Cinta tak salah

Posted: 1 September , 2013 in Cerpen

By. Shohwah

Mata saya langsung jatuh ke arah Anak itu. Pemandangan itu membuat tanda tanya besar dipikiran saya. Dia terus saja menangis. Entah kenapa setelah dia memegang HP-nya, tangisan itu semakin menjadi. Saya terus memperhatikannya dari kejauhan. Karena sejak tadi, sebelum kuliah dimulai, saya hanya memperhatikan dia dengan penuh rasa cemas. Saya yang sejak tadi berdiri di depan fakultas Ekonomi terus memperhatikan gerak-geriknya. Saya cukup mengenalnya. Ya, dia Ayla. Anak yang cukup berprestasi dikampus. Anak jurusan ekonomi, semester lima. Ayla orangnya Extovert, humoris, dan supel. Dia mudah akrab dengan siapapun. Tapi walaupun dia mandiri. Dia tetap manja dan kadang kekanak-kanakan, mudah sekali menangis. Ya, begitulah yang saya ketahui tentang Ayla. Saya kakak tingkat Ayla di fakultas ekonomi yang lagi menyelesaikan tugas akhir dikampus. Kelihatannya dia tidak merasa tenang seperti sebelumnya. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? apa yang dia rasakan? Saya terus menduga-duga dengan penuh tanda tanya besar dikepala. Saya berjalan perlahan mendekati dia yang duduk di gazebo depan fakultas. Tak selang beberapa menit, saya sampai di gazebo depan fakultas.

saya coba mendekatinya. Dia terus saja menangis. Saya langsung duduk disamping Alya sambil meraih pundak Alya. Saya coba menyapanya. “Ayla? kamu kenapa? kakak sejak tadi memperhatikanmu dari depan fakultas, kamu terus saja menangis? sebenarnya ada apa? mungkin Ayla bisa ceritain ke kakak”. saya coba membuka pembicaraan. Mendengar saya bertanya isak tangis Alya terus terdengar, hingga air matanya menderas, dan langsung memeluk saya erat. “Ayla, tenang dulu, tenangkan hatimu ya,  coba cerita ke kakak masalah Ayla apa” saya terus memeluknya. Kita mulai akrab setelah saya mengundang dia ikut bergabung dikegiatan kantong belajar. Karena setelah dia tau kalau ada pertemuan itu, dia memutuskan bergabung dan ingin mengembangkan kemampuannya dalam bidang ekonomi. Jadi kita sudah saling mengenal, dan dia sering curhat juga masalah-masalah pribadinya. Jadi saya sudah cukup tau tentang Ayla.

“Begini kak’ fa” sambil menyeka air matanya dengan tisue. Alya coba bicara, untuk memberikan penjelasan, “Sejak pertemuan dengan mas faris itu, hati ayla mulai nggak tenang kak “Alya meneruskan lagi, “Alya mengambil nomer HP mas faris tanpa sepengetahuan mas faris. Alya mengambil nomernya dari  teman Alya dikampus.” Mas faris adalah, seorang mahasiswa jurusan akonomi, semester tujuh. Mas faris juga mahasiswa yang berprestasi dikampus, karena kepinterannya, ketekunannya sehingga sering mendapat nilai plus dari kampus. Dia tipe orang yang sedikit dingin, ambisius, dan tak suka menghabiskan waktu dengan sia-sia, dan tidak begitu cepat akrab dengan orang. Tapi orangnya baik dan religius. Terkadang mahasiswi-mahasiswi kampus simpati karena sifat mas faris yang seperti itu. Dia di angkat jadi ketua kantong belajar yang dibentuk oleh anak-anak ekonomi. kantong belajar ini khusus jurusan ekonomi, yang ingin bergabung dan menggali ilmu tentang ekonomi, pintu terbuka belajar. karena, multiple intelligencenya dalam team work sangat bagus, selalu vokal dan pemberani. Tak pelak lagi teman-temannya mengangkat dia sebagai ketua kelompok. Saya cukup mengenalnya karena saya sering mendengar cerita tentangnya dari Ayla da kita memang satu fakultas. Saya sendiri mengenal mas faris lebih jauh setelah bergabung bersama mereka mengikuti kegiatan kantong belajar, yang dilaksanakan setiap hari rabu dikampus. Saya mengenal Ayla ketika dia ikut  kegiatan ngaji dikampus bersama anak-anak LDK, dan kita menjadi lebih akrab setelah ketemu dikantong belajar itu.

