Fitrah Nafsaniyah Anak Dalam Psikologi Belajar Islam

Posted: 2 Agustus , 2013 in Makalah

Ikut ngajarOleh

Anita Deka

  1. A.    Latar Belakang

Manusia pada hakekatnya merupakan makhluk jasmani dan ruhani yang mulia, makhluk yang suci sejak lahir, makhluk etis religius, dan makhluk individu dan sosial. Hakekat inilah yang menunjukkan bahwa manusia ini memiliki fitrah atau potensi yang dapat dikembangkan melalui pendidikan Islam walaupun di dalamnya termasuk dalam ranah kajian dari psikologi belajar.

Fitrah atau potensi adalah kemampuan dasar dan keunggulan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya atau pembawaan dari lahir. Fitrah anak manusia dalam psikologi Islam merupakan anugerah  yang diberikan oleh Allah SWT, maka manusia berkewajiban untuk mengembangkan agar menjadi insan kamil melalui proses pendidikan Islam yang berupaya untuk menjaga, memelihara, dan mengembangkan fitrah manusia agar tetap berjalan pada fitrahnya.

Manusia yang merupakan makhluk jasmani dan ruhani ini, maka dalam diri manusia secara tidak langsung mempunyai fitrah nafsaniyah atau psikopisik yang merupakan potensi yang ada dalam diri manusia yang digerakkan melalui 2 komponen gabungan dari ruhaniyah dan jasmaniyah. Yang apabila hanya berorientasi pada jasmaniyahnya saja, maka perilakunya cenderung buruk/negative. Sedangkan jika berorientasi pada ruhaniyah, maka semangat belajar cenderung baik/positif karena karakternya selalu berpihak kepada kebaikan. Maka haruslah dilakukan pengembangan fitrah nafsaniyah ini dalam kajian psikologi melalui pendidikan Islam, karena dapat ikut serta membantu hasil pembelajaran pada masing-masing peserta didik.

Berdasarkan uraian diatas, maka sudah selayaknya dalam pendidikan Islam memiliki landasan psikologis yang berwawasan kepada Islam, dalam hal ini  dengan berpandu kepada al-Quran dan hadits sebagai sumbernya, sehingga akhir dari tujuan pendidikan Islam dapat terwujud dan menciptakan insan kamil bahagia di dunia dan akhirat. Sebenarnya, banyak sekali istilah untuk menyebutkan psikologi yang berwawasan kepada Islam. Diantara para psikolog ada yang menyebut dengan istilah psikologi Islam, psikologi al-Qur’an, psikologi Qur’ani, psikologi sufi dan nafsiologi. Namun pada dasarnya semua istilah tersebut memiliki makna yang sama.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar Belakang Masalah diatas, maka dapat diuraikan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian Psikologi?
  2. Bagaiman Fitrah Dalam Psikologi Belajar?
  3. Bagaimana Fitrah Nafsaniyah Dalam Psikologi Belajar Islam?
  4. Apa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Fitrah Nafsiyah?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

  1. Untuk Mengetahui pengertian Psikologi
  2. Untuk Mengetahui Fitrah Dalam Psikologi Belajar
  3. Untuk Fitrah Nafsaniyah Dalam Psikologi Belajar Islam
  4. Untuk Mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Fitrah Nafsiyah

BAB II

PEMBAHASAN

 

  • A.    PENGERTIAN PSIKOLOGI

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemuka istilah jiwa, nyawa, ruha dan berbagai kata lain yang senada. Jauh sebelum istilah itu juga telah begitu lekat dala kosakata bahasa yang dipergunakan dalam ragam budaya yang berbeda. Peruntukan istilah tersebut merujuk pada bentukan  1`halus dalam diri  manusia yang tidak  terlihat dan hanya dapat dirasakan. Bentuk halus yan tidak tampak itu menimbulkan kesulitan sendiri dalam memberikan pengertian yang tepat. Secara etimologis, psikologi diambil dari bahasa inggris psychology yang berasal dari bahasa yunani Psyche yang berarti jiwa (soul, mind) dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Dengan demikian psikologi berarti ilmu yang mempelajari tentang jiwa.

