CITRA ANAK DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN BARAT DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM

Posted: 15 Juli , 2013 in Makalah

imagesA.     Latar Belakang

Pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat dengan psikologi. Pendidikan merupakan suatu proses panjang untuk mengaktualkan seluruh potensi diri manusia sehingga potensi kemanusiaannya menjadi aktual. Dalam proses mengaktualisasi diri tersebut diperlukan pengetahuan tentang keberadaan potensi, situasi dan kondisi lingkungan yang tepat untuk mengaktualisasikannya. Pengetahuan tentang diri manusia dengan segenap permasalahannya akan dibicarakan dalam psikologi umum. Dalam hal pendidikan Islam yang dibutuhkan psikologi Islami, karena manusia memiliki potensi luhur, yaitu fitrah dan ruh yang tidak terjamah dalam psikologi umum (Barat).

Berdasarkan uraian diatas, maka sudah selayaknya dalam pendidikan Islam memiliki landasan psikologis yang berwawasan kepada Islam, dalam hal ini  dengan berpandu kepada al-Quran dan hadits sebagai sumbernya, sehingga akhir dari tujuan pendidikan Islam dapat terwujud dan menciptakan insan kamil bahagia di dunia dan akhirat. Sebenarnya, banyak sekali istilah untuk menyebutkan psikologi yang berwawasan kepada Islam. Diantara para psikolog ada yang menyebut dengan istilah psikologi Islam, psikologi al-Qur’an, psikologi Qur’ani, psikologi sufi dan nafsiologi. Namun pada dasarnya semua istilah tersebut memiliki makna yang sama.

Perkembangan anak adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari pematangan. Di sini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem yang berkembang sedemikian rupa per- kembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Biasanya perkembangan anak diikuti pertumbuhan sehingga lebih optimal dan tergantung pada potensi biologik seseorang. Potensi tersebut merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor genetik, lingkungan bio– fisiko – psiko – social dan perilaku. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda-beda yang memberikan ciri tersendiri pada setiap anak.

Selain biologi, konteks sosial juga merupakan salah satu sudut pandang dari perkembangan anak. Perspektif ini menyatakan bahwa lingkungan sosial dan budaya akan memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan pemikiran anak. Teori ini memiliki implikasi langsung pada dunia pendidikan. Teori Vygotsky menyatakan bahwa anak belajar secara aktif lebih baik daripada secara pasif. Tokoh-tokohnya diantaranya Lev Vygotsky, Albert Bandura, Michael Tomasello.

Anak adalah makhluk sosial seperti juga orang dewasa. Anak membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuannya, karena anak lahir dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain anak tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal. Menurut John Locke (dalam Gunarsa, 1986) anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan. Augustinus (dalam Suryabrata, 1987), yang dipandang sebagai peletak dasar permulaan psikologi anak, mengatakan bahwa anak tidaklah sama dengan orang dewasa, anak mempunyai kecenderungan untuk menyimpang dari hukum dan ketertiban yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan pengertian terhadap realita kehidupan, anak-anak lebih mudah belajar dengan contoh-contoh yang diterimanya dari aturan-aturan yang bersifat memaksa.

Sobur (1988), mengartikan anak sebagai orang yang mempunyai pikiran, perasaan, sikap dan minat berbeda dengan orang dewasa dengan segala keterbatasan. Haditono (dalam Damayanti, 1992), berpendapat bahwa anak merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya.

Pengertian anak juga mencakup masa anak itu exist (ada). Hal ini untuk menghindari keracunan mengenai pengertian anak dalam hubugannya dengan orang tua dan pengertian anak itu sendiri setelah menjadi orang tua. Kasiram (1994), mengatakan anak adalah makhluk yang sedang dalam taraf perkembangan yang mempunyai perasaan, pikiran, kehendak sendiri, yang kesemuannya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat serta struktur yang berlainan pada tiap-tiap fase perkembangannya.

  1. B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar Belakang Masalah diatas, maka dapat diuraikan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apa Pengertian Psikologi, Psikologi anak, dan Psikologi Pendidikan?
  2. Bagaiman citra anak dalam psikologi pendidikan barat?
  3. Bagaiman citra anak dalam psikologi pendidikan islam?
  1. C.    Tujuan

Derdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

  1. Untuk Mengetahui Pengertian Psikologi, Psikologi anak dan Psikologi Pendidikan.
  2. Untuk Mengetahui Bagaiman citra anak dalam psikologi pendidikan barat
  3. Untuk Mengetahui Bagaiman citra anak dalam psikologi pendidikan isla

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pengertian Psikologi, Psikologi Anak dan Psikologi pendidikan

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemuka istilah jiwa, nyawa, ruha dan berbagai kata lain yang senada. Jauh sebelum istilah itu juga telah begitu lekat dala kosakata bahasa yang dipergunakan dalam ragam budaya yang berbeda. Peruntukan istilah tersebut merujuk pada bentukan  halus dalam diri  manusia yang tidak  terlihat dan hanya dapat dirasakan. Bentuk halus yan tidak tampak itu menimbulkan kesulitan sendiri dalam memberikan pengertian yang tepat. Secara etimologis, psikologi diambil dari bahasa inggris psychology yang berasal dari bahasa yunani Psyche yang berarti jiwa (soul, mind) dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Dengan demikian psikologi berarti ilmu yang mempelajari tentang jiwa.

Secara ringkas dapat diparkan beberapa pengertian psikologi yang dikemukakan oleh para ahli :

  1. Plato dan aristoteles mengatakan psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya  sampai akhir.
  2. Wundt (1829) mengatakan psikologi bertugas menyelidiki apa yang kita sebut pengalaan bagian ddalam sesasi dan perasaan kita sendiri, pikiran serta kehendak ita yang bertolak belakang dengan setiap objek pengalaman luar yang melahirkan pokok permasalahan ilmu alam.
  3. Angell (1910)  mengatakan psikoloki merupakan semua kesadaran dimana saja, normal atau abnormal, manusia atau binatang, merupakan pokok permasalahan yang dicoba untuk dijelaskan oleh ahli psikologi dan tidak ada defenisi ilmu ini yang sepenuhnya  dapat diterima, semua bunyinya kurang lebih sama.
  4. Watson (1919)  bagi aliran behaviour psikologi merupakan bagian dari ilmu alam yang menekankan perilaku manusia – perbuatan dan ucapannya baik yang dipelajari maupun yang tidak  sebagai pokok masalah.
  5. Roediger (1984) psikologi dapat diartikan sebagai studi  sistematis mengenai tingkahlaku dan kehidupan  mental.[1]

 

  1. 2.      Pengertian psikologi anak

Psikologi anak adalah cabang psikologi yang mempelajari perubahan dan perkembangan stuktur jasmani, perilaku, dan fungsi mental manusia yang dimulai sejak terbentuknya makhluk itu melalui pembuahan hingga menjelang mati.

Psikologi anak sebagai pengetahuan yang mempelajari persamaan dan perbedaan fungsi-fungsi psikologis sepanjang hidup (mempelajari bagaimana proses berpikir pada anak-anak, memiliki persamaan dan perbedaan, dan bagaimana kepribadian seseorang berubah dan berkembangn.

Masa ini dimulai dari umur 2 minggu sampai umur 2 tahun. Masa bayi ini dianggap sebagai periode kritis dalamperkembangan kepribadian karena merupakan periode di mana dasar-dasar untuk kepribadian dewasa pada masaini diletakkan.Bayi merupakan manusia yang baru lahir sampai umur 24 bulan, namun tidak ada batasan yang pasti. Pada masa ini manusia sangat lucu dan menggemaskan tetapi juga rentan terhadap kematian. Kematian bayi dibagi menjadidua, kematian neonatal (kematian di 27 hari pertama hidup), dan post-neonatal (setelah 27 hari).

Balita Bawah Lima Tahun atau sering disingkat sebagai Balita merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari dua sampai dengan lima tahun,atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Periode usia ini disebut juga sebagai usia prasekolah.

Perkembangan fisik

Pertambahan berat badan menurun, terutama diawal balita. Hal ini terjadi karena balita memnggunakan banyakenergi untuk bergerak. Psikomotor Terjadi perubahan yang cukup drastis dari kemampuan psikomotor balita yang mulai terampil dalampergerakannya (lokomotion). Mulai melatih kemampuan motorik kasar misalnya berlari, memanjat, melompat,berguling, berjinjit, menggenggam, melempar yang berguna untuk mengelola keseimbangan tubuh danmempertahankan rentang atensi.

Pada akhir periode balita kemampuan motorik halus anak juga mulai terlatih seperti meronce, menulis,menggambar, menggunakan gerakan pincer yaitu memegang benda dengan hanya menggunakan jari telunjuk danibu jari seperti memegang alat tulis atau mencubit serta memegang sendok dan menyuapkan makanankemulutnya, mengikat tali sepatu. Aturan Pada masa balita adalah saatnya dilakukan latihan mengendalikan diri atau biasa disebut sebagai toilet training.

