Pengalaman Pertama Bejalar di Pulau Jawa

Posted: 6 September , 2013 in Story

pageAsslmmu’alaikum,, selamat malam Temans.. Tadi tertidur jam 19:00 WIB, dan terbangun jam 22:00. Akhirnya sekarang nggak bisa tidur lagi. 😦

Oya, menunggu ngantuk. Saya ingin cerita sedikit pengalaman pertama masuk kuliah  disini (Baca: UNISSULA Semarang)

Setelah lulus mengikuti Test Potensial Akademic (TPA) melalui program beasiswa Cerdas SULTRA-Qu tahun 2012 yang lalu, dengan jurusan yang saya pilih sendiri M.PD.I. Karena besic waktu S1 juga Tarbiyah, jadi memang ingin mengambil jurusan yang sama ketika masuk S2. Dalam hati sebenarnya agak ragu, karena saya yakin akan ketemu lagi dengan bahasa Arab dan sudah tentu saya akan mempelajari kembali semua yang berkaitan dengan ayat-ayat dan hadis-hadis pendidikan sama seperti S1. Bukan karena saya membenci itu. Sekali lagi tidak!

Pertama kali memasuki kampus, saya lagi duduk -duduk dibawah pohon samping perpus, nunggu abi datang. Dibuat kaget, sangat kaget. Tiba-tiba datang anak-anak SMA yang lagi magang dikampus ingin mewawancarai saya dengan tema JILBAB. Mereka meminta mahasiswa yang lain tapi katanya mereka menolak. Akhirnya mereka lihat saya lagi duduk sendiri, dan meminta saya agar bisa meluangkan waktunya untuk diwawancarai. Akhirnya tidak ada pilihan lain. Kenapa tidak? akhirnya saya iya-kan. Memang dimanapun harus tetap bersiap-siaga. Kalau nggak salah waktu yang dikasih 10 menit, kalau nggak salah ingat.

Alhmdulillaah wawancara waktu itu berjalan lancar. Saya senang bisa berbagi ilmu dengan mereka. Terkadang saya berpikir, hidup saya ini selalu penuh dengan kejutan-kejutan. Tapi semua itu membuat saya banyak belajar.

itu adalah pengalaman pertama baru memasuki kampus saya sudah dibuat kaget. Kemudian pengalaman pertama mengikuti kuliah umum dan ta’aruf bersama teman-teman. Ternyata hampir 90% mereka alumni-alumni pesantren. Sudah saya duga. Dari awalnya mereka memang sudah menikmati pendidikan pesantren. Lingkungan mereka yang sangat kondusif.  Bahkan ada yang dari SD-pun sudah bersekolah di lembaga-lembaga yang berorientasi pada pendidikan Islam. Ada yang basic-nya sudah masuk Ibtidayah, Tsanawiyah, Aliyah dan mereka lanjut lagi masuk S1 dengan besic pendidikan islam juga. Ada yang dari ISID Gontor, UNSIQ, IAIN, UIN, pokoknya yang Hafidz/Hafidzoh, Qori/Qori’ah, Juara Kaligrafi, pintar debat, bahasa arab hebat, baca kitab gundul semuanya terkumpul dikelas saya. Komplit.

Sedangkan saya ini apa? apa yang saya tahu? kemampuan apa yang saya miliki? saya merasa dikelas, saya adalah mahasiswa yang paling bodoh sendiri. Jangankan membaca kitab gundul, kitab gondrong pun, (Maaf) maksud saya kitab yang ada harakat pun kadang masih salah. Saya iri dengan mereka. Saya iri mereka yang bisa mengecap dunia pesantren. Saya yang terlahir dari dilingkungan yang tidak mendukung, tidak religius, tidak seperti teman-teman saya orang jawa. Nanti setelah lulus SMA baru saya masuk sekolah islam, STAIN Manado. Itupun tidak semua mata kuliahnya Agama atau bahasa arab, tapi hanya beberapa semester saja. Karena saya tidak mengambil hukum islam melainkan Pendidikan. Kadang saya iri mereka yang pintar bahasa arab, tentunya semakin tahu dan paham bahasa arab maka akan semakin mudah memahami Din-ini memahami ajaran islam ini dengan baik. Tapi saya tidak pernah menyesal menjadi anak SUlawesi meski hanya saya sendiri Mahasiswi dari Manado. Teman-teman yang lain dari Makasar dan kendari, tapi mereka ada besic pesantrennya juga karena notabene penduduknya muslim. Namun sekali lagi saya tidak menyesal. Saya terus bersyukur atas apa yang sudah Allah SWT berikan sampai saat ini.

