengan demikian pemicu konflik yang akan terjadi sangat kecil, sebab dalam masyarakat yang majemuk konflik dalam bentuk-bentuk seperti ini bukan tidak mungkin tidak terjadi, oleh karena itu dibutuhkan Intercultural Communication (komunikasi antarbudaya).

Seingga sampai sekarang ini manado masih dikategorikan aman, jauh dari konflik-konflik seperti yang telah dipaparkan penulis karena didukung oleh berbagai pihak. Melihat realita masyarakat Manado dewasa ini pantaslah dikatakan sebagai “Monumen Pluralisme Beragama di Idonesia”.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Amin, Studi Agama : Normativitas atau Historitas, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.

Alkitab, Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 1991.

AlQuran, Departemen Agama Republik Indonesia, 1994.

Sekretariat Daerah Kota Manado, Himpunan Lembaran Daerah Kota Manado, Manado: Bagian Hukum dan HAM Setda Kota Manado, 2000.

Sumber Data: Badan Pusat Statistik Kota Manado 2008

Supit, Minahasa Dari Amanat Watu Pinawetengan Sampai Gelora Minawanua, Jakarta: Sinar Harapan.

Tesis Samsi Pomalingo, Dialog Antarumat Beragama: Studi Kasus tentang BKSAUA di Manado, Sulawesi Utara, 2004.

Wahid, KH. Abdurrahman, “Dialog Agama dan Masalah Pendakalan Agama”, dalam Qomaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF (ed), Passing Over. Melintasi Batas Agama (Jakarta: Gramedia dan Paramadina, 1998), hlm. 56.



*Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Manado Jurusan Tarbiyah Semester V (lima).

[1] Dr. M. Amin Abdullah, Studi Agama Normativitas Atau Historitas (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 9-10

[2] “ Torang Samua Basudara” Artinya kita semua bersaudara tidak memandang SARA ( Suku, Agama, dan Ras ) Karena Manado Kebanyakan adalah Masyarakat yang datang dari berbagai Daerah Kemudian menetap.

[3] Nama “Manado” digunakan untuk mengganti nama “Wenang”. Kata Manado sendiri berasal dari bahasa Minahasa yaitu “Mana rou” atau “Mana dou” yang dala bahasa Indonesia berarti “dijauh”. Kemudian dengan beslit Gubernur Jendral Hindia Belanda maka terhitung tanggal 1 Juli 1919, Gewest Manado ditetapkan sebagai Staatsgemente yang kemudian dilengkapi dengan alat-alatnya terdiri atas Dewan Gemente atau Gemeente Raad yang dikepalai ole Walikota (Burgemeester).

[4] Sekretariat Daerah Kota Manado, Himpunan Lembaran Daerah Kota Manado, (Manado: Bagian Hukum dan HAM Setda Kota Manado, 2000)

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Tesis Samsi Pomalingo, Dialog Antarumat Beragama (Studi Kasus tentang BKSAUA di Manado, Sulawesi Utara), 2004, hlm. 54

[8] Ibid, hlm. 55

[9] Sumber Data: Badan Pusat Statistik Kota Manado 2008

[10]Lihat B. Supit, Minahasa Dari Amanat Watu Pinawetengan Sampai GElora Minawanua (Jakarta: Sinar Harapan)

[11] Tesis Samsi…. Op. cit. hlm. 66

[12] Ibid

[13] DR. Marston selaku Direktur hubungan Kristen-Islam pada Dewan Gereja, menerima baik pendekatan panitia pembangunan masjid sehingga ia tidak saja menyetujui, bahkan memperjuangkan pada pemerintah setempat agar permohonan pendirian masjid bagi jama’ah daerah Horison dapat dikabulkan. Lihat Alwi Shihab,….op. cit. hlm 122.

[14] KH. Abdurrahman Wahid, “Dialog Agama dan Masalah Pendakalan Agama”, dalam Qomaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF (ed), Passing Over. Melintasi Batas Agama (Jakarta: Gramedia dan Paramadina, 1998), hlm. 56.

[15] Keterlibatan dan kehadiran umat Islam dalam perayaan hari Natal yang dilakukan secara bersama-sama lebih bersifat pasif. Artinya umat Islam tidak mengikuti bentuk-bentuk ritual yang dilakukan oleh umat Kristian, tetapi yang terpenting adalah bahwa antarumat Islam dan umat Kristian sama-sama menyadari bahwa mereka adalah sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

[16]Kata badola adalah kosa kata lokal yang mengandung arti mencegat atau menghadang. Aksi ini sering kali dilakukan di malam hari oleh para pemuda yang melakukan pesta mabuk-mabukan. Pemuda ini bervariasi, misalnya meminta uang, rokok, atau apa saja yang dimiliki oleh orang-orang yang berhasil mereka cegat. Seringkali ketika orang yang dicegat tidak menuruti permintaannya, mereka tidak segan-segan memukul bahkan sampai menikam si korban. Kemudian aksi ini berakibat pada perkeahian antara para pemuda yang melakukan aksi tersebut dengan teman-teman atau keluarga si korban.

[17]Tesis Samsi…loc. Cit, hlm. 108

[18] Ibid

Iklan
Komentar
  1. goodtomo berkata:

    asw…bagusbagusbagus….pokoknya tetep semangat

    Suka

  2. goodtomo berkata:

    aq tidak akan mlupakan akan kuingat terus
    jadi jgn khawatir yaa

    Suka

  3. Kelli Swazey berkata:

    Hello Anita –

    Saya sangat tertarik pada artikelmu. Nama saya Kelli Swazey, peneliti antropologi dari Universitas Hawai’i Manoa (USA), sedang tinggal di Manado.

    Penilitianku mengenai identitias etnik Minahasa dan kerukunan beragama di Manado dan Miinahasa. Boleh saya mohon sedikit waktu untuk menyurati atau bertemu? Saya tertarik pada penelitianmu dan pendapatmu terhadap kerukunan beragama di Minahasa.

    Anda boleh menghubungi saya via email: i swazey@hawaii,edu atau langsung ke HP
    081280359681.

    Salam hangat,
    Kelli

    Suka

  4. minura berkata:

    Great… i like your opinion…. 🙂

    Suka

  5. Bang Uddin berkata:

    Good words

    Suka

  6. anitadeka berkata:

    Thanks dah mampir

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s