Secara ringkas dapat diparkan beberapa pengertian psikologi yang dikemukakan oleh para ahli :

  1. Plato dan aristoteles mengatakan psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya  sampai akhir.
  2. Wundt (1829) mengatakan psikologi bertugas menyelidiki apa yang kita sebut pengalaan bagian ddalam sesasi dan perasaan kita sendiri, pikiran serta kehendak ita yang bertolak belakang dengan setiap objek pengalaman luar yang melahirkan pokok permasalahan ilmu alam.
  3. Angell (1910)  mengatakan psikoloki merupakan semua kesadaran dimana saja, normal atau abnormal, manusia atau binatang, merupakan pokok permasalahan yang dicoba untuk dijelaskan oleh ahli psikologi dan tidak ada defenisi ilmu ini yang sepenuhnya  dapat diterima, semua bunyinya kurang lebih sama.
  4. Watson (1919)  bagi aliran behaviour psikologi merupakan bagian dari ilmu alam yang menekankan perilaku manusia – perbuatan dan ucapannya baik yang dipelajari maupun yang tidak  sebagai pokok masalah.
  5. Roediger (1984) psikologi dapat diartikan sebagai studi  sistematis mengenai tingkahlaku dan kehidupan  mental.[1
  • B.     FITRAH DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

Secara etimologi fitrah berasal dari kata فطر yang mengandung arti  kejadian, dan  dari kata الفا طر yang berarti pecahan atau belahan.  Menurut pendapat Muyyazin Arifin, fitrah adalah kemampuan dasar dan keunggulan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya atau pembawaan. Sedangkan menurut  Mustafa al-Maraghi fitrah adalah tabiat yang diberikan oleh Allah SWT pada diri manusia, yang cenderung untuk bertauhid dengan jalan yang benar dan berasal dari akal.[2]  Fitrah (potensi) yang telah diberikan Allah kepada manusia menjadikan manusia berfikir dan mampu menggemban amanat yang dibebankan oleh Allah kepadanya yaitu sebagai Abdullah dan khalifatullah.

Setiap masing-masing anak dalam pada dasarnya telah memiliki ftrahnya sejak lahir, sesuai dengan dasarnya dalam QS. Al-A’raf: 172

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.[3]

Dari dalil di atas yang memuat kata fitrah, maka fitrah dapat diambil pengertian sebagai berikut.

  1. Fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
  2. Fitrah yang berarti potensi. Potensi, mengacu kepada dua hal, yang baik dan buruk. Sehingga perlu dikembangkan, diarahkan, dan dididik. Disinilah fungsi pendidikan yaitu agar potensi manusia bisa terahkan dan berkembang dengan baik.[4]
  3. Fitrah yang berarti apa saja yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada manusia.

Fitrah merupakan kondisi jiwa yang suci, bersih yang reseptif terbuka kepada pengaruh eksternal termasuk pendidikan. Kemampuan untuk mengadakan reaksi atau response terhadap pengaruh dari luar tidak terdapat di dalam fitrah pendapat ini di kemukakan oleh ahli sunnah wal jamaah.

Fitrah adalah faktor kemampuan dasar perkembangan manusia yang dibawa sejak lahir dan berpusat pada potensi dasar untuk berkembang. Potensi dasar tersebut sacara menyeluruh (integral) yang menggerakkan seluruh aspek-aspeknya secara mekanistik yang mana satu sama lain saling mempengaruhi menuju kearah tujuan tertentu.

Di dalam fitrah terdapat berbagai komponen psikologis yang berkaitan satu dengan yang lainnya dan saling menyempurnakan bagi kehidupan manusia, meliputi:

