Antara Mimpi, Cinta Dan Ketaatan

Posted: 27 Agustus , 2013 in Cerpen

the_girl_of_my_dream____by_taykutPukul 20:00 WIB, disudut kamar ukuran 4×4, badan  masih terasa gerah dan tak nyaman dengan udara yang sedikit panas, ditemani kipas angin kecil dengan suaranya yang sedikit bising, namun terus setia menemani saya seolah-olah  tak pernah bosan menemani majikannya. Kipas angin ini tak pernah berhenti berputar semenjak saya tiba minggu lalu di Semarang. Mungkin jika kipas angin ini bisa bicara, dia akan berkata sambil teriak, “Tolooooong,, saya ingin istirhat sejenak, tolong matikan dulu kipasnya saya capek.” Tapi terkadang saya tak memperdulikan itu, namun beberapa saat saya melirik kembali ke arah kipas angin kecil kesayangan saya, dengan penuh rasa iba, akhirnya memaksa saya bangkit dari ranjang dan menatap dia perlahan sambil tersenyum, dan segera mematikannya.

Mungkin ketika saya mematikan kipas angin kecil itu, dan saat itu dia bisa bicara dia akan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, sambil memegang tangan saya yang telah sudi memencet tombol “0” dan berkata, “Terimkasih, terimakasih, engkau adalah majikan yang baik dan masih memiliki perasaan.”

Saya kembali duduk diatas ranjang, terdengar dari luar kamar kost suara kendaraan lalu-lalang dijalan, sesekali terdengar suara ledakan ban mobil dari jalan tol, saat yang sama terdengar kembali suara klakson kendaraan bermotor dan mobil dari jalan raya yang sepertinya tak akan pernah berhenti, setiap harinya sudah seperti itu.

Jarak kost-san saya memang tak terlalu jauh dari jalan raya dan jalan tol kira-kira hanya berjarak sekitar 10 meter dari kost. Tak lama kemudian menyusul suara penjual mie ayam yang lagi berjalan menyusuri lorong depan jalan kost, suara botol kaca yang di pukul pake sendok sama mas penjual mie ayam semakin jelas ditelinga saya, dan terasa semakin mendekati kost-san yang saya tempati, suara mie ayam itu mulai menggoda perut saya yang benar-benar lapar, karena sudah jam 20:00 WIB  belum juga makan malam. Seketika tercium aroma kopi yang berasal dari belakang kost, karena pabriknya tidak terlalu jauh dari kost-an. Hmm,, Begitulah suasana dikota-kota besar, suasana yang kadang tak bersahabat tapi cukup memberikan inspirasi.

Abi juga belum pulang, saya masih terduduk diatas sudut ranjang asyik menulis dengan perut keroncongan, sambil menunggu abi. Saya melirik ke kiri, melihat HP yang saya letakkan disebelah kiri, HP-nya menyala tanpa suara. Ternyata ada pesan masuk, memang HP-nya sengaja disilent, langsung saya buka pesan itu dan membacanya, ternyata dari kakak ipar.

”Asslmmu’alaikum,, Tha gimana kabarnya lagi apa? udah makan blum? Ibu ingin bicara, tolong ganti kartunya dulu.” Dengan cepat saya langsung membalas sms itu, dan membiarkan netbook tetap terbuka, ”Wa’alaikumsalam, alahmdulillah baik, belum makan nanti tunggu k’adit pulang, kartunya ada sama adik ipar di asrama kampus, kmarin lupa ambil, telfon saja dinomr k’adit, k’adit  g bawa HP.” Tak terhitung dua menit HP-nya abi bergetar, pasti itu ibu pikir saya dalam hati.

Aktifitas menulis segera saya tinggalkan, dan langsung berdiri meninggalkan ranjang dan pergi mengambil telfon yang abi letakkan di atas lemari. Langsung saya angkat telfonnya dan duduk kembali ke atas ranjang, betul itu suara ibu, kata saya dalam hati. Netbook masih saya biarkan menyala tapi kali ini hanya fokus mendengarkan suara ibu.

”Asslmmualaikum,, Tha lagi apa?” saya tersenyum mendengar suara ibu ditelfon, dan langsung saya menjawab salamnya ibu ”Wa’alaikumslam,, lagi menulis bu.” Jawab saya, pertanyaan kembali menyusul dengan suara yang tidak begitu jelas, karena jaringan malam itu tidak begitu bagus, ”Tha uda makan? disini ibu lagi siap-siap masak ketupat dan nasi bungkus, karena besok pagi ada hari raya ketupat dan sudah siapakan ikan untuk dibakar besok.” Ibu terus cerita. Saya terus menyimak, ”coba itha disini bersama ibu, pasti kita bakar ikan sama-sama, itha bisa makan masakan ibu tiap hari, bisa makan sepuasnya biar berat badan itha naik.” Mendengar kata-kata ibu, saya hanya tersenyum kecil, dan menanggapi kembali kata-kata ibu.