Freud mengatakan bahwa pada usia ini individu mulai berlatih untuk mengikuti aturan melalui proses penahanan keinginan untuk membuang kotoran. Kognitif  Pada periode usia ini pemahaman terhadap obyek telah lebih ajeg. Balita memahami bahwa obyek yang diaembunyikan masih tetap ada, dan akan mengetahui keberadaan obyek tersebut jika proses penyembunyian terlihat oleh mereka. Akan tetapi jika prose penghilangan obyek tidak terlihat, balita mengetahui benda tersebut masih ada, namun tidak mengetahui dengan tepat letak obyek tersebut. Balita akan mencari pada tempat terakhiria melihat obyek tersebut. Oleh karena itu pada permainan sulap sederhana, balita masih kesulitan untukmembuat prediksi tempat persembunyian obyek sulap.

Kemampuan bahasa balita bertumbuh dengan pesat. Pada periode awal balita yaitu usia dua tahun kosa katarata-rata balita adalah 50 kata, pada usia lima tahun telah menjadi diatas 1000 kosa kata. Pada usia tiga tahunbalita mulai berbicara dengan kalimat sederhana berisi tiga kata dan mulai mempelajari tata bahasa dari bahasaibunya.contoh kalimatUsia 24 bulan: “Haus, minum”Usia 36 bulan:”Aku haus minta minum” Sosial dan individu Pada periode usia ini balita mulai belajar berinteraksi dengan lingkungan sosial diluar keluarga, pada awal masabalita, bermain bersama berarti bersama-sama berada pada suatu tempat dengan sebaya, namun tidak bersama-sama dalam satu permainan interaktif.

Pendidikan dan Perkembangan

Cara belajar yang dilakukan pada usia prasekolah ini melalui bermain serta rangsang dari lingkungannya, terutama lingkungan rumah. Terdapat pula pendidikan di luar rumah yang melakukan kegiatan belajar lebih terprogram dan terstruktur, walau tidak selamanya lebih baik.

Bermain

ü  Permainan peran, melatih kemampuan pemahaman sosial, contoh: permainan sekolah, dokter-dokteran,ruman-rumahan dll.

ü  Permainan imajinasi melatih kemampuan kreativitas anak.

ü  Permainan motorik, melatih kemampuan motorik kasar dan halus.

ü  Permainan Motorik Kasar contoh: spider web, permainan palang, permainan keseimbangan dll

ü  Permainanan Motorik halus: meronce, mewarnai, menyuap

 

Masa Kanak-kanak Awal (Early Chilhood)

Awal masa kanak-kanak berlangsung dari dua sampai enam tahun. Masa ini dikatakan usia pra kelompok karenapada masa ini anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yanglebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu masuk kelas 1 SD. 6.

Masa Kanak-kanak Akhir (Later Chilhood)

Akhir masa kanak-kanak atau masa anak sekolah ini berlangsung dari umur 6 tahun sampai umur 12 tahun.Selanjutnya Kohnstam menamakan masa kanak-kanak akhir atau masa anak sekolah ini dengan masa intelektual,dimana anak-anak telah siap untuk mendapatkan pendidikan di sekolah dan perkembangannya berpusat padaaspek intelek. Adapun Erikson menekankan masa ini sebagai masa timbulnya “sense of accomplishment” di manaanak-anak pada masa ini merasa siap untuk enerima tuntutan yang dapat timbul dari orang lain danmelaksanakan/menyelesaikan tuntutan itu. Kondisi inilah kiranya yang menjadikan anak-anak masa ini memasukimasa keserasian untuk bersekolah.

  1. 3.      Pengertian Psikologi Pendidikan

Psikologi pendidikan adalah studi, latihan atau bimbingan  yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan ilmu kejiwaan, yang diterapkan dalam dunia pendidikan.

Psikologi pendidikan mempelajari, meneliti dan membahas seluruh tingkahlaku manusia yang terlibat dalam dunia pendidikan. Tujuannya adalah untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori pesikologi yang berkaitan dengan dunia pendidikan melalui metode ilmiah tertentu dalam rangka pencapaian efektifitas prosesnya.

Pendidikan merupakan kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang yaitu siswa, guru, masyarakat, dan juga orang tua, namun dalam konteks psikologi pendidikan  persoalanya lebih terfokul  pada siswa karena pada hakikatnya pendidikan adalah sebuah pelayanan untuk siswa.

 

  1. B.  Citra Anak Dalam Psikologi Pendidikan Barat

Para filsuf Yunani, seperti plato dan aristoteles lebih banyak mencurahkan pandanan tentang manusia kepada soal-soal kejiwaan manusia daripada tentang jasmaninya. Sebab menurut mereka manusia pada hakikatnya adalah hewan yang dapat berbicara, berfikir dan mengerti. Yang membedakan manusia dengan hewan adalah segi kejiwaan yang berupa akal dan pikiran. Berbeda dengan kajian tentang kajian rohani (kejiwaan), di dunia barat, kajian tentang jiwa kurang mendapatkan perhatian dari para sarjana sehingga perkembananya juga kurang begitu pesat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya karna manusia secara kejiwaan mempunyai pembawaan yang berbeda, pengaruh lingkungan yang berbeda, perkembangan, dan pertunbuhan yang tidak sama.

Telah banyak aliran psikologi barat yang telah melahirkan teori-teori tentang manusia, tapi ada empat yang paling dominan:

  1. Psikoanalisis sebuah aliran dalam psikologi yang melukiskan manusia sebagai mahluk yang digerakan oleh keinginan-keinginan terpendam (homo valens)
  2. Behaviorisme aliran dalam psikologi yang memandang manusia manusia sebagai mahluk yang digerakan oleh lingkungan (homo mechanicus)
  3. Psikologi kognitif aliran psikologi yang melihat manusia sebagai mahluk yang melihat manusia sebagai mahluk yang mengorganisasikan dan mengolah stimuli yang diterimanya (homo sapiens)
  4. Psikologi humanistik, menggambarkanmanusia sebagai pelaku aktif dalam merumuskan strategi transak-sional dalam lingkungannya (homo ludens)

Didalam dunia psikologi pendidikan barat teori adler mengenai psikoogi individual mempunyi arti yang sangat penting karena psikologi individual mempunyai arti yang penting  sebagai cara untuk memahami tingkah laku manusia.  Pengertian ini memberi gambaran semu tentang rasa rendah diri, kompensasi,  gaya hidup, diri yang kreatif, memberi pedoman yang penting untuk memahami sesama manusia. Aliran ini tidak memberikan susunan yang teliti mengenai struktur, dinamika, serta perkembangan kepribadian, tetapi mementingkan  perumusan petunjuk-petunjuk praktis untuk memahami sesama manusia. Oleh karena itu dalam prakteknya justru di pendidikanlah teori adler ini punya arti yang sangat penting karena hal-hal sebagai berikut :

  1. Penentuan tujuan-tujuan yang susila seperti
    1. Keharusan memikul tanggung jawab
    2. Keberanian menghadapi kesukaran-kesukaran hidup
    3. Mengikis dorongan keakuan dan mengembangkan dorongan  kemasyarakatan
    4. Menyelami diri sendiri dan membuka kecenderungan  egois yang tersembunyi.
    5. Optimismenya dalam bidang pendidikan.[2]

Dalam pandangan sigmund freud (1273-1356 H/1856-1939 M). kerpibadian manusia terdiri dari tiga sistem, yaitu id,ego, dan super ego. Ide adalah bagian paling primitif dan orisinil dalam kerpibadian manusia. Ia merupakan gudang penyimpang kebutuhan kebutuhan manusia mendasar, seperti makan, minum istirahat, atau rangsangan agresifitas dan seksualitas. ‘’the id is the’’it wants me to,’’or the it impels me to,’’portition of the personality. Artinya: ‘’id adalah yang menginginkan saya,’’ atau yang memaksa saya,’’bagian dari kepribadian. Id mencari pemuas dalam realitas eksternal dan bekerja menurut prunsip kenikmatan (pleasure principle). Sementara itu, kebenaran ego adalan untuk membantu id mengadakan kontak dengan realitas.

Subsisten yang kedua adalah ego (das ich) yang berfungsi menjebatani tuntunan id dengan realitas dunia luar. Ego adalah editor antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Ego-lah yang manusia mendudukan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud yang rasional. Ego bergerak bergerak berdasarkan prinsip realita. Ego (das ich) memiliki prinsip kesadaran . mampu menghayati secara batiniah maupun lahiriah. Das ich menampilkan akal budi pekerti dan pikiran, selalu siap menyesuaikan diri, dan mampu mengendalikan dorongan-dorongan.