  1. Bakat (mawahib), merupakan suatu kemampuan pembawaan yang potensial mengacu kepada perkembangan kemampuan akademis (ilmiah) dan keahlian (profesionla) dalam berbagai bidang kehidupan. Bakat ini berpangkal pada kemampuan kopmisi (daya cipta), konasi (kehendak), dan emosi yang disebut dengan tri kotomi (tiga kekuatan kemampuan rohani manusia). Masing-masing kekuatan rohani berperan.
  2. Insting (ghorizah), adalah kemampuan berbuat atau bertingkah tanpa melalui proses belajar. Kemampuan insting tersebut merupakan pembawaan sejak lahir juga. Dalam psikologi pendidikan kemampuan ini termasuk kapabilitas yaitu kemampuan berbuat sesuatu dengan melalui proses belajar. Jenis-jenis tingkah laku manusia :melarikan diri karena perasaan takut, menolak Karena jijik, ingin tahu karena takjub sesuatu, melawan karena kemarahan, dan menonjolkan diri karena adanya harga diri.
  3. Nafsu dan dorongan-dorongannya. Nafsu dalam kajian tasawuf dibagi menjadi 4 poin : nafsu mutmainnah yang mendorong kepada taat kepada allah, nafsu lawwamah yang mendorog kearah perbuatan mencela atau merendahkan orang lain, nafsu amarah yang mendorong kearah perbuatan yang merusak, dan nafsu birahi yang mendorong kearah perbuatan seksual.
  4. Karakter atau tabiat manusia merupakan kemampuan psikologi yang dibawa sejak kelahirannya. Karakter ini berkaitan dengan tingkah laku moral dan social serta etis seseorang. Karakter terbentuk kekuatan dalam diri manusia, bukan terbentuk dari dunia luar. Karakter erat hubungannya degan personalits (kepriadian seseorang). Oleh karena itu tidak bisa dibedakan dengan jelas.
  5. Hereditas atau keturunan merupakan factor kemampuan dasar yang mengandung cirri-ciri psikologis dan fisiologis yang diturunkan atau diwariskan oleh orang tua baik dalam garis yang telah jauh.
  6. Intuisi adalah kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham tuhan. Intuisi menggerakkan hati nurani manusia yang membimbingnya kearah perbuatan dalam situasi khusus diluar kesadaran akal pikirannya. Namun mengandung makna yang bersifat konstruktif bagi kehidupannya. Intuisi biasanya diberikan tuhan kepada orang yang bersih jiwanya. Intuisi lebih banyak dirasakan sebagai getaran hati nurani yang untuk berbuat sesuatu yang amat khusus.[5]

Fitrah (potensi) yang ada pada manusia mempunyai korelasi dengan psikologi belajar untuk memperoleh hasil belajar yang diharapkan, karena seperti yang dijabarkan di atas bahwa komponen-komponen yang ada pada fitrah  juga termasuk dalam ranah kajian psikologi. Terutama dalam hal motivasi yang berkaitan dengan dengan masalah pengembangan motivasi belajar sebagai inner potential yang diharapkan dalam menggerakkan perilaku yang lebih positif.[6]

Dalam kaitannya pendidikan dengan fitrah, pendidikan mempunyai tugas untuk menjaga fitrah yang ada pada manusia agar tetap pada fitrahnya dan melindunginya. Maka proses dalam pendidikan Islam adalah upaya untuk menjaga, memelihara, dan mengembangkan fitrah manusia agar tetap pada fitrahnya.[7]

  •   FITRAH NAFSANIYAH DALAM PSIKOLOGI BELAJAR ISLAM

Kata nafs mempunyai beberapa makna yang berbeda dalam al Qur’an, seperti dalam QS. Al An’am: 93

Artinya : “dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” Alangkah dahsyatnya Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”.[8]

Kata Nasf ditafsirkan dengan kata jiwamu atau nyawamu. Secara eksplinsit, al Qur’an telah menjelaskan bahwa manusia tergantung kepada jiwanya yang ada pada badan. Ruh  inilah yang menggerakkan badan (jasmaniyah) untuk melakukan segala aktivitas, temasuk belajar. Maka dalam diri manusia yang terdapat tergantungnya jiwa dengan badan, menunjukkan bahwa dalam diri manusia terdapat fitrah nafsaniyah. Fitrah nafsiyah disebut juga dengan psikopisik karena merupakan gabungan antara jasmaniyah dan ruhaniyah.