”Kalau ibu disana gimana keadaanya, sehat?” saya kembali bertanyaa dan melanjutkan pembicaraan, “Wah disana enak, tha rindu ingin segera pulang, pas tha lagi lapar ini, lagi nunggu abi pulang baru makan sama-sama, ibu malah cerita tentang ikan bakar dan ketupat.” saat itu langsung teringat semua masakan ibu, dan perutpun semakin lapar, ibu melanjutkan ceritanya tapi kali ini suaranya mulai putus-putus karena jaringan semakin jelek. Saya coba kembali mengulangi kata-kata saya dengan nada agak lebih nyaring biar ibu bisa mendengarnya. Ibu kembali mencoba bicara.

”Tha,, tha,, jaringannya tidak bagus, tunggu ibu ke pantai ya.” Sambil berjalan menyusuri gang kecil menuju pantai. Rumahnya memang dekat dari pantai kira-kira hanya 10 meter dari rumah. Tiba-tiba suara ibu terdengar lagi, kali ini agak jelas, ibu kembali bertanya, ”Tha berapa lama lagi selesai kuliah?” saya biarkan ibu terus cerita, ”Ibu rasa selesai S2 itu sudah cukup, kalau sudah selesai tahun depan, pulang saja ke Manado ya? dan cari kerja disini supaya bisa tinggal dekat-dekat ibu. Ibu rindu sekali, apa itha sudah tidak rindu dan sayang lagi sama ibu??” saya terus menyimak, dengan mata yg mulai berkaca-kaca.

“Sudah hampir 15 tahun kita tidak pernah bersama, setelah lulus SD itha pergi, mampir dirumah dan bermalam hanya setelah lulus s1 dan saat itu itha meminta izin untuk menikah, setelah menikah dibawa sama Adit tinggal di Kendari, dan sekarang itha lanjutkan sekolah di Semarang, itha sudah semakin jauh, tha,, ibu benar-benar rindu.” Suara ibu terdengar lagi menangis.

Mendengar ibu menangis ditelfon, air mata saya tidak bisa diatahan, saya langsung menangis. Ibu terus berusaha bicara, ”Apa itha memang sudah tidak sayang sama ibu? Kalau itha mungkin tinggal di Manado, seminggu sekali itha bisa datang kerumah dan melihat kondisi ibu. Ibu sering sakit, ibu ingat-ingat itha terus, sudah terlalu lama kita tidak bersama, ibu takut kalau ibu meninggal itha tidak ada didekat ibu, karena itha terlalu jauh.” Ya Tuhan, ketika mendengar kata-kata ibu, saya hanya bisa terdiam, air mata terus mengalir, isak tangis ibu terus terdengar dari telfon. Dalam hati sejenak berpikir, saya harus bagaimana apa yg harus saya perbuat. Disisi lain saya harus ikut suami, disisi lain saya tidak tega jauh dari ibu, disisi lain saya ingin meraih mimpi-mimpi saya sebagai janji saya kepada abah sebelum meninggal.

Ibu masih memegang telfon dan melanjutkan ceritanya ”Tha selesai S2 pulang saja ya? Tidak usah lagi melanjutkan S3 atau apalah, meski dapat beasiswa lagi, S2 itu sudah cukup, ibu tidak izinkan, karena semakin hari itha semakin jauh, pokokya S2 itu sudah cukup bagi seorang perempuan.” Ibu terus meyakinkan saya, kali ini suara ibu terdengar lebih tenang dari sebelumnya, sambil menyeka air mata dengan sarung yang ada disamping saya, kemudian mencoba menanggapi kembali telfon ibu dengan nada yang sedikt lebih tenang.