“Terus?” saya coba bertanya menanggapi ceritanya. “Kenapa Alya sampai nangis kayak gini?” saya penasaran. Alya melanjutkan lagi ceritanya “Selang beberapa hari setelah Ayla mengambil nomer HP mas faris, Ayla mengirim sms kepadanya. Ayla menyapanya, dan pernah menelfonnya, lama-kelamaan kita akrab, dan berteman. Kita kadang berdebat, kadang tertawa. Ayla suka menggangunya karena karakter mas faris mirip dengan teman ayla yang dulu. Ayla hanya ingin berteman dan share ilmu aja sama mas faris tidak ada maksud apa-apa kak'”. Ayla melanjutkan,

“Tapi ternyata Hati dan perasaan Alya tidak bisa dibohongi kak’.” Ayla terus menangis, “Ayla sudah coba berkali-kali melupakan mas faris, karena Ayla pikir semua itu tidak baik, hati Ayla mulai terkotori, hati ayla mulai berpenyakit. Ayla menyukainya diam-diam, Astghfirullaah maafkan Alya kak’ Ayla sudah berdosa. Padahala Ayla tahu sendiri kalau mas faris menyukai orang lain. Dan mungkin sekarang dia punya pacar. Dan tak mungkin mas faris sedikit pun memiliki perasaan yang  sama ke Ayla. Itu tidak mungkin, karena Ayla tahu diri juga kak’ siapa Ayla.” Air mata Ayla terus menderas. Sejurus kemudian saya terdiam dan hanya beristighfar dalam hati.

Alya kembali mencoba bicara, “Kemarin mas faris sms Ayla. setelah dia tau Alya suka sama mas faris. Mas faris bilang jangan ganggu dia lagi, hapus nomornya dan segera lupakan dia. Karena mas faris tidak ingin terjadi mudhorat, karena niat pertamanya memang hanya berteman dan silaturohim nggak lebih. Apa Ayla berdosa kak? Apa Ayla bersalah jika memiliki perasaan suka sama orang lain karena kebaikannya? apa itu salah dimata Allah?” Ayla kembali menyeka air matanya. Saya kembali meraih pundak Alya, dan membiarkan dia bersandar dipundak saya. saya coba menenagkannya, dan coba menjawab pertanyaan-pertanyaan Alya sebisa saya.

“Tidak ada yang salah, Ayla atau pun mas faris. Suka sama siapapun, atau kagum, simpati itu adalah fitrah. Namun terkadang kitalah yang sering salah menempatkan posisi perasaan kita. Ayla harus tau, bahwa Allah selalu lebih mengetahui segala sesuatu yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Dia memberi apa yang kita sebut sebagai luka hati. Semata-mata agar supaya kita bisa mengambil hikmah di baliknya. Pun ketika kita harus kehilangan seseorang yang kita cintai sekalipun. Maka sudah pasti Allah punya alasan di baliknya. Ada hikmah di baliknya.” Tangisan Ayla mulai redah dan sedikit lebih tenang. Saya melanjutkan pembiaraan. Ayla masih terus bersandar dipundak saya.

“Kenapa kita memejamkan mata ketika kita tidur? Atau ketika kita menangis? Ketika kita membayangkan?”

“Itu karena hal terindah di dunia yang tidak selalu terlihat. Kadang orang yang kita cintai adalah orang yang paling menyakiti hati kita. Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan. Ada orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan. Tetapi ingatlah, melepaskan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari suatu harapan baru. Masa depan yang baru.”

“Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka yang tersakiti, yang telah mencoba dan mencari. Karena merekalah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.” Ayla bangkit, dan menegakkan pundaknya kembali. Kali ini Ayla sudah agak baikan. Dia menanggapi penjelasan saya,

“Trimakasih kak fa’, sekarang Ayla udah ngerti. Betul kata kak fa’ kalau mas faris memang tidak salah, mungkin itu adalah cara terbaik yang mas faris ambil. Dan benar kata kakak kalau melepaskan seseorang yang pernah hadir dalam kehidupan kita bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari suatu harapan baru. Masa depan baru”. Ayla tersenyum tenang, “Makasih ya kak fa’ kakak selalu ada disaat Ayla butuhkan”. “Iya sama-sama sayang.. kita saling mengingatkan, jadi ingat ya ketika kita merasa bersedih harus kehilangan  cinta, Akan tetapi ketika cinta itu mati, kita tidak perlu ikut mati bersamanya lhoo.. tetap semangat ya, jangan karena kejadian ini membuat  Ayla drop dan nggak kuliah lagi. Awas ya. kakak akan terus awasi.” Ayla tertawa.

Siang berangsung Sore. Sayup-sayup kumandang adzan mulai terdengar dari Mesjid kampus. Tak terasa percakapan tadi hampir satu jam berlalu. Saya mengajak Ayla bergegas menuju mesjid. “Ayla, Ayo ke mesjid,” Ayla menjawab, “iya, Ayo kak fa”. Sambil merapikan jilbabnya. Kita berjalan bersama. Ayla mensejajarkan langkahnya. Pandangan matanya mantap melihat kedepan jalan. kita bergandengan tangan menuju mesjid tuk menunaikan sholat Ashar. Sesekali saya menoleh ke arah ayla dan melemparkan senyum lega. “Alhmdulillaah hari ini saya bisa membuat orang tersenyum kembali”. Bisik saya dalam hati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s