3 Hal Penting Sebelum Kuliah di Luar Negeri

Posted: 4 September , 2013 in Artikel-artikel

Selamat Malam Sahabat Blogger. Ada beberapa tips nih. Bagi yang ingin melanjutkan study ke luar negeri. Setelah  saya googling, sepertinya ini bermanfaat. 🙂

Pengalaman Evelyn Djuwidja

Jika ada yang ingin diketahui Evelyn Djuwidja sebelum memulai rangkaian studinya di jurusan Broadcast and Electronic Communications Arts di San Francisco State University, Amerika Serikat, adalah ketiga hal ini. Tiga hal ini penting untuk diketahui siapa saja yang ingin melanjutkan studi di luar asing, terutama di Amerika Serikat.

Tiga hal ini mencakup kehidupan akademiknya di kampus dan juga relasi sehari-hari dengan lingkungan sekitar. Masuk ke lingkungan dengan budaya yang berbeda tentu tidak mudah. Oleh karena itu, Evelyn ingin berbagi melalui Indonesia Mengglobal.

Apa saja tiga hal itu?

Tiga Hal Yang Saya Harap Saya Ketahui Sebelum Kuliah Di Luar Negeri

Saya tiba di San Fransisco sebelum semester musim gugur dimulai. Suhu udara sudah mulai turun dan dedaunan sudah mulai berubah warna… bukan jadi warna merah, karena San Francisco tidak cukup dingin untuk merubah warna pepohonan menjadi merah seperti di buku-buku cerita,  hanya menjadi lebih gersang dari biasanya.

Jujur, saya tidak sempat menyadari ini, karena saya terlalu panik menghadapi pengalaman pertama masuk kuliah.

Saya memulai perkuliahan di City College of San Fransisco. Sebenarnya, mungkin saya lebih beruntung dibandingkan teman-teman yang lain, karena saya punya kakak yang tengah menyelesaikan program undergraduate-nya dan kami tinggal di sebuah apartemen cukup dekat dengan College. Ditambah lagi saya dibekali dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik. Kekurangan saya adalah kepercayaan diri yang minim… dan kesadaran bahwa kuliah seharusnya dinikmati bukan untuk dipusingkan.

Saya mau berbagi tiga hal yang saya harap diberitahukan oleh seseorang sebelum saya memulai kuliah saya di negara asing.

Yang pertama adalah saya berharap seseorang memberitahu untuk menyimpan dokumen-dokumen saya di tempat yang aman dan mudah diingat. Ada tiga dokumen sakral dalam hidup mahasiswa internasional di Amerika: paspor, i-20 dan i-94. Ini adalah hal pertama yang harus dipastikan keberadaannya sebelum menyeberangi perbatasan negeri Amerika, baik masuk maupun keluar, setidaknya 2 minggu sebelumnya. Butuh waktu cukup lama untuk memperoleh dokumen ini jika hilang dan saya mempelajari hal ini ketika sudah terlambat.

Hal kedua yang saya harap tahu pada hari pertama saya di kelas? Menulis esai. Jika kamu melewati pendidikan pra-kuliah ala Indonesia (standar internasional tidak dihitung), ingat ini: kamu akan gagal dalam essay pertama Anda. Essay pertama saya adalah untuk kelas bahasa Inggris, mata kuliah yang sebenarnya saya nikmati, kecuali pada mata kuliah Penyair Abad Ke-16, dan saya mendapat nilai C- (dan saya tidak menghadapinya dengan baik).

Menurut dosen saya, hal ini ternyata umum dialami oleh mahasiswa internasional. Pendidikan pra-kuliah kita tidak mengharuskan siswanya untuk membaca dan memahami karya sastra, serta menulis interpretasi mereka tentang bahan bacaan. Kita tidak pernah diajari bagaimana tugas akademis (academic paper) harus disusun secara terstruktur atau memiliki argumen yang koheren. Ini yang menjadi sumber stres saya selama berminggu-minggu. Untungnya, saya diberitahu caranya untuk meminimalisir musibah ini, yaitu dengan memanfaatkan tutor menulis. Jasa mereka biasa diberikan gratis (untuk mahasiswa), mereka nongkrong di perpustakaan atau pusat tutorial dan dibayar untuk mengajar Anda menulis dan mengedit tugas Anda, maka pastikan untuk memanfaatkan mereka.

Yang terakhir adalah masalah culture adjustment (penyesuaian budaya). Bukan culture shock, hanya penyesuaian saja. Sebenarnya ini bukan masalah yang terlalu awam. Di umur 18 tahun, saya punya masalah kronis dalam bersosialisasi. saya tidak pandai berbincang ringan atau mengawali percakapan. Saya bahkan ragu meminta orang lain untuk mengulangi perkataannya. Ini adalah masalah besar jika hidup di negara berbahasa asing. Saya pun menghabiskan dua bulan pertama saya untuk berbicara dengan orang lain, termasuk penjaga kios Frozen Yogurt dan wanita tua yang melambai pada saya di seberang jalan.

Meskipun begitu, saya belajar hal penting: orang-orang tidak terlalu peduli pada kelemahan berkomunikasi orang asing. San Francisco sesungguhnya punya banyak orang Asia dan imigran asing. Bahkan saya menyadari bahwa berbicara dengan baik dan benar tidak penting (kecuali pastinya jika ada di dalam kelas). Orang-orang akan mencoba mendengarkan Anda dan mereka terbiasa berkomunikasi dengan orang asing. Bahkan mereka tidak akan peduli jika Anda berkomunikasi dengan menunjuk dan mengacungkan jari.

Pada akhirnya, saya belajar untuk berjalan seperti biasa, menikmati sekelilingku, dan tersenyum pada orang yang tidak kukenal. Kadang mereka senyum balik. Kadang mereka mengabaikan saya, tetapi tidak masalah, karena terkadang saya juga pura-pura tidak melihat mereka.

Tentu saja, Anda tetap harus menjaga diri. Jangan pernah terlihat kebingungan di tengah jalan (tolak tawaran orang yang menghampirimu dan menawarkan untuk membawamu ke suatu tempat). Jangan berjalan sendirian di gang yang gelap. Jangan pernah menunjukkan waktu dengan memperlihatkan ponsel Anda pada orang tidak dikenal, atau memegang ipod di luar kantongmu (sekali lagi, saya belajar ini ketika sudah terlambat). Selebihnya, Anda akan baik-baik saja. saya berhasil kuliah di luar negeri. Percayalah, Anda juga akan berhasil.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s