Rindu Kalian

Posted: 24 Agustus , 2013 in Story

392495_4567893316720_2013050531_n

” Walau di gedung yang mewah tanpa guru yang berkualitas, proses pendidikan yang berkualitas tidak akan berlangsung, namun meski di bawah sebatang pohonpun dengan guru berkualitas, maka proses pendidikan berkualitas akan berlangsung”( Anne Sullivan)

Kata-kata inilah yang terus memotivasi saya untuk selalu berbuat untuk mereka. Tidak pernah terpikir untuk menjadi seorang pendidik, berdiri didepan kelas dan memberikan motivasi, memberikan ilmu kepada mereka, dan terus  membuat mereka bermimpi untuk meraih cita-cita itu. Tdak pernah terpikir sama sekali, tapi semua itu tidak pernah saya sesali. Bisa berbagi ilmu dengan mereka berbagi pengalaman, dan membuat mereka bermimpi untuk meraih cita-cita itu sudah cukup membuat saya bahagia.

Semua orang mempunyai mimpi, mempunyai cita-cita, sama seperti saya. Waktu kecil ketika ditanya sama abah,”cita-cita ita kalau besar ingin jadi apa?” Dengan spontan saya menjawab “Dokter!” ikut iklan. Setelah saya menjawab abah hanya tersenyum, saya tahu cita-cita itu mungkin terlalu tinggi, dan mungkin saat itu abah berpikir menyekolahkan saya sampai lulus SMA saja sudah merupakan anugerah terbesar yang patut abah syukuri.

577456_3963529448001_1069876077_n

Seiring berjalannya waktu begitu banyak pengalaman hidup yang saya lalui tanpa orang-orang yang saya cintai dan itu semua membuat saya banyak belajar, membuat saya banyak mengerti, membuat saya lebih  memahami arti sebuah kehidupan, mengerti arti sebuah pengorbanan, mengerti arti kerja keras dan sebuah perjuangan hidup dan akhirnya membuat saya semakin dewasa, meski terkadang sifat kekanak-kanakan kadang kumat tanpa sebab.

Tahun 2005 setelah lulus SMA itulah pengalaman pertama saya mengajar, ya mengajar di Taman Kanak-kanak. Setelah lulus SMA itulah awal dari kemandirian saya meninggalkan om dan tante yang telah mengurus saya sejak SMP-SMA. Setelah lulus SMA saya mempunyai keinginan besar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi mimpi itu sempat saya tahan, sambil mencari pekerjaan dan sambil menabung.

Pengalaman pertama bersama anak-anak dan mengajari mereka, mengajar anak TK tidak semuda mengajar anak SMP atau SMA, pengalaman ini sangat berharga bagi saya, dimana saya bisa melatih emosi saya, menjadi orang dewasa dan saat yang sama menjadi anak-anak, bisa memahi dunia mereka, layaknya seorang ibu dan anak. Bertemu dengan anak Autis, ada anak yang sangat nakal dan dengan berbagai macam sifat, benar-benar melatih kesabaran saya. Namun dari pengalaman itu  banyak pelajaran yang saya peroleh.

 Tahun 2006 saya bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan bermodal nekat *cerita itu tidak saya bahas disini. Jurusan yang saya pilih adalah Tarbiyah, termotivasi sejak mengajar di TK, keahlian mengajar terus saya tingkatkan dengan membaca buku-buku, mengikuti seminar-seminar dan mengikuti perkuliahan. Terus belajar menjadi seorang pendidik yang profesional itu seperti apa, sampai akhirnya tibalah saatnya KKN.

Lokasi KKN saya sangat jauh dari perkotaan, namun sebelum diterjunkan ke lokasi KKN terlebih dahulu mengikuti pembekalan untuk mengetahui lebih jelas medan yang akan kita garap. Saat terjun dilokasi KKN saya ditugaskan untuk mengajar di SD kelas 1,2 dan 4. Ini adalah pengalaman kedua saya mengajar dan berdiri di depan kelas. *sayang saya tidak mempunyai fotonya

427389_3429886667265_347634559_n

Waktu kecil saya senang sekali ketika mendengar ada kakak-kakak KKN yang datang, dan melihat mereka berbicara dengan fasih seperti layaknya intelektual muda. Tapi sayang apa yang mereka bicarakan tidak saya pahami, karena bahasanya terlalu ilmiah. Mungkin hanya orang-orang yang sederajat dengan mereka yang mengerti bahasa itu. Hal yang sama saya temui, Kita disambut dengan hangat, ramah dan bersahabat. Masyarakat, anak-anak dan  pemuda desa mulai berdatangan, melihat langsung program-program yang akan kita tawarkan selama KKN,  dari pertemuan itu ada yang cari-cari perhatian, ada yang curi-curi pandang, dan ada yang sok pinter, sok ilmiah dan berbagai jenis karakter mulai bermunculan.

Hari ke-empat kita mulai menjalankan program-program tersebut, tugas saya mengajar di SD. Memasuki gerbang sekolah dan melihat anak-anak kejar-kejaran, bermain, tertawa, cerita-cerita dibawah pohon, ada yang naik pohon, ada yang pake sepatu ada yang pake sandal, ada tas bagus, ada tas yang tidak layak pake, ada yang baju masih berwarna  putih ada yang berwarna coklat, dan ada yang tidak pake seragam. Seketika, suasana itu membawa saya jauh ke alam imajinasi saya, ingatan itu ya itu adalah masa kecil saya, memanjat pohon memakai seragam, kejar-kejaran. Ingatan itu terus bermunculan, mata mulai berkaca-kaca, saya terus berusaha agar air mata tidak menetes, ternyata hari ini saya akan menjadi seorang guru selama 40 hari. Rasanya  saya ingin lari dan pulang kerumah dan berkata kepada ibu, kalau saya akan mengajar, tapi saya masih merahasiakan semua itu, saya ingin memberi tahunya ketika saya lulus S1 dan memberikan nilai Cumlaude kepadanya. Dan bagaimana perasaan abah ketika tahu mungkin dia akan senang ketika anaknya bisa sarjana dengan predikat cumlaude, tapi sayang dia pergi terlalu cepat. Tiba-tiba teman KKN langsung menyapa, “Nit ,,,saatnya masuk kelas.” *Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s