Maka fitrah nafsaniyah merupakan potensi yang ada dalam diri manusia yang digerakkan melalui 2 komponen gabungan dari ruhaniyah dan jasmaniyah. Yang apabila hanya berorientasi pada jasmaniyahnya saja, maka perilakunya cenderung buruk/negative. Sedangkan jika berorientasi pada ruhaniyah, maka semangat belajar cenderung baik/positif karena karakternya selalu berpihak kepada kebaikan.[9] Namun beberapa ulama’ mempunyai pengertian dan pandangan yang berbeda-beda mengenai nafs, di antaranya adalah:

Imam al-Ghazali membagi ke dalam 2 bentuk:

  1. al-Ruh yaitu daya manusia untuk mengenali dirinya sendiri mengenal Tuhannya dan mencapai ilmu pengetahuan sehingga dapat menentukan manusia berkepribadian, berakhlak mulia serta mmenjadi motivator sekaligus penggerak bagi manusia dalam melaksanakan perintah Allah SWT.
  2. Al-Nafs (jiwa) yang berarti panas alami yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi, otot-otot dan syaraf manusia. Al-nafs dalam konteks ini diistilahkan dengan jiwa yang membedakan manusia dengan benda mati tetapi tidak membedakannya dengan makhluk lainnya seperti hewan dan tumbuhan. Yang membedakannya yaitu tingkat esensinya.[10]

Pembagian nasf yang lainnya adalah sebagai berikut ini :

  1. Nafs sammiyah muthohammah, diri manusia yang lurus dan selalu mendapat ilham dari Tuhannya.
  2. Nafs amarah, kecenderungan manusia untuk melakukan perbuatan buruk.
  3. Nafs lauwwamah, diri manusia yang selalu menyesal dan ragu.
  4. Nafs Zakiyah, diri manusia yang suci dan tidak terkontaminasi dengan apapun juga
  5. Nafs Radliyah, diri manusia yang dipenuhi dengan rasa untuk memperoleh ridho Allah SWT.[11]

Maka dapat diketahui bahwa al-nafs adalah daya yang memberikan kesempurnaan pada tubuh  organik untuk beraktifitas. Jiwa merupakan penggerak namun ia tidak berfungsi bila tidak ada jasmani. Meskipun sifatnya abstrak nanum eksisensinya merupakan motor penggerak. Nafs dalam al-Qur’an dan as-Sunnah mempunyai banyak makna yang terkandung, diantaranya adalah :

  1. Jiwa atau sesuatu yang memiliki eksistensi dan hakekat, yang dalam artian terdiri dari tubuh dan ruh.
  2. Nyawa yang memicu adanya kehidupan, apabila nyawa hilang maka kematian yang menghampiri.
  3. Diri atau tempat bersemayam hati nurani, nafs dalam artian ini dinisbatkan kepada Allah dan kepada manusia.
  4. Suatu sifat pada diri manusia yang cenderung pada kebaikan dan juga kejahatan.
  5. Sifat pada diri manusia yang berupa perasaan dan indra yang ditinggalkannya ketika ia tertidur.[12]

Dengan demikian dapat dipahami, bahwa baik atau buruknya sikap dan kepribadian manusia, bukan ditentukan oleh aspek jasmaniyah akan tetapi lebih banyak ditentukan dalam aspek rohaniah. Namun demikian, meskipun aspek jasmaniah tidak menetukan dimensi personalitas manusia, namun eksistensinya sangat diperlukan oleh aspek rohaniah bagi pendukung teraplikasikannya seluruh potensi rohaninya dalam bentuk yang lebih konkrit.

Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa fitrah mengacu kepada potensi yang dimiliki manusia. Potensi itu diantaranya yaitu:

  • Potensi beragama

Perasaan keagamaan adalah naluri yang dibawa sejak lahir bersama ketika manusia dilahirkan. Manusia memerlukan keimanan kepada zat  tertinggi yang Maha Unggul di luar dirinya dan dan diluar dari alam benda yang dihayati olehnya. Naluri beragama mulai tumbuh apabila manusia dihadapkan pada persoalan-persoalan yang melingkupinya.[13]

Akal akan menyadari kekerdilannya dan mengakui akan kudratnya yang terbatas. Akal akan insaf bahwa kesempurnaan ilmu hanyalah bagi pencipta alam jagat raya ini, yaitu Allah. Islam bertujuan merealisasikn penghambaan sang hamba kepada Tuhannya saja. Memberantas perhambaan sesame hamba Tuhan. Insan dibawa menyembah kehadirat Allah penciptanya dengan tulus ikhlas tersisih dari syirik atau sebarang penyekutuannya.