Saya sangat senang berteman dengan mereka, bisa berbagi ilmu.  Saya dari kecil mulai  SD sampai SMA hanya mengecap pendidikan yang berorientasi pada pendidikan umum. Saya ingat dulu, abah sebenarnya ingin sekali menyekolahkan saya di Pesantren tapi keinginan itu pupus setelah abah meninggal. Tapi saya berjanji saya akan memakai jilbab meski bukan anak pesantren. Dulu waktu masih kecil saya berpikir, bahwa yang pantas memakai jilbab itu hanyalah anak-anak pesantren. Namun setelah tumbuh semakin dewasa saya mulai paham bahwa berjilbab itu adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslimah.

Kembali ke topic awal. Pengalaman pertama saya belajar di Pulau Jawa. Saya senang bertemu dengan mereka. Ada yang dari Demak, gunung Pati, dan masih banyak lagi. Saya lupa nama kampung mereka. Meraka baik sekali, kalau kuliah ada saja yang mereka bawa tuk ngemil dikelas namanya Jenang, pokoknya macam-macam deh. Kita saling share ilmu. Bahkan saya meminta teman yang dari  gontor untuk memberikan Private bahasa Arab. Alhmdulillah permintaan itu diterima, akhirnya saya mengikuti less private bahasa arab. karena bagi saya semuanya adalah guru terbaik selagi itu memberi manfaat.

Ini adalah pengalaman pertama saya ke Semarang. Mereka orangnya ramah-ramah. Apalagi Ibu-ibu di lorong kost-san saya mereka ramah sekali, sering melemparkan senyum, dan saya orangnya memang cepat akrab dengan siapapun. saya suka cerita dan bercandan dengan meraka. Kalau ketemu dengan ibu-ibu dipasar dan bercerita, kadang mereka pake bahasa jawa yang kental. Mereka sudah bicara panjang lebar. saya hanya tersenyum dan menjawab “maaf bu’ saya nggak ngerti artinya” Akhirnya mereka ketawa. saya jadi rindu ibu saya di Manado kalau ngomong dengan mereka.

Kuliah Pertama adalah bahasa Arab. Nah,, apa saya bilang betulkan, saya akan ketemu lagi dengan bahasa Arab. Nama Dosennya Pak Muhit. Kita di suruh membaca Makalah yang nggak ada harakatnya, satu-persatu. Bayangkan satu-persatu. Dan beliau memanggil nama kita berdasarkan Absent. Sudah pasti kalau berdasarkan absent akan dimulai dari huruf A, dan nama saya Anita. Menghela nafas berat Ya Tuhaan ini gundul semua. Bayangkan kita kuliah dari Jam 08:00 -17:00 hanya membaca makalah ini dan mengartikannya. Jujur saya akui memang saya tidak ada besic sama sekali baca yang gundul kayak gini. bisik saya dalam hati. Dulu waktu S1 pernah pernah ada kakak tingkat yang intens mengajari kita kitab gundul karena dia alumni pesantren, akhirnya saya menyerah dengan sendirinya. Mungkin kalau saya mempelajari ini dari SD akan mudah masuk di otak, tapi nanti kuliah baru belajar, tentu agak sulit bagi saya.

Pelajaran ini bagi anak-anak almuni Gontor, UNSIQ dan besic mereka yang dulunya pesantren ini adalah pelajaran yang ditunggu-tunggu dan sangat mudah bagi mereka. Kembali saya menghela nafas berat, duduk tidak tenang, menunggu panggilan. Alhmdulillaah, absent kali ini di panggil dari bawah dari nama terakhir bukan dari depan. Selamat! saya masih bisa belajar sedikit.

Alhmdulillaah saya bisa melewati itu semua dengan lancar. Oke kali ini saya akui kalian hebat membaca kitab gundul, kalian hebat bahasa arab.

Mata kuliah selanjutnya, Metodologi, Action riset, Pengukuran, penilaian ini yang saya tunggu-tunggu. Menghitung menganalisis semuanya yang ada angka