Pencapaian Pertama

Posted: 4 September , 2013 in Story

Pak guru“Pada tanggal 23 bulan sepetember tahun 2010. Kami nyatakan Anda LULUS dengan Cum Laude”. Setelah selesai membaca hasil kelulusan itu. Rasanya seperti hujan yang turun tak bergerimis. Tiba-tiba tawa air mata menyeringai dari sudut mata. Tak ada kata yang terangkai dari mulut saya ketika mendengar kata-kata  itu. Saat itu juga langsung teringat semua orang-orang yang selalu menginspirasi saya. Abah, ibu, k’adit, mimi, kim, k’lia, k’lisa, murobbi saya, teman-teman LDK, teman-teman KAMMI. Almamater saya dan dosen-dosen yang tak henti-hentinya memberikan motivasi sampai akhirnya saya bisa mencapai titik pertama saya.

Air mata kebahagian terus mengalir di sudut mata. Rasa tidak percaya muncul. Apakah ini hanya mimpi. Jerit hati di antara ayat-ayat yang terucap dari mulut saya tak henti-henti memuji kebesaran Tuhan atas hari ini, atas satu pencapaian ini. Tiba-tiba saya menoleh ke kanan. Sosok yang berdiri memakai jilbab hitam, perempuan dewasa berparas lembut, ya dia adalah K’lia. Mata saya langsung jatuh ke arah-nya. Mata k’lia mantap menatap saya dengan senyum kebahagian. Tak sadar air matanya terus menetes. Saya berjalan mendekati k’lia dan memeluknya erat sambil berkata, “k’lia terimakasih untuk semua kebaikan-kebaikannya selama ini, terimakasih atas dukungannya selama ini, terimkasih tuk semua nasehat-nasehatnya selama nit kuliah.” Air mata saya tak bisa ditahan, semakin menderas. K’lia terus memeluk saya dan memberikan selamat,

“selamat ya de’. Atas apa yang sudah ade peroleh hari ini. Alhmdulillaah semoga ilmunya berkah, bermanfaat untuk agama bangsa dan negara.” K’lia mengingatkan lagi,” Jangan lupa segera temui ibu, dan beritahukan kabar gembira ini, bahwa ade selama ini kuliah dengan baik, meski tanpa mereka. Dan sekarang telah menyelesaikan S1 dengan nilai yang amat baik. Pasti ibu ade akan bangga mendengar ini semua.” K’lia tersenyum dan meraih pundak saya. Saya membalas senyumnya dengan mata yang masih berkaca-kaca.

Setelah berjabat tangan dengan teman-teman dan dosen. Hati ini tak sabar ingin segera cepat pulang kekampung dan memberitahukan kepada ibu. Lalu bagaimana dengan abah? Sudah pasti dia akan sangat bangga. Meski dia telah pergi. Pikir saya dalam hati. Saya akan segera ke pemakamannya dan menyampaikan kabar gembira ini. Saya akan menjawab pesan abah dulu sebelum meninggal. Kalau hari ini anak mu.  Anak Desa itu  bisa membuktikannya. Saya bisa tanpa ibu dan abah. Saya bisa meraih mimpi itu meski ini baru pencapaian pertama saya.

Saya pamit sama k’lia, dan kita berpisah di ujung jalan kampus. Saya bergegas kembali ke kost dengan mata yang sedikit bengkak dan memerah karena sejak tadi menangis. Tangisan kebahagian dari seorang anak Desa yang hanya bermodalkan mimpi dan harapan besar tuk terus meraih cita-cita. *Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s