”Bu,, itha juga sayang sekali sama ibu, itha juga rindu sama ibu, tapi itha mempunyai mimpi, itha sudah janji sama abah dulu sebelum meninggal, itha akan tetap sekolah dan meraih mimpi-mimpi itha,  itha ingin sekali membuat ibu dan abah bangga, meskipun sekarang abah udah tidak ada, dan itha minta maaf sampai saat ini itha belum bisa membantu ibu secara materi, maafkan itha bu’ maafkan itha, tapi itha akan terus berusaha.” saya terus cerita, “Bu’ itha ingin sekali mencapai mimpi-mmpi itu, meraih cita-cita itha meski hanya seorang anak dari keluarga yang amat sederhana.” Saya berusaha menjelaskan dan meyakinkan ibu, tak lama ibu langsung menjawab telfonnya kembali,

”S2 itu sudah cukup tha,, bukan masalah uang yang ibu minta, tapi melihat itha sehat, melihat itha bisa bersama ibu, itu semua sudah cukup buat ibu bahagia, insyaAllah selesi S2 tahun depan segeralah pulang tha, dan tinggal dimanado sama adit, biar ibu masih bisa melihat itha, dan kalau ibu rindu, kita masih bisa bertemu disini.” Saya terdiam dan tersenyum kecil dan terus menyeka air mata, sambil memikirkan sesuatu, mendengar kata-kata ibu, kembali saya menjawab, ”insyaAllah bu’ insyaAllah,” saya melanjutkan pembicaraan lagi ”Bu’ ini sudah jam 9 malam kalau di Manado berarti sudah jam 10, sekarang ibu lagi menerima telfon dipinggir pantai, pasti dingin.” Tiba-tiba bunyi pintu kamar kost terbuka, ternyata abi sudah pulang.

Saya melanjutkan pembicaraan dengan ibu ditelfon, “Bu’ini sudah malam, ibu masih di pantai, kebetulan k’adit sudah pulang, gimana nanti kapan-kapan kita sambung lagi ceritanya,”Terdengar langkaha kaki ibu mulai berjalan menyusuri jalan menuju rumah sambil memegang telfon dan berkata ”iya,, Iya tha, salam sama Adit, dan pikirkan kembali kata-kata ibu tadi, dan cepat makan biar tidak kena maag lagi.” sambil terseyum langsung saya jawab, ”iya bu’ nanti disampaikan, dan akan itha pikirkan lagi kata-kata ibu tadi, oh ya,, titip salam juga buat orang-orang dirumah salam sama kakak.” ibu kembali menjawab, “iya, tha, ibu tutup telfonnya ya? Wsslmmualaikm.”Ibu sudah sampai dirumah. Saya membalas salam ibu,”iya bu’ Wa’alaikumsalam.” ibu menutup telfonnya dan perckapanpun berakhir.

Hampir 15 tahun tidak bersama ibu, apa mungkin karena sudah terlalu lama tidak bersama dan terbiasa hidup mandiri jauh dari mereka membuat saya kadang cuek. Meski dari lubuk hati yang paling dalam hati saya selalu teriak bahwa saya benar-benar merindukan ibu. Apa saya sudah terbiasa dengan kondisi yang selalu kesepaian saat libur kampus tiba, atau masih ada sedikit rasa kecewa ketika mendengar ibu harus menikah lagi setelah abah meninggal, karena waktu itu saya dan kakak masih tetap menyayangi abah, sangat menyangi abah, rasanya tidak ingin ada seorang laki-laki lain yang harus menggantikan posisi abah dirumah.

Ibu maafkan saya, saya tahu ibu tidak pernah salah ketika harus memilih menikah lagi, karena ibu butuh teman yang akan menjaga ibu, merawat dan menyayangi ibu maafkan saya. Saya selalu berharap semoga dia adalah laki-laki yang baik, dapat menyayangi ibu sebagaimana abah menyayangi ibu ketika masih bersama.

Sekarang saya masih bingung dengan pilihan-pilihan yang harus saya hadapi, saya sangat mencintai ibu, saya ingin tingal didekat ibu, biar saya bisa merawat ibu kalau sakit, saat yang sama saya harus taat kepada suami mengikuti suami dimanapun dia pergi, dan saat yang samapun saya ingin tetap mengejar mimpi-mimpi saya, mimpi yang pernah saya katakan ke abah sebelum abah meninggal, bahwa itha ingin sekolah setinggi-tingginya dan membuat ibu dan abah bangga. Tapi setelah mendengar telefon ibu semalam ternyata ibu tidak begitu senang kalau saya ingin terus mengejar mimpi-mimpi itu, dan terus meminta saya harus kembali. Kata-kata itu cukup membuat saya gelisah, saya benar-benar bingung. Saya mencintai kalian semua, saya mencintai ibu, mencintai suami dan anak saya, dan saya ingin terus bermimpi. Hari ini saya harus berdiri diantara mimpi saya, cinta saya sama ibu dan keluarga dan ketaatan saya sama suami. Ya Allah Engkaulah yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk saya.

saya berada diantara Mimpi,cinta dan ketaatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s