  • Kecenderungan moral

Kecenderungan moral erat kaitannya dengan potensi beragama. Ia mampu untuk membedakan yang baik dan buruk. Atau yang memiliki hati yang dapat mengarahkan kehendak dan akal. Apabila dipandang dari pengertian fitrah seperti di atas, maka kecenderungan moral itu bisa mengarah kepada dua hal sebagaimana terdapat dalam surat Asy-Syam ayat 7-8:

Artinya : “dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.[14]

  • Manusia bersifat luwes, lentur (fleksible), manusia mampu dibentuk dan diubah. Ia mampu menguasai ilmu pengetahuan, menghayati adatadat, nilai, tendeni atau aliran baru. Atau meninggalkan adat, nilai dan aliran lama, dengan cara interaksi social baik dengan lingkungan yang bersifat alam atau kebudayaan.[15] Allah berfirman tentang bagaimana sifat manusia yang mudah lentur, terdapat dalam surat Al Insan ayat 3:  

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”.[16]

  • Kecenderungan bermasyarakat.

Manusia juga memiliki kecendrungan bersosial dan bermasyarakat. Menurut Ibnu Taimiyah, dalam diri manusia setidaknya terdapat tiga potensi (fitrah), yaitu:

  1. Daya intelektual (quwwat al-‘aql), yaitu potensi dasar yang memungkinkan manusia dapat membedakan nilai baik dan buruk. Dengan daya intelektualnya, manusia dapat mengetahui dan meng-Esakan Tuhannya.
  2. Daya ofensif (quwwat al-syahwat), yaitu potensi dasar yang mampu menginduksi obyek-obyek yang menyenangkan dan bermanfaat bagi kehidupannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah secara serasi dan seimbang.
  3. Daya defensif (quwwat al-ghadhab) yaitu potensi dasar yang dapat menghindarkan manusia dari segala perbuatan yang membahayakan dirinya.

Namun demikian, diantara ketiga potensi tersebut, di samping agama – potensi akal menduduki posisi sentral sebagai alat kendali (kontrol) dua potensi lainnya. Dengan demikian, akan teraktualisasikannya seluruh potensi yang ada secara maksimal, sebagaimana yang disinyalir oleh Allah dalam kitab dan ajaran-ajaranNya. Penginkaran dan pemalsuan manusia akan posisi potensi yang dimilikinya itulah yang akan menyebabkannya melakukan perbuatan amoral.

Ibnu Taimiyah juga membagi fitrah manusia dalam dua bentuk, yaitu:

  1. Fitrah al gharizat, merupakan potensi dalam diri manusia yang dibawanya sejak lahir. Bentuk fitrah ini berupa nafsu, akal, dan hati nurani. Fitrah (potensi) ini dapat dikembangkan melalui jalan pendidikan.
  2. Fitrah al munazalat, Merupakan potensi luar manusia. Adapun fitrah ini adalah wahu ilahi yang diturunkan Allah untuk membimbing dan mengarahkan fitrah al gharizat berkembang sesuai dengan fitrahnya yang hanif. Semakin tinggi interaksi antara kedua fitrah tersebut, maka akan semakin tinggi pula kualitas manusia.[17]

Berdasarkan uraian di atas, fitrah nafsaniyah terdiri dari daya qalb (yang berhubungan dengan rasa/emosi), daya ‘aql (yang berhubungan dengan cipta/ kognisi), dan daya nafsu (yang berhubungan dengan karsa/konasi).[18]

  • FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FITRAH NAFSANIYAH

Pengembangan fitrah nafsaniyah adalah keniscayaan karena fitrah tersebut merupakan potensi batin yang berpengaruh terhadap perilaku belajar anak.  Dalam mengembangkan fitrah nafsiyah terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya, di antaranya adalah :

Faktor internal meliputi pembawaan ( hati nurani yang senantiasa mengajak ke kebaikan dan kebenaran Ilahiyyah atau nafsu yang selalu mendorong kea rah keburukan) dan faktor organobiologik (susunan syaraf otak dan kondisi fisik organ tubuh).