Unsur yang terakhir adalah super ego yang berfungsi untuk mengomtrol dan menyensor ide agar tidak gitu saja merealisasikan pemuasanya. Super ego dapat diibaratkan kata hati yang terbentuk melalui proses internalisasi yang meliputi larangan dan perintah dari dunia luar yang berhubungan dengan nilai sosial dan nilai moral. Super ego memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang berlainan ke alam bawah sadar. Baik ide maupun super ego berada di alam bawah sadar manusia. Ego berada ditengan antara memenuhi desakan ide dan peraturan super ego. Untuk mengatasi ketegangan , super ego dapat menyerah pada tuntutan id, tetapi bukan berarti dihukum super ego dengan perasaan bersalah. Super ego merupakan zat lebih tinggi yang ada pada diri manusia yang memberikan garis-garis pengarahan etis dan norma-norma yang harus dianut. Salah satu fungsi terpenting dari ueber-ich ialah sebagai hati nurani yang mengkritik dan mengontrlol perbuatan.

Psikologi terapeutis Freudian, dua citra utama yang digunakan dan diterima oleh konselor-konselor pastoral, yaitu: citra mengenai Perkembangan Kepribadian dan citra mengenai Konflik di dalam diri. Kedua citra atau gambaran (images) ini menjadi citra formatif untuk interpretasi psikologis. “Diri” yang berada di dalam konflik dan “diri” yang ingin bertumbuh dan mengatasi konflik-konflik lama itu telah menjadi gambaran ‘resmi’ mengenai orang yang menjadi objek konseling pastoral.

        Teori Freud mengenai dinamika jiwa, ialah: bahwa manusia mempunyai dorongan-dorongan ini ingin dipuaskan namun terbentur dan konflik dengan kekuatan penentang yang ada di luar diri, yaitu: “proses peradaban” dan autoritas orang tua. Dia juga menekankan permasalahan pemaknaan (meaning), yaitu usaha intepretasi atau penafsiran-penafsiran pribadi yang dilakukan anak tersebut, yakni penafsirannya mengenai hubunganya dengan orang tuanya.

        Boisen terdapat citra manusia sebagai “dokumen yang hidup” dan juga ide mengenai koneksi antara ide dan pengalaman. Alasan pertama ialah penting untuk menempatkan citra dan ide Boisen dalam konteks perkembangan psikologi ego dewasa ini.Boisen tidak sendirian dalam pemikirannya bahwa ada pertalian antara makna dan pengalaman. Kedua ada kemungkinan dimana karya tulis psikoanalitis pada periode itu mempunyai pertalian, sekalipun belum dikembangkan atau dikenal. Di balk hasrat untuk menemukan dasar tersebut terdapat hasrat teologis pastoral. Yakni hasrat di mana tolongan bagaikan berelasi dengan seseorang yang sedang mencari suatu penafsiran baru.

        Sebagian besar teori Freud mengenai konflik dan dorongan naluri telah dikembangkan berdasarkan pertemuan klinisnya dengan klien-klien Eropa yang bertradisi Victorian. Masa itu adalah masa hal-hal yang berbau seksual disembunyikan atau dihalangi, serta awal dari pendobrakan yang pada masa kini terjadi sepenuhnya pada masyarakat Barat. Klien-klien Freud untuk menghasilkan suatu teori yang, sementara teori ini mengakui pentingnya tahap perkembangan pada masa awal kanak-kanak-, sangat memfokuskan perhatiannya pada pembentukan psiko-seksual dari periode Oedipus, yang biasanya terjadi antara umur lima dan tujuh tahun, dipandang oleh Freud sebagai masa konflik seksual dan konflik identitas yang kuat, saat kekuatan dari dorongan-dorongan tuanya. Kebanyakan karya Freud mengenai simbolisme yakni periode Oedipus, sebagai mana karyanya mengenai konflik dorongan-dorongan naluri, yaitu naluri kehidupan (Eros), naluri kematian (Thanatos), dan naluri seksual atau libido.

         Teoretikus-teoretikus Relasi-Objek mengalihkan perhatiannya pada pengalaman-pengalaman anak kecil yang paling awal, yakni mulai dari masa kelahiran. Banyak lasan yang dapat diajukan, mengapa perlu memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman manusia yang paling awal ini. Alsan yang paling penting, dari sudut pandang budaya yang luas. Kebutuhan untuk memahami asal mula munculnya psikosa, sizofrenia. Bertambahnya jumlah orang-orang yang mencarai pertolongan psikoterapeutis yang permasalahannya bukanlah konflik neurotis. Melainkan lebih berkaitan dengan kehampaan dan kekurangan penghargaan-diri yang menyertai ketiadaan otonomi diri yang sejati.

        Paradigma Relasi-Objek mulai dengan suatu pendirian bahwa di dalam tahapan pra-verbal masa kanak-kanak. “diri si anak masih berbaur dengan dunia objeknya (object world). Pendirian ini dirumuskan melalui observasi actual terhadap bayi-bayi dan ibu-ibu maupun terhadap orang-orang dewasa. Jika berbicara tentang “diri objek” berarti keadaan di mana kepingan-kepingan gambaran mulai timbul. Di mana dikotomi antara “diri” dan “objek” di luar diri belum terjadi. Jadi, keadaan si bayi begitu tak berdaya dan ta mampu memprakarsai suatu aktivitas, sehingga si ibu secara khusus cenderung mengadakan pengasuhan aktif terhadapnya dalam rangka mengantisipasi setiap ketidaknyamanan atau kebutuhan bayi tersebut. Si anak dan ibu, si anak dan dunia, masih satu dan sama. Proses yang disebut oleh teori Relasi-Objek sebagai proses “pemisahan-individuasi” belumlah terjadi.

        Brehubung secara fisik si bayi (sudah) dipisahkan dari ibunya melalui kelahiran, maka sejak  dini ia sudah mulai mengalami suatu hal yang bertentangan dengan kesatuan “diri-dan dunia objek” tersebut. Si ibu muncul dan hilang silih bergant, dan meskipun ia sudah memberi perhatian sepenuh-penuhnya pada bayinya, si bayi tetaplah menglami ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan ini antara lain berasal dari rasa lapar dan perasaan basah karena mengompol.  Situasi ini terjadi begitu saja, tanpa dapat dicegah. Para teoretikus Relasi-Ojbek mengatakan bahwa masa ini adalah salah satu masa yang sangat potensial bagi terjadinya kecemasan; dan sementara si bayi belum mempunyai pengertian bahasa dan realitas yang dapat digunakan untuk  merangkul atau memahami pengalaman baru itu, ia hanya mempunyai kesadaran yang samar-samar dan tak bernama terhadap ancaman itu seolah-olah ia sedang terjatuh atau terlempar ke dalam kegelapan yang mencemaskan.

       Pertanyaan kunci yang dapat diajukan kepada para teoretikus ialah: Dalam tahapan pra-verbal itu, bagaimanakah terjadinya pembentukan “ kesadaran akan diri” (sense of the self) si bayi, ketika ia dipisahkan dari ibunya dan dari dunia sekelilingnya? Bagaimanakah cara si bayi untuk pertama kalinya meninggalkan persenyawaan “diri-dan-dunia-objek”-nya dan memulai suatu proses di dalam menjadi individu yang terpisah, dan mempunyai kesadaran-diri?

        D.W. Winnicott (1896-1971) adalah penyumbang tulisan yang produktif bagi “kelompok Inggris” para teoretikus Relasi-Objek.  Spesialisasinya adalah anak-anak dan ibu-ibu mereka. Naluri-naluri, menurutnya, merupakan tenaga-tenaga yang mendesakkan energinya kepada “diri pusat” (central self). “Diri” pusat itu dapat dikatakan sebagai, potensi yang diturunkan (oleh orangtua) untuk mengalami kesinambungan keberadaan, dalam cara dan kecepatannya sendiri diri-pusat mencapai realitas psikis pribadi dan skema tubuh pribadi. Diri pusat itu mengalami suatu proses bertahap-tiga dalam rangka membentuknya menjadi “diri” yang terpisah dari ibu, yakni: tahap ketergantungan mutlak, tahap ketergantungan relative, dan tahap yang dinamakan Winnicott “menuju kemandirian”. Dalam tahap ketergantunagan mutlak, bayi sama sekali tidak mengenal adanya pemeliharaan ibu ataupun ketiadaan pemeliharaan itu; ia hanya mengalami penderitaan atau kenikmatan. Tetapi dengan berlalunya waktu, bayi itu mulai sadar sedikit demi sedikit, keping demi keping, akan perincian-perincian dari pemeliharaan ibunya, dan mulai dalam batas-batas tertentu menghubungkan kesadaran atas perincian-perincian tersebut kepada apa yang dialaminya.

