“W” Phase

Posted: 30 Juli , 2013 in Story

        Bromo2Kesekian kalinya “Fasting and feast Day” dikampung orang, semasa kuliah bahkan sampe sekarang terhitung hanya sekali merayakannya bersama orangtua, benar-benar Homesick 😦 .  Teringat cerita tutor tentang istilah “W” Phase, orang-orang yang kuliah atau kerja diluar negeri atau dirantau, atau seperti diriku saat ini berada di Kampung Inggris (Baca:Desa Tulung Rejo,Pare/kediri) pasti merasakan tahapan “W”. “W” Phase di ibaratkan Kurva bagi para petualang sejati yang mengalami suka-duka, bagi mereka yang berada diposisi teratas pasti yang dialami adalah hal-hal yang menyengankan, namun ketika kurvanya turun kebawah sudah dipastikan pengalaman sedihlah yang akan dialami. Seperti yang dikatakan tutor saya bahwa”W” Phase adalah alur yang di alami hampir sebagian besar orang yang hidupnya dirantau, dimana tahap pertama antara bulan 1-2 dinamakan Tahap HoneyMoon, atau tahap bersenang-senang, jalan-jalan, melihat hal-hal baru untuk di kunjungi, pokoknya semuanya asyik, bahkan serasa tidak ingin balik kekampung halaman. Memasuki tahap kedua bulan 3-5 dinamakan Culture Shock, tahap ini kurva “W” berada di bawah, sudah tentu pengalaman yang tidak enaklah yang di alami bagi para perantau. Meraka mulai kaget dengan budaya baru  yang mereka temui, kadang bertentangan, tidak sesuai dengan yang mereka pahami, karna mereka hanyalah pendatang mau tidak mau harus menerima budaya tersebut, tapi tahap ini tergantung dengan orangnya, jika orangnya introvert mungkin agak lebih sulit. Tahap berikut antara bulan 6-8 dinamakan Intial Adjustment kurvanya naik lagi, di tahap ini mereka melakukan penyesuaian diri, mulai menerima budaya-budaya baru yg mereka lihat, mulai merasa kerasan dan sedikit lebih nyaman. Memasuki bulan 9-10 atau Depression Feel Lonely, kurvanya turun meraka mulai depresi, mengalami tekan jiwa karena merasa kesepian, merasa tidak ada teman dekat untuk bisa di ajak berbagi, apa lagi saat-saat datangnya bulan puasa, bingung memilih makanan yg benar-benar halal, apalagi kalau tempatnya dilingkungan yang notabenenya non muslim, sudah pasti harus extra hati-hati, mau di ajak curhat semua sibuk dengan urusan masing-masing dan tdk ada yang mau perduli.. so sad 😦 . Tahap terakhir yaitu bulan 12— adalah tahap Aceptance, para perantau mulai berbaur, mencari KBRI, native yang bisa di ajak berbagi, membangun komunikasih, dan mereka mulai merasa tidak sendiri lagi, yang akhirnya membuat meraka senang. Yuup! Itulah sekilas tentang “W” Phase, kemarin saya berada di kurva  empat, agak sedikit bingung dengan suasana puasa  dan tidak lama lagi lebaran, belum dapat tempat kos yang menerima Pasutri, dan tidak tahu apa ada yang menjual makan, namun ada sedikit kabar baik,, tutor menawarkan untuk masuk ke BoardingHousenya dan Lebaran bersama, mulai berbaur dengan Native 🙂 . Banyak pelajaran dan pengalaman baru yang saya dapatkan ketika dirantau, dan pasti memiliki cerita baru,hmm,,  selalu rindu dengan  petualangan berikutnya  🙂

Iklan
Komentar
  1. ahmadlizam berkata:

    ouh iya bu,, ingat betul materi ini,, sy dlu pernah mempelajari di kelas cross cultural understanding,, sy jg prnah mengalami sulit nemuin makanan yang “halal”, akhirnya sy menggunakan jalan ruksah yg ada..

    Suka

  2. anitadeka berkata:

    hehehe,, iya pasti Mr.pernah mengalaminya,, cuman istilahnya aja yg mgkin uda lupa.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s