Faktor eksternal meliputi lingkungan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan nilai-nilai sosial budaya yang bias jadi bercorak religius atau individual materialis-sekuler. Lingkungan ikut mempengaruhi dinamika dan arah pertumbuhan fitrah manusia. Semakin baik penempaan fitrah yang dimiliki manusia, maka akan semakin baiklah kepribadiannya. Demikian pula sebaliknya, penempaan dan pembinaan fitrah yang dimiliki tidak pada fitrahnya maka manusia akan tergelincir dari tujuan hidupnya. Untuk itu salah satu pembinaan fitrah dengan pendidikan.

Akibat buruk faktor ekasternal terhadap perkembangan fitrah nafsaniyah yaitu :

  1. Nasf (jiwa), kehilangan kekuatan/power untuk mendorong melakukan perbuatan-perbuatan terpuji.
  2. ‘aql (akal), kehilangan energi untuk berfikir tentang hakekat kebenaran yang berbasis pada kebaikan, kemanfaatan, dan keberkahan hidup.
  3. Qalb (hati), kehilangan kekuatan /power untuk menangkap /menerima hidayah Allah SWT yang berakibat kehilangan rasa kasih sayang, kelembutan, dan sikap toleransi.[19]

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

              Berdasarkan pada pembahasan makalah yang berjudul “fitrah nafsaniyah anak dalam psikologi belajar islam” di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  1. Secara etimologis, psikologi diambil dari bahasa inggris psychology yang berasal dari bahasa yunani Psyche yang berarti jiwa (soul, mind) dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Dengan demikian psikologi berarti ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Fitrah atau potensi adalah kemampuan dasar dan keunggulan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya atau pembawaan dari lahir.
  2. Fitrah dan psikologi belajar mempunyai korelasi dengan psikologi belajar untuk memperoleh hasil belajar yang diharapkan, karena  komponen-komponen yang ada pada fitrah  juga termasuk dalam ranah kajian psikologi. Terutama dalam hal motivasi yang berkaitan dengan dengan masalah pengembangan motivasi belajar sebagai inner potential yang diharapkan dalam menggerakkan perilaku yang lebih positif.
  3. Fitrah nafsaniyah dalam psikologi belajar Islam, fitrah nafsaniyah merupakan potensi yang ada dalam diri manusia yang digerakkan melalui 2 komponen gabungan dari ruhaniyah dan jasmaniyah. Yang apabila hanya berorientasi pada jasmaniyahnya saja, maka perilakunya cenderung buruk begitu juga sebaliknya.
  4. Faktor-faktor yang mempengaruhi fitrah nafsaniyah meliputi faktor internal meliputi pembawaan dan faktor organobiologik, dan kaktor eksternal meliputi lingkungan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan nilai-nilai sosial budaya yang bias jadi bercorak religius atau individual materialis-sekuler.

B.     Saran

Dilihat dari makalah Diatas, maka telah kita ketahui bersama bahwasanya Fitrah dan psikologi belajar mempunyai korelasi dengan psikologi belajar untuk memperoleh hasil belajar yang diharapkan anak dalam setiap perkembangannya membutuhkan bimbingan psikologi, apabila anak dalam pertumbuhannya tidak dibimbing maka anak itu tidak akan terkontrol baik fantasi maupun emosinya.

Sebagai seorang orang tua atau Guru kita semua patut mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi fitrah nafsaniyah sehingga kita dapat memantau setiap jengkal pertumnuhan dan perkembangannya baik fisik, jiwa, fantasinya maupun emosinya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur’an, 2002. Al-Qur’an Dan Terjemahnya Departemen Agama RI, PT KaryaToha Putra. Semarang.

Djalaludin & Ramayulis.1998. pengantar Ilmu jiwa agama,  Jakarta : kalam mulia

Saleh, Abdul Rahman & Muhbib Abdul Wahab. 2005.Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. Jakarta: Kencana.