         Sejak periode awal “garis kehidupan” si bayi sudah mulai terbentuk, dan garis ini akan terus berlanjut. Di dalam “garis” ini semua hal dialami si bayi akan diintegrasikan, meskipun ia masih berada dalam keadaan di antara integrasi-relatif dan belum-terintegrasi. Menurut dia, kualitas pengasuhan ibu, yang diberikan kepada si bayi selama awal munculnya kesadaran akan “diri”-nya sebagai diri yang terpisah dari dunia adalah hal yang penting. Khususnya kualitas yang sangat penting dari “ibu-yang-cukup-baik”. Ibu yang diharapkan disni bukan ibu yang sempurna secara teoritis sehingga mampu mengantisipasi setiap kebutuhan bayinya sedemikian rupa sehingga kecemasan yang menakutkan karena proses pemisahan tidak perna dirasakan, melainkan ibu-yang-cukup-baik adalah ibu yang tanggapannya kepada si bayi cukup memadai di dalam menjamin rasa kehadirannya sementara secara perlahan-lahan menjalankan pemisahannya.

               Serentak dengan proses sosial dari pembedaan-diri awal ini, dimulailah pula aspek lain, yakni munculnya ke-diri-an (self hood), “jiwa menetap dalam tubuh.” Tubuh menjadi tempat tinggal “diri”, dan kesadaran berada di dalam tubuh dan hidup bersama seseorang atau orang lain mulai mengambil bentuk. Objek pertengahan ini disebutnya “objek-peralihan”. Perhatian khususnya terhadap kehidupan mental anak-anak kecil mendorongnya untuk memfokuskan perhatiannya pada fenomena umum kehidupan anak-anak itu, yaitu pada mainan kesukaan anak-anak, seperti boneka-boneka, dan “teman” hasil imaginasi si anak.

        Konsep Winnicott mengenai objek-peralihan telah mengajukan pendapat bahwa salah satu aspek dari kehidupan mental peralihan yang berada di dalam diri seorang anak yang sedang bertumbuh di dalam budaya Barat adalah pembentukan citra primitif mengenai tuhan. Bagaimana citra-citra tuhan  yang baru  muncul itu terlibat secara erat di dalam pengalaman hidup si anak. Citra-citra tersebut juga membantu si anak di dalam mengatasi tekanan-tekanan yang dialaminya di dalam proses perkembangan dirinya.

           peralihan itu adalah tafsiran-tafsiran yang didasarkan atas kualitas pengalaman awal relasi-objek si anak. Citra-citra itu sebagai mitis pribadi yang sama seperti mitos-mitos budaya yang mendalam di mana atasnya agama-agama besar di dasarkan, muncul dari pengujian-keras di dalam pengalaman hidup ini.

        Winnicott mempunyai konsep untuk dipertimbangkan, yaitu rumusan mengenai “diri yang sejati” dan “diri yang palsu”. Jika hubungan pengasuhan ibu terhadap bayinya “cukup baik”, maka pada saat bayi itu berkembang melalui tiga tahapan: ketergantungan mutlak, ketergantungan relatif, dan mandiri relatif, ia akan mampu untuk mengembangkan pemahaman atau kesadaran sejati mengenai kekuasaan-kekuasaan dirinya di dalam relasinya dengan kekuasaan dan autorits sejati dari dunia objek.

         Hasil akhir dari perkembangan Diri Palsu itu adalah orang-orang yang memakai “topeng” untuk memenuhi atau kebutuhan lingkungan sosilnya atau orang-orang penting di dalam hidupnya sedemikian rupa sehingga Diri-Sejati-nya-yang seharusnya ada jika seseorang dibiarkan hidup sesuai dengan keinginannya tampaknya hilang atau tidak ada sama sekali.

        Ciri-ciri orang yang berkepribadian-garis-batas itu ialah: cenderung untuk menjadi gelisah dan tertekan, seringkali ketagihan pada berbagai penyalagunaan obat-obatan atau makanan, dan mengalami kesulitan besar di dalam memelihara hubungan antarpribadi yang langgeng.

        Sumbangan utama Kernberg ada dua hal: pertama, analisinya mengenai bagaimana proses valensi “pemangkatan” emosional positif dan negatif itu dilekatkan pada citra “diri” dan citra “objek”. Kedua, analisnya mengenai pembentukan ayang mengahsilkan apa yang disebutnya sebagai: keterbelahan di dalam citra “diri” dan citra objek.

        Si ibu menjadi ibu yang “baik” dan ibu yang “buruk”, suatu cerita objek yang dibelah agar cocok dengan polaritas atau sifat berlawanan yang ada di dalam pengalaman awalnya. Titik kritis dari perkembangan “diri’ dan relasi-objek pun muncul. Pengalaman akan ibu dan pengalaman akan “diri” harus dipisahkan. Pengalaman yang bervalensi positif dan negatif itu pun harus diintegrasikan. “Ibu” harus mulai dilihat sebagai yang baik sekaligus buruk, dan “diri” harus mulai dilihat sebagai bukan lagi “sama sekali baik” ataupun “sama sekali buruk” tetapi sebagai campuran yang terintegrasi.

         Orang gagal dalam mengintegrasikan pengalaman akan “diri” dan pengalaman akan “objek” yang masing-masing bervalensi positif dan negatif itu: di dalam dirinya pembalahan baik (positif) dan buruk (negatif) telah menjadi gaya yang lebih kurang bersifat permanen. “Diri” terayun-ayun antara “kutub” permusuhan dan rasa bersalah, pada satu sisi, dan “kutub” pemuasan hasrat serta pemujaan berlebihan terhadap “diri” dan “objek-hubungannya” di sisi lain.

  1. C.                Citra Anak Dalam Psikologi Pendidikan Islam
    1. 1.         Pengertian Fitrah dan Citra Manusia dalam Psikologi Islam

Secara etimologi, fitrah berarti penciptaan atau “terbukanya sesuatu dan melahirkannya”. Sedangkan menurut makna nasabi (pemahaman dari beberapa ayat dan hadits nabi), fitrah adalah citra asli yang dinamis yang terdapat pada sistem-sistem psikofisik manusia, dan dapat diaktualisasikan dalam bentuk tingkah laku.[3]

Citra adalah gambaran tentang diri manusia yang berhubungan dengan kualitas-kualitas asli manusiawi yang merupakan sunnatullah yang dibawa sejak ia dilahirkan. Manusia adalah makhluk pilihan Allah yang mengemban tugas ganda, yaitu sebagai kholifah Allah dan Abdullah. Untuk mengaktualisasikan tugas ganda tersebut, maka Allah telah melengkapi manusia dengan sejumlah potensi dalam dirinya. Hasan langgulung mengatakan potensi-potensi itu adalah: ruh, nafs, akal, qalb, dan fitrah.[4]

Salah satu perbedaan utama ajaran-ajaran islam dengan ajaran agama-agama lain, aliran-aliran filsafat modern dan aliran-aliran psikologi modern adalah tentang sifat asal manusia. Islam mempercayai bahwa manusia diciptakan dalam keadaan fitrah. Fitrah berarti kejadian atau penciptaan. Fitrah adalah sesuatu yang menjadi bawaannya sejak lahir atau keadaan mula-mula. Fitrah manusia adalah memepercayai dan mengakui Allah sebagai tuhannya. Fitrah yang ada dalam diri manusia adalah suatu sifat asal yang alamiah sifatnya.

Dalam diri manusia terdapat potensi yang positif dan juga negatif. Adapun potensi atau segi positifnya antara lain adalah :

ü  Manusia adalah khalifah Tuhan di bumi.

ü  Manusia mempunyai kapasitas intelegensi yang paling tinggi dibandingkan dengan semua makhluk yang lain.

ü  Manusia mempunyai kecenderungan dekat dengan Tuhan.

ü  Manusia dikaruniai pembawaan yang mulia dan martabat.

ü  Manusia tidaklah semata-mata tersentuh oleh motivasi duniawi saja.

Sedangkan dari segi negatifnya, Al-qur’an telah menyatakan dalam beberapa ayat yaitu bahwa manusia itu keji dan bodoh. Adapun ayat tersebut antara lain terdapat dalam Q.S. Al-Ahzab : 72 yang artinya :

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

  1. 2.      Macam-macam Pandangan Tentang Fitrah Manusia

Menurut Yasien Muhammad, pemahaman terhadap pandangan fitrah ini dapat dikelompokkan dan dibedakan menjadi empat, yaitu: pandangan fatalis, pandangan netral, pandangan positif, dan pandangan dualis.[5]

  1. Pandangan Fatalis

Pandangan ini mempercayai bahwa setiap individu, melalui ketetapan Allah adalah baik atau jahat secara asal, baik ketetapan semacam ini terjadi secara semuanya atau sebagian sesuai dengan rencana Tuhan.

