Perpisahan itu membuat saya kuat!

Posted: 23 Agustus , 2013 in Story

puisi-perpisahanSayup-sayup kumandang adzan mengantarkan sisa cahaya senja ke pangkuan ufuk barat yang terlihat sangat jauh di ujung langit sana.. Ah, satu hari lagi terlewati sudah. Namun ketika saya kembali mencoba memejamkan mata mencoba mengulang kembali satu hari ini yang tersisa hanyalah sekelebat bayangan yang tersimpan di memori. Ya,, dan itu akan tergantikan dengan potongan kejadian yang lain lagi. Dan akan terus seperti itu. Tak akan bisa terulang lagi secara nyata.

Hari-hari terus berlalu, dan terus berlalu tanpa jeda tanpa mau menunggu untuk memperlama momen-momen bahagia.. Sebuah awal, pasti memiliki akhir.

Masih terpikir dibenak saya, saya ingin terus bersama dengan orang-orang yang saya sayangi, orang yang saya cintai, saya ingin bermain sepuasnya tanpa ada yang melarang ketika kecil, berlari bebas, memasuki sungai, main perahu, mandi dipantai dan tak pulang sebelum abah memanggil. Walau kadang dimarahi karena kenakalan saya sendiri, tapi saya tahu bahwa ibu dan abah sangat, sangat menyayangi saya.

Saya tidak ingin menerima kenyataan itu terlalu cepat, saya rasa itu adalah waktu yang terlalu singkat untuk bersma orang-orang yang saya sayangi, dan saya harus merasakan betapa sakitnya sebuah perpisahan, terlalu cepat, terlalu cepat bagi seorang anak usia 12 tahun, terlalu cepat ditinggalkan, terlalu cepat perpisahan itu terjadi. Saya coba kembali memejamkan mata, dan berharap ketika bangun saya bisa melihat orang-orang yang menyanyangi saya berada disamping saya, namun ketika terbangun itu hanyalah sebuah bayangan-bayangan masa lalu yang tidak mungkin datang lagi.

Saya ingin segera pulang dan mengatakan kepadamu abah “Abah nita udah besar, dan sekarang udah memakai jilbab, Seperti keinginan  abah waktu itu, ingin menyekolahkan nita di pesantren, tapi karena abah pergi, nita tidak jadi masuk pesantren.” Saya ingin sekali memelukmu abah, mencium tanganmu, malam ini saya benar-benar rindu, rindu, rindu sekali. Saya merindukan kalian semua, ibu, abah dan kakak.  Banyak hal yang ingin saya ceritakan

Saya rindu mendengar dongeng si kancil, cerita kura-kura dan monyet ketika mau tidur, saya ingin mendengar  lagu ular naga yang sering kau nyanyikan abah waktu itu, saya rindu ketika kau membawa saya ke taman pengajian dan selalu menjemput saya tepat waktu dan kita bergandengan tangan saat kembali kerumah. Masih ingat ketika abah membuatkan saya rumah kecil dibelakang rumah untuk mainan masak-memasak, seperti layaknya orang dewasa. Masih ingat ketika saya berangkat sekolah tidak bisa berangkat sebelum mencium kalian berdua dipipi kanan dan kiri, jidat dan hidung, masih ingat kita membuat Samsak dari pasir untuk alat latihannya kakak, akhirnya samsak itu putus karena ulah saya yang nakal, maafkan saya abah.

Namun ketika kau pergi semua hilang, semua telah berubah, saya rasa baru kemarin saya bermanja padamu, namun begitu cepat kau pergi, itulah kenapa saya membenci perpisahan, perpisahan itu memaksa saya dan kakak harus jadi orang dewasa belum pada waktunya. Saya berpikir kita akan bersama dalam waktu yang lama, ternyata tidak, banyak cerita yang saya lalui tanpa kalian.

Sekarang saya sudah berusia 26 tahun, saya sudah menikah dengan laki-laki yang sangat baik, kebaikan dia sama seperti abah dia selalu memanjakan saya, dia benar-benar menyayangi saya, menerima saya apa adanya,  dan telah memberikan ibu dan abah cucu.

Saya tahu setiap pertemuan ada perpisahan, entah kapan tapi itu tidak pernah saya inginkan, kalau suatu ketika Allah memisahkan kita, saya akan memilih untuk meninggalkan bukan ditinggalkan, karena saya sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya, bagaimana sedihnya ketika abah meninggalkan saya. Hari ini saya tidak  bersama dengan anak saya, kita terpisah jauh Ya Tuhan Maafkan saya. Saya merindukan saat-saat pertemuan dengan anak saya.

Saya benci perpisahan, saya takut itu terjadi sering saya mendengar diluar sana begitu banyak kasus dan kata-kata perpisahan, dan perceraian. Ya Tuhan jauhkan itu semua,  dengan perceraianpun dan memilih hidup sendiri bukanlah menyelesaikan masalah, dan bukan solusi terbaik. Saya selalu berharap kita bisa bersama sampai kakek dan nenek dapat mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang.

Saya sudah menghapus semua  kenangan-kenangan  yang tidak menyenangkan yang pernah saya alami, dan ingin menggantinya dengan kebahagian, saya ingin selalu menatap masa depan dengan penuh kecerian meski harus tertatih dan banyak rintangan. Saya ingin meraih mimpi-mimpi saya, saya tidak ingin ada lagi kesedihan, saya hanya ingin selalu tersenyum. Perpisahan dengan abah membuat saya semakin dewasa dan dapat memaknai arti dari setiap kehidupan.

Perpisahan itu membuat saya kuat!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s