Hadziq, Abdullah, MA,2011, Fitrah Manusia Dalam Pendidikan Islam, (Online), http://gagaskarya.wordpress.com/2011/07/14/fitrah-manusia-dalam-pendidikan-islam/.

Hadziq, Abdullah.2012.Ringkasan Materi Perkuliahan Psikologi Anak Dan Belajar, Program Pasca Sarjana, Magister Pendidikan Islam Unissula.Semarang.

Shihab, Quraish. 2002. Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan , dan keserasian al-Qur’an. Jakarta : Lentara Hati.

Taufik, Muhammad Izzanuddin. 2006..Panduan Lengkap Dan Praktis Psikologi Islam, Cetakan pertama, Jakarta: Gema Insani Press.

Tjahjono, Ali Bowo. 2009. Ilmu Pendidikan Islam Bagian Kedua,  Jurusan Tarbiyah Fakutas Agama Islam UNISSULA, Hand Out.

 

(http://gagaskarya.wordpress.com/2011/07/14/fitrah-manusia-dalam-pendidikan-islam/.

 


[1] Abdul Rahman Saleh-Muhbib Abdul Wahab.Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. (Cet.ke-2 Kencana. Jakarta :2005) Hal. 1 dan 5.

[2] Prof. Dr. Djalaludin, Prof. Dr. Ramayulis, pengantar Ilmu jiwa agama, cet 4, jakarta, kalam mulia, 1998, hlm. 72

[3] Al-Qur’an, al-Qur’an Dan Terjemahnya Departemen Agama RI, Semarang, PT KaryaToha Putra, 2002, hlm. 232

[4] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan , dan keserasian al-Qur’an, jilid 5, Cetakan ke I, Jakarta, Lentara Hati, 2002  hlm. 305.

[5] Prof. Dr. Djalaludin, Prof. Dr. Ramayulis., Op. Cit., hlm. 73

[6] Prof. Dr. H. AbdullahHadziq, MA, Ringkasan Materi Perkuliahan Psikologi Anak Dan Belajar, Program Pasca Sarjana, Magister Pendidikan Islam Unissula Semarang, 2012, hlm. 8, t.d

[7] Drs. H. Ali Bowo Tjahjono, M. Pd., Ilmu Pendidikan Islam Bagian Kedua,  Jurusan Tarbiyah Fakutas Agama Islam UNISSULA, Hand Out, 2009, hlm. 3, t.d

[8] Al-Qur’an, al-Qur’an Dan Terjemahnya Departemen Agama RI, Semarang, PT KaryaToha Putra, 2002, hlm. 187

[9] Prof. Dr. H. AbdullahHadziq, MA, Op. Cit.,hlm. 9

[10]……………………….., 2011, Fitrah Manusia Dalam Pendidikan Islam, (Online), (http://gagaskarya.wordpress.com/2011/07/14/fitrah-manusia-dalam-pendidikan-islam/), diakses tanggal 29 Oktober 2012

[11] Muhammad Izzanuddin Taufik, Panduan Lengkap Dan Praktis Psikologi Islam, Cetakan pertama, Jakarta, Gema Insani Press, 2006, hlm 97

[12] Ibid., hlm. 70-72

[13] Prof. Dr. Djalaludin, Prof. Dr. Ramayulis., Op. Cit., hlm. 72

[14] Al-Qur’an, al-Qur’an Dan Terjemahnya Departemen Agama RI, Semarang, PT KaryaToha Putra, 2002, hlm. 896

[15] Prof. Dr. Djalaludin, Prof. Dr. Ramayulis., Op. Cit., hlm. 74

[16] Al-Qur’an, al-Qur’an Dan Terjemahnya Departemen Agama RI, Semarang, PT KaryaToha Putra, 2002, hlm. 856

[17]……………………….., 2011, Fitrah Manusia Dalam Pendidikan Islam, (Online), (http://gagaskarya.wordpress.com/2011/07/14/fitrah-manusia-dalam-pendidikan-islam/), diakses tanggal 29 Oktober 2012

[18] Prof. Dr. H. AbdullahHadziq, MA, Op. Cit.,hlm. 7

[19] Ibid., hlm. 9-10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s