Syaikh Abdul Qodir Jailani, tokoh populer pandangan ini, mengungkapkan bahwa seorang pendosa akan masuk surga jika hal itu menjadi nasibnya yang telah ditentukan Allah swt.  Sebelumnya. Tokoh lain al-Azhari menyatakan bahwa sifat dasar yang tidak berubah dari fitrah berkaitan dengan nasib seseorang untuk masuk surga atau neraka.dengan demikian tanpa memandang faktor-faktor eksternal dari petunjuk dan kesalahan petunjuk, seorang individu terikat oleh kehendak Allah  untuk menjalani cetak biru (blue print) kehidupannya yang telah ditetapkan baginya sebelumnya.  Ibnu mubarok tokoh utama pandangan fatalisme, menafsirkan salah satu hadis bahwa anak-anak orang musyrik terlahir dalam keadaan kufur atau iman.

  1. Pandangan Netral

Pandangan ini dikomandani oleh Ibnu ‘Abd Al-Barr. Mereka mendasarkan pandangannya pada firman Allah swt. dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, (QS An-Nahl, 16:78).

Penganut pandangan netral berpendapat bahwa anak terlahir dalam keadaan suci, suatu keadaan kosong sebagaimana adanya. Tanpa kesadaran akan iman atau kufur. Mereka lahir dalam keadaan utuh atau sempurna, tetapi kosong dari suatu esensi yang baik atau yang jahat. Menurut pandangan ini, manusia dilahirkan dalam keadaan bodoh dan tidak berdosa. Dia akan memeperoleh pengetahuan tentang yang benar dan yang salah, tentang kebaikan dan kebenaran serta keburukan dan kejahatan, dari lingkungan eksternal.

Menurut pandangan ini, iman (kebaikan) atau kufur (keburukan) hanya mewujud ketika anak tersebut mencapai kedewasaan (taklif). Setelah mencapai taklif, seseorang menjadi bertanggung jawab atas perbuatannya.
Pandangan Positif

Menurut Ibnu Taimiyah semua anak terlahir dalam keadaan fitrah, yaitu dalam kebajikan bawaan, dan lingkungan sosial itulah yang menyebabkan individu menyimpang dari keadaan ini. Sifat dasar manusia memiliki lebih dari sekedar pengetahuan tentang Allah yang ada secara inheren di dalamnya, tetapi juga suatu cinta kepadanya dan keinginan untuk melaksanakan  ajaran agama secara tulus sebagai seorang hanif sejati.

Ibnu Taimiyah memberikan tanggapan atas pandangan Ibnu ‘Abd Al-Barr dan menegaskan bahwa fitrah bukan semata-mata sebagai potensi pasif yang harus dibangun dari luar, tetapi merupakan sumber yang mampu memebangkitkan dirinya sendiri yang ada dalam individu tersebut. Orang yang hanif bukanlah seseorang yang bereaksi terhadap sumber-sumber bimbingan, tetapi seseorang yang secara alamiyah telah terbimbing dan berupaya memantapkan dalam praktik secara sadar.

Tentang keterkaitan antara fitrah dan dien islam, Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa terdapat suatu kesesuaian alamiyah antara sifat dasar manusia dan dien islam. Agama islam menyediakan kondisi ideal untuk memepertahankan dan mengembangkan sifat-sifat bawaan manusia. Sifat dasar manusia memiliki lebih dari sekedar pengetahuan tentang Allah yang ada secara inheren di dalamnya, tetapi juga suatu cinta kepadanya dan keinginan untuk melaksanakan agama secara tulus sebagai seorang hanif sejati. Selanjutnya, apakah fitrah dapat rusak, ada perbedaan pendapat diantara penganut pandangan positif.

Pertama. Fitrah bisa rusak, Ali Ash-Shabuni dan Al-Faruqi berpendapat demikian, Ali Ash-Shabuni mengungkapkan bahwa fitrah dapat rusak disebabkan masyarakat memperlihatkan kesalahan, penderitaan, dan kekufuran kepada anak. Manusia itulah yang merusak dan mengubah apa yang tercipta dalam keadaan indah dan baik. Al-Faruqi berpendapat bahwa fitrah bisa rusak,  karena adanya dorongan-dorongan yang jahat atau hawa nafsu.

 Kedua, fitrah tidak bisa rusak. Muhammad Asad mengungkapkan bahwa Allah tidak akan membiarkan suatu perubahan untuk merusak  apa yang telah dia ciptakan. Mufti Muhammad Syafi’i juga berpendapat demikian. Memurutnya, keadaan intrinsik fitrah tetap sebagai suatu keadaan yang tidak berubah, sementara keadaan-keadaan ekstrinsik yang bermacam-macam dari keimanan dan perilaku bisa berubah dan bersifat dinamis.

  1. 3.                  Citra Manusia dalam Psikologi Islam

Citra manusia yang terdapat dalam psikologi islam, diantaranya ialah:
Manusia dilahirkan dengan citra yang baik, seperti membawa potensi suci, ber-Islam, bertauhid dan menjadi khalifah di muka bumi. Manusia memiliki ruh yang berasal dari Tuhan yang mana menjadi esensi kehidupan manusia.

Bahwa pusat tingkah laku manusia adalah kalbu, bukan otak atau jasad manusia; manusia memperoleh pengetahuan tanpa diusahakan, seperti pengetahuan intuitif dalam bentuk wahyu dan ilham; serta tingkat kepribadian manusia tidak hanya sampai pada humanitas atau sosialitas, tetapi sampai pada berketuhanan.

  1. 4.                  Potensi Fitrah dalam Psikologi Islam

Potensi Fisik (Psychomotoric).

Merupakan potensi fisik manusia yang dapat diberdayakan sesuai fungsinya untuk berbagai kepentingan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup.
Potensi Mental Intelektual (IQ). Merupakan potensi yang ada pada otak manusia fungsinya : untuk merencanakan sesuatu untuk menghitung, dan menganalisis, serta memahami sesuatu tersebut.

Potensi Mental Spritual Question (SP).

Merupakan potensi kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri manusia yang berhubungan dengan jiwa dan keimanan dan akhlak manusia.
Potensi Sosial Emosional.

Yaitu merupakan potensi yang ada pada otak manusia fungsinya mengendalikan amarah, serta bertanggung jawab terhadap sesuatu.
Kemampuan dasar untuk beragama secara umum, tidak hanya terbatas dalam agama Islam. Dengan kemampuan ini manusia dapat dididik menjadi beragama Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi, namun tidak dapat dididik menjadi atheis (anti Tuhan). Pendapat ini diikuti oleh banyak ulama Islam yang berfaham ahli Mu’tazilah antara lain Ibnu Sina dan Ibnu Khaldun.  Aspek-aspek psikologis dalam fitrah adalah merupakan komponen dasar yang bersifat dinamis, responsive terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan. Diantara aspek-aspek tersebut ialah:

Bakat, suatu kemampuan pembawaan yang potensial mengacu kepada perkembangan akademis dan keahlian dalam bidang kehidupan. Bakat ini berpangkal pada kemampuan Kognisi (daya cipta), Konasi (Kehendak) dan Emosi (rasa) yang disebut dalam psikologi filosifis dengan tiga kekuatan rohaniah manusia.

Insting atau gharizah adalah suatu kemampuan berbuat atau bertingkah laku dengan tanpa melalui proses belajar. Kemampuan insting ini merupakan pembawaan sejak lahir. Dalam psikologi pendidikan kemampuan ini termasuk kapabilitas yaitu kemampuan berbuat sesuatu dengan tanpa belajar.

Nafsu dan dorongan-dorongan. Dalam tasawuf dikenal nafsu-nafsu lawwamah yang mendorong kearah perbuatan mencela dan merendahkan orang lain. Nafsu ammarah yang mendorong kearah perbuatan merusak, membunuh atau memusuhi orang lain. Nafsu birahi (eros) yang mendorong ke arah perbuatan seksual untuk memuaskan tuntutan akan pemuasan hidup berkelamin. Nafsu mutmainnah yang mendorong ke arah ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut al-Ghazali, nafsu manusia terdiri dari nafsu malakiah yang cenderung ke arah perbuatan mulia sebagai halnya para malaikat, dan nafsu bahimiah yang mendorong ke arah perbuatan rendah sebagaimana binatang.

Karakter adalah merupakan kemampuan psikologis yang terbawa sejak lahir. Karakter ini berkaitan dengan tingkah laku moral dan sosial serta etis seseorang. Karakter terbentuk oleh kekuatan dari dalam diri manusia, bukan terbentuk dari pengaruh luar.

Hereditas atau keturunan adalah merupakan faktor kemampuan dasar yang mengandung ciri-ciri psikologis dan fisiologis yang diturunkan oleh orang tua baik dalam garis yang terdekat maupun yang telah jauh.

Intuisi adalah kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham Tuhan. Intuisi menggerakkan hati nurani manusia yang membimbingnya ke arah perbuatan dalam situasi khusus diluar kesadaran akal pikiran, namun mengandung makna yang bersifat konstruktif bagi kehidupannya. Intuisi biasanya diberikan Tuhan kepada orang yang bersih jiwanya.

  1. 5.                  Pendidikan Anak Dalam Perspektif Psikologi Islam
    1. 1.    Anak dalam Pandangan Al-Quran

Pandangan Al-Qur’an terhadap anak ada beberapa hal, yaitu :

Pertama, Qurrata A’yun (enak dipandang/penyejuk mata) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Furqon,25:74: “ Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami dan anak keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa ” .

Kedua, anak disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai zinah atau perhiasan. Allah berfirman bahwa : “ kekayaan dan anak adalah perhiasan hidup di dunia “ (Qs. Al-Kahfi, 8:46).

Ketiga, Al-Qur’an menyebutkan bahwa anak bisa menjadi ‘adduww (musuh) termasuk juga dalam hal ini suami istri atau istri (Qs. At-Tghabun 64:14). Di dalam ayat ini dinyatakan bahwa sebagian istri/suami dan anak-anak ada yang menjadi musuh, karena itu dinphkaerinta untuk berhati-hati, jangan sampai menjadi musuh.

Keempat, anak bisa juga menjadi fitnah. Sebagaimana disebutkan bahwa harta-harta kamu dan anak-anak kamu adalah fitnah (Qs. Al-Anfal:28). Fitnah dalam ayat ini bukan berarti gossip, akan tetapi dalam arti bahwa harta dan anak-anak dapat menjadi sumber bencana.

  1. 2.      Mendidik Anak Bukan Persoalan Sepele dan Biasa.

Pendidikan anak bukanlah persoalan biasa dan sepele. Mendidik anak bukanlah semata karena persoalan anak adalah sebagai investasi keluarga atau bahkan investasi sebuah negara sekalipun. Anak merupakan bagian dari hidup orang tua, sehingga sudah seharusnya kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua. “Ternyata, anak-anak itu lebih banyak memberi daripada menerima” , seperti ungkapan Hernowo dalam buku Steven W. Vanoy yang berjudul 17 Anugrah Terindah Untuk Orang Tua. Senyuman anak adalah ‘alat Rabbani’ yang ampuh dan mampu untuk menghapuskan segala kepenatan kerja keras sang orang tua.Ya, senyumannya merupakan cermin jernih bagi jiwa yang jernih, dan inilah yang mampu memberikan energi luar biasa bagi orang tua, sehingga orang tua manapun akan selalu ingin memberikan yang terbaik demi kebahagiaan sang anak.

Oleh karena itu, sudah tentu warna pendidikan anak akan ditentukan oleh “sentuhan” pendidikan yang diperankan oleh orang tua kepada sang anak. Merupakan suatu kemuliaan bagi orang tua di dalam mendidik, mempersiapkan dan membina anak-anak dalam mencapai keberhasilan dan kesuksesan yang paling besar bagi kehidupan anak-anak dimasa depan. Menpunyai anak berarti membuat suatu komitmen dengan mereka, dengan diri sendiri dan dengan hari depan.

  1. 3.      Mendidik anak dalam perspektif psikologi Islam

Keutamaan mendidik anak dalam Islam sebagaimana keutamaan Islam dalam mengubah umat manusia dari kebodohan, kegelapan syirik, kesesatan, dan kekacauan menuju tauhid, ilmu hidayah dan ketremtaman. Sebagaimana Islam telah memberi metode yang tepat dan sempurna dalam pendidikan rohani, pembinaan generasi, pembentukan umat, dan pembangunan budaya, serta penerapan prinsip-prinsip kemuliaan dan peradaban umat manusia menuju semesta alam. Pembentukan keimanan yang kokoh pada diri anak perlu adanya aplikasi pendidikan Islam secara konkret yang diciptakan orang tuanya dan keluarga.

Kepribadian anak dibentuk oleh sistem pendidikan yang diperankan orang tua. Jadi keteladanan sangat berperan dalam mempengaruhi perilaku dan sikap anak. Keteladanan orang tua harusnya menjadi sosok yang patut diteladani dalam penanaman nilai-nilai keislaman. Keteladanan harus ditumbuhkan dan diciptakan dalam rumah. Jadikan rumah sebagai sekolah tempat  mendidik anak-anak. Sejatinya, adalah tugas orang tua membantu sang anak untuk menemukan jati dirinya, mengarahkan, mengembangkan dan memberdayakan sehingga anak akan membawa pada hidayah, taufiq dan Ridho Allah SWT, menjadi anak shalih dan shalihah.

Berbicara mengenai pendidikan anak dalam Islam sebenarnya bukan sekedar dimulai dari kelahiran anak atau ketika dalam kandungan saja. Miftahul Asror dalam bukunya “ Mencetak anak berbakat : Cerdas Intelektual dan Emosional” menyebutkan bahwa pendidikan anak dimulai dari fase prakonsepsi yaitu ketika seseorang mencari patnership suami atau istri. Saat itu hakikatnya ia sudah merencanakan bagaimana nantinya akan mendidik anak. Pada fase prakonsepsi ini, Islam mengajarkan agar memilih pasangan hidup yang didasarkan pada “agamanya” bukan karena kecantikan, kedudukan atau harta. Seperti hadist yang di riwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa Nabi SAW, bersabda: “ Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, sebab barangkali kecantikannya dapat merusakakannya, dan jangan pula karena hartanya, sebab barangkali hartanya dapat menjadikannya durhaka, dan nikahilah wanita itu karena agamanya, dan sesungguhnya budak sahaya yang hitam dan rusak telinganya, tetapi beragama (Islam) itu lebih baik”(HR> Ibnu Majah Dan Al-Bazzar).

Begitu pula setelah terbentuknya keluarga, hendaknya memakan dari rezeki yang halal, karena semua makanan yang masuk dalam perut akan membawa dampak perkembangan anak baik fisik maupun psikis. Sebagaimana sabda Nabi SAW.” Setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram, maka nerakalah yang lebih pantas baginya (HR. Tirmidzi).” Disamping itu, ketika suami-istri hendak berkumpul (bersenggama), Islam sangat menekankan agar tetap menjaga kesopanan dengan “nuansa” Islami dengan berdoa agar di karuniai anak yang sholeh.

Menurut penelitian Khoijatul kubro mengatakan bahwa dalam islam  sistem pendidikan keluarga dipandang sebagai panutan masa depan anak. Namun yang terjadi saat ini banyak keluarga  mengabaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai  sebuah keluarga  dalam hal ini yang berperan penting adalah kedua orang tua yang menjadi pendidik pertama dan utama bagi seorang anak yang mana tanggung jawab keluarga atau kewajiban orang tua adalah menjadi hak yang harus didapatkan oleh seorang anak. Dalam hukum islam  telah menetapkan  hak anak yang merupakan kewajiban yang dipikulkan di atas pundak orang tua. Hak tersebut terbagi dalam dua bagian yaitu hak anak sebelum lahir dan sesudah lahir yang bertanggung jawab untuk melindungi dan menjaga kelangsungan hidup sang anak, hingga dia dapat melewati fase-fase perkembanganya dengan selamat sentosa sampai pada kedewasaan penuh.[6]

Demikian dari fase prakonsepsi adalah fase pranatal atau fase dalam kandungan. Pendidikan pada fase ini adalah suatu upaya pendidikan yang dilakukan oleh calon ayah dan ibu saat bayi masih berada di dalam kandungan. Sentuhan religius pada anak juga sudah harus diberikan pada fase ini. Menurut Rene Van de Carr, bahwa janin dalam kandungan sudah dapat mendengar sejak usia 18 minggu. Karenanya pengenalan Al-Khalik sudah dapat dilakukan pada fase ini. saat sedang mengandung seorang ibu disunnahkan banyak berdzikir, membaca Al-Quran dan menjauhi mejelis-majelis ghibah agar yang didengar anak sejak dalam kandungan adalah yang baik-baik.

Banyak cerita tentang keadaan emosional ibu mempengaruhi janin (Santrock, 2002). Seorang ibu hamil hendaknya menjaga kondisi emosionalnya agar memberikan efek yang baik bagi janinnya. Ibu yang sedang hamil dapat berbicara kepada bayi yang di dalam kandungan dengan sedikit mengeraskan suara ke bayi. Seoarang Ibu dapat merasakan kata-katanya melalui getaran dan gerakan bayi yang ada di dalam perutnya. Karena itu, dalam melakukan kegiatan dan aktivitasnya hendaknya mengikutsertakan sang anak. Misalnya “ Sayang, ini bunda mau membaca Al-Quran. Dengarkan ya?”. Atau “Nak, ini ibu mau sholat,yuk sholat bareng Ibu ya?”. Komunikasi seperti ini akan mempengaruhi kondisi anak. Bukan hanya itu, ayah pun dapat memberikan sentuhan Islam dan mengenalkan Sang Khalik sejak masih dalam kandungan ibunya. Ia dapat menempelkan pipi pada perut ibu pada posisi kepala bayi. Misalnya seorang ayah dapat mengucapkan “Assalamu’alaikum sayang, ayah pergi ke kantor dulu ya? mudah-mudahan Allah melindungi kita semua ya?” atau “Anak sholeh, jangan makin pintar ya?” Seorang Ayah juga dapat bertilawah al-Quran didekat si istri yang sedang mengandung supaya bayi dapat turut mendengar lantunan ayat-ayat Allah.

Sesudah fase pranatal adalah fase postnatal atau kelahiran bayi itu sendiri. Pengenalan asma Allah, penanaman dasar akidah tauhid dan iman kepada Allah, sudah dapat dilakukan dengan mengadzankan di telinga kanan dan mengiqomahkan di telinga kirinya, sebagaimana hadist berikut : ” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a bahwa Nabi SAW telah mengumandangkan adzan pada telinga Hasan bin Ali (yang kanan) ketika ia baru dilahirkan dan mengumandangkan iqamat di telinga kirinya”.  Hal ini dimakdudkan agar yang suara pertama kali diterima adalah pendengarannya tentang kalimat kalimat seruan Yang Maha Tinggi yang mengandung kebesaran Allah (Nashih Ulwan, 1994). Mengenalkan asma Allah semenjak bayi merupakan bagian dari pendidikan akidah tauhid sekaligus akhlak kepada anak. Seseorang yang bertauhid secara benar sudah pasti akan berakhlak mulia.

Tips dan kiat lain menurut Mistahul Asror masih banyak yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mendekatkan anak pada Allah, asahlah “dzauq” (kehalusan getaran batin) orang tua. Jadikan lantunan-lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, bacakan hadist dan dzikir dengan Asma Allah sebagai penenang kalbu anak. Jangan jadikan kehadiran bayi sebagai alasan mengganggu jadwal orang tua untuk bertilawah Al-Qur’an. Justru membaca Al-Qur’an sekarang menjadi bagian upaya menanamkan aqidah tauhid pada anak.

  1. 4.      Tanggung Jawab Orang Tua dalam Mendidik Anak

Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam kitabnya “Tarbiyatul Aulad fil Islam” (Pendidikan Anak dalam Islam) menyebutkan bahwa ada 7 hal yang menjadi tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak yaitu :

  1. a.       Tanggung Jawab Pendidikan Iman

Tanggung jawab pendidikan iman adalah bagaimana memberikan pemahaman menyeluruh tentang pendidikan iman sehingga anak akan terikat dengan Islam, baik akidah maupun ibadah. Mengenal Islam sebagai agamanya, Al-Qur’an sebagai imannya dan Rosulullah SAW sebagai pemimpin teladannya. Menyuruh anak untuk beribadah ketika memasuki usia tujuh tahun, mengenalkan Allah lewat alam, meneladani asma’ul Husna dan mendidik untuk mencintai Rosul, keluarganya dan melatih serta membiasakan membaca Al-Qur’an.

  1. b.      Tanggung Jawab Pendidikan Moral

Pendidikan moral adalah serangkaian prinsip dasar moral dan keutamaan sikap serta watak (tabiat) yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak dini hingga dewasa. Pribadi yang berakhlak akan melandassi kepribadian anak secara keseluruhan. Orang tua dapat menanamkan kebiasaan akhlaqul karimah dengan memberikan keteladanan, harus terlebih dahulu menjadikan perbuatan-perbuatan baik sebagai kebiasaan dan kepribadiannya sehari-hari sehingga mudah dicontoh oleh anak-anaknya

  1. c.       Tanggung Jawab Pendidikan Fisik.

Tanggung jawab pendidikan fisik adalah pendidikan yang diberikan agar anak-anak tumbuh dewasa dengan kondisi fisik yang kuat, sehat, bergairah dan bersemangat. Pemenuhan gizi anak amatlah penting. Terutama di usia 0-20 tahun merupakan masa pertumbuhan. Karenanya berikan pendidikan fisik dengan menyesuaikan tahapan-tahapan pertumbuhan anak. Orang tua hendaknya membiasakan anak berolah raga dan bermain ketangkasan agar fisiknya dapat tumbuh kuat.

  1. d.       Tanggung Jawab Pendidikan Rasio

Pendidikan rasio (akal) adalah membentuk (pola) pikir anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat, seperti imu-ilmu pengetahuan, ilmu-ilmu agama, kebudayaan dan peradaban, dengan kata lain pendidikan yang menyangkut kecerdasan Intelektual (IQ). Dr. Benyamin S. Bloom, Professor of Education, University of Chicago menyatakan Golden Years of Intellectual Development terdapat pada anak dengan rentang usia 0 sampai 4 tahun, sekitar 50%. Sedangkan usia 8 tahun mengalami penurunan 30% dan usia 18 tahun hanya mencapai 20% saja.

Dr. Keith Osborn, Professor of Child Development, University of Georgia menyatakan bahwa perkembangan intelektual dari usia kelahiran sampai dengan 4 tahun sama besarnya dengan rentang usia 4 sampai dengan 18 tahun. Sebagaimana yang dikatakan Dr Burton L. White, maka pada rentang usia 0-2 tahun sensor paling efektif yang bekerja saat itu adalah pendengaran dan metode terbaik untuk mengaktifkan sel syaraf otak melalui sensor telinga adalah ‘story telling’. Hal ini dibenarkan dalam Qs. Nahl : 78.

      “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”.

Jadi meski tiap manusia mempunyai kapasitas kecerdasan yang sama saat dilahirkan namun pengembangannya kembali berpulang pada sejauh mana orang tua memberikan stimulus pada anaknya, sehingga ketika dewasa skala kecerdasan masing-masing anak akan bervariasi.

Karena itu pemenuhan kebutuhan gizi anak pada usia balita sangatlah menentukan pertumbuhan fisik otak hingga dewasa kelak, keadaan gizi bilamana dapat dicapai tingkat yang lebih tinggi, maka secara fisik dapat lebih mampu untuk menggunakan kapasitas otaknya secara lebih baik.

Miftahul Asror dalam bukunya “Mencetak Anak Berbakat Cerdas Intelektual dan Emosional” memberi tips kepada orang tua untuk meningkatkan kecerdasan anak diantaranya yaitu:

  1. suasana dalam keluarga yang kondusif
  2. sikap orang tua yang tidak otoriter
  3. mendorong anak suka bertanya
  4. sistem mendidik anak yang menekan pendekatan dorongan daripada larangan
  5. menghargai setiap prestasi anak
  6. memebrikan keteladanan
  7. menghindari hukuman fisik
  8. mendorong anak untuk berani mencoba, memberi tanggung jawab sesuai kemampuannya
  9. e.       Tanggung Jawab Pendidikan Psikologis

Tanggung jawab pendidikan psikologis adalah bagaimana orang tua membina, membentuk dan menyeimbangkan kepribadian anak. Sehingga ketika anak sudah mencapai usia dewasa, ia dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan pada dirinya secara baik dan sempurna.

Jika sejak dini anak-anak dididik dengan cinta dan kasih sayang, mereka akan tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang mandiri, kreatif, dan penuh percaya diri. Mereka akan memandang dunia secara positif, melangkah penuh percaya diri, merasa aman, mantab dan dapat memecahkan problem dengan pilihan solving yang lebih bervariasi.

  1. 5.      Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak

Muhammad Rayid Dimas dalam bukunya “25 Kiat mempengaruhi jiwa dan Akal Anak” menyebutkan bagaimana kiat-kiat dalam mempengaruhi jiwa dan akal anak adalah :

  1. a.      Bersahabatlah dengan anak dan jadilah teladan

Sebagaimana Rosulullah Saw. biasa menemani anak-anak dalam banyak kesempatan. Sikap bersahabat dengan anak memiliki peranan yang besar dalam mempengaruhi jiwa anak.

Tunaikan hak anak.

Rosulullah saw. pernah meminta izin kepada anak kecil yang di sebelah kanannya untuk mengalah dari hak minum, guna memberikannya terlebih dahulu kepada orang dewasa yang ada di sebelah kirinya. Namun, si anak itu ternyata tidak ingin orang lain mendahuluinya meminum air sisa Rosulullah saw. itu. Rosulullah saw. pun kemudian memberikan minuman itu kepada si anak. Alhasil, si anak pun merasa nyaman dalam menikmati haknya. Kita harus memenuhi hak anak jika kita menginginkan anak kita berkembang secara seimbang. Memahami dan berempati kepada anak yang akan menanamkan sikap positif saat dia menghadapi kehidupannya. amarah, cacian dan sikap yang sebaliknya justru dapat memasung dan membunuh jiwa anak dalam menerima kebenaran.

  1. b.      Gembirakan dan hiburlah hatinya

Hal ini akan memunculkan keriangan dan vitalitas dalam jiwa sang anak. Karena juga akan menjadikan si anak selalu siap untuk menerima perintah, peringatan, atau bimbingan apa pun serta mampu mengaktualisasikan kemampuannya dalam bentuknya yang sempurna. Sebagaimana Rosulullah mencontohkan diantaranya dengan menyambut hangat, mencium dan bercanda, mengusap kepala, menggendong dan memeluknya, memberikan makanan yang baik, serta makan bersama mereka.

  1. c.       Gunakan cara “ siapa menang dia dapat”

Kompetisi akan membangkitkan potensi-potensi terpendam yang ada pada manusia, terlebih pada anak-anak. Kompetisi akan memunculkan semangat kebersamaan anak-anak, menjauhkan mereka dari sikap individualistik, dan melatih mereka untuk memahami kehidupan: ada yang menang, ada yang kalah; ada kalanya bisa menjawab, ada kalanya mengalami kebuntuan; kadang-kadang benar kadang-kadang salah. Sangat baik jika anak yang menang diberi hadiah sehingga ia merasa senang dan dihargai. Seperti Rosulullah saat mengajak berlomba lari dengan anak-anak untuk menumbuhkan otot-otot mereka dan membuat tubuh nereka kuat. ‘Abdullah bin Harist mengatakan bahwa Rosulullah saw. membariskan ‘Abdullah, ‘ Ubaidillah, dan banyak anak-anak keturunan Al-‘Abbas lainnya–seraya mengatakan, “Barang siapa lebih dulu sampai kepadaku maka ia mendapat itu dan ini. “ Maka mereka berlomba untuk mencapai punggung atau dada beliau lalu beliau mencium dan memeluk mereka (HR. Imam Ahmad).

Keteladanan dalam pendidikan merupakan salah satu sarana penting dan berpengaruh dalam mempersiapkan akhlak anak dan membentuknya secara psikologis dan sosial. dalam mendidik anak faktor keteladanan orang tua yang memiliki pengaruh besar terhadap jiwa anak. Karena yang pertama kali ditiru perilaku anak biasanya adalah perilaku kedua orang tuanya terlebih dahulu. “Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Nasrani, yahudi, atau Majusi” demikian kata Rosulullah Saw.

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

            Berdasarkan pada hasil pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Secara etimologis, psikologi diambil dari bahasa inggris psychology yang berasal dari bahasa yunani Psyche yang berarti jiwa (soul, mind) dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Dengan demikian psikologi berarti ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
  2.  Psikologi anak adalah cabang psikologi yang mempelajari perubahan dan perkembangan stuktur jasmani, perilaku, dan fungsi mental manusia yang dimulai sejak terbentuknya makhluk itu melalui pembuahan hingga menjelang mati.
  3. Psikologi pendidikan adalah studi, latihan atau bimbingan  yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan ilmu kejiwaan, yang diterapkan dalam dunia pendidikan.
  4. Citra adalah gambaran tentang diri manusia yang berhubungan dengan kualitas-kualitas asli manusiawi yang merupakan sunnatullah yang dibawa sejak ia dilahirkan. Manusia adalah makhluk pilihan Allah yang mengemban tugas ganda, yaitu sebagai kholifah Allah dan Abdullah. Untuk mengaktualisasikan tugas ganda tersebut, maka Allah telah melengkapi manusia dengan sejumlah potensi dalam dirinya. Hasan langgulung mengatakan potensi-potensi itu adalah: ruh, nafs, akal, qalb, dan fitrah.
  5. Didalam dunia psikologi pendidikan barat teori adler mengenai psikoogi individual mempunyi arti yang sangat penting karena psikologi individual mempunyai arti yang penting  sebagai cara untuk memahami tingkah laku manusia.  Pengertian ini memberi gambaran semu tentang rasa rendah diri, kompensasi,  gaya hidup, diri yang kreatif, memberi pedoman yang penting untuk memahami sesama manusia
  6. Konsep Winnicott mengenai objek-peralihan telah mengajukan pendapat bahwa salah satu aspek dari kehidupan mental peralihan yang berada di dalam diri seorang anak yang sedang bertumbuh di dalam budaya Barat adalah pembentukan citra primitif mengenai tuhan. Bagaimana citra-citra tuhan  yang baru  muncul itu terlibat secara erat di dalam pengalaman hidup si anak. Citra-citra tersebut juga membantu si anak di dalam mengatasi tekanan-tekanan yang dialaminya di dalam proses perkembangan dirinya.
  7. Citra manusia yang terdapat dalam psikologi islam, diantaranya ialah:
    Manusia dilahirkan dengan citra yang baik, seperti membawa potensi suci, ber-Islam, bertauhid dan menjadi khalifah di muka bumi. Manusia memiliki ruh yang berasal dari Tuhan yang mana menjadi esensi kehidupan manusia.
  8. Menurut Ibnu Taimiyah semua anak terlahir dalam keadaan fitrah, yaitu dalam kebajikan bawaan, dan lingkungan sosial itulah yang menyebabkan individu menyimpang dari keadaan ini. Sifat dasar manusia memiliki lebih dari sekedar pengetahuan tentang Allah yang ada secara inheren di dalamnya, tetapi juga suatu cinta kepadanya dan keinginan untuk melaksanakan  ajaran agama secara tulus sebagai seorang hanif sejati.
  1. B.     Saran

Dilihat dari makalah Diatas, maka telah kita ketahui bersama bahwasanya anak dalam setiap perkembangannya membutuhkan bimbingan psikologi, apabila anak dalam pertumbuhannya tidak dibimbing maka anak itu tidak akan terkontrol baik fantasi maupun emosinya.

Sebagai seorang orang tua atau Guru kita semua patut mengetahui cirri-ciri dan perkembangan psikologi anak sehingga kita dapat memantau setiap jengkal pertumnuhan dan perkembangannya baik fisik, jiwa, fantasinya maupun emosinya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Rahman Saleh-Muhbib Abdul Wahab. 2005. Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam.  Kencana. Jakarta.

Baharuddin. 2005. Aktualisasi Psikologi Islami. Pustaka Pelajar.Yogyakarta.

El Saha, M.Ishom. 2003.  Sketsa Al – Qur’an. PT. Lista Fariska Putra. Jakarta.

Kubro, Khodijatul.2004. Hak Anak Mendapatkan Pendidika Dalam Keluarga Menurut Islam.Skripsi. Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo. Semarang.

Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakkir. (2003). Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Rajawali Press – PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Nashari, Fuad. 2005. Potensi-Potensi Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Suryabrata, Sumadi. 2007. Psikologi Kepribadian. PT. Raja Grafindo Persada. Yogyakarta

http://rikabaen.blogspot.com/2013/03/fitrah-dan-citra-manusia-dalam.html

http://basiliasubiyanti.blogspot.com/2011/02/pendidikan-anak-dalam-perspektif.html

http://ronakhatulistiwa.wordpress.com/2010/03/17/psikologi-dalam-pendidikan-islam/

http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi-pendidikan/

http://ilmu-psikologi.blogspot.com/2009/05/pengertian-psikologi-pendidikan.html

file://Psikolog-anak/psikolog-barat/manusia-dalam-pandangan-psikologi-islam.html


[1] Abdul Rahman Saleh-Muhbib Abdul Wahab.Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. (Cet.ke-2 Kencana. Jakarta :2005) Hal. 1 dan 5.

[2] Sumadi Suryabrata. Psikologi Kepribadian.(Cet. 10 PT. Raja Grafindo Persada. Yogyakarta : 2007) hal – 191

[3] M.Ishom El Saha, MA, Sketsa Al – Qur’an,(Jakarta, PT. LISTA FARISKA PUTRA) jilid 1, hlm 175

[4] DR. Baharuddin. Aktualisasi Psikologi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm 13

[5] H. Fuad Nashori. Potensi-potensi Manusia. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm 55

[6] Khodijatul kubro, Hak Anak Mendapatkan Pendidika Dalam Keluarga Menurut Islam,Skripsi. Fakultas Tarbiyah IAIN walisongo,semarang.2004

Iklan
Komentar
  1. Johne151 berkata:

    Someone essentially help to make significantly posts I might state. This is the first time I frequented your web page and so far? I surprised with the research you made to create this actual submit amazing. Magnificent activity! adededeadacb

    Suka

  2. kuncirpintar berkata:

    izin ngopy ya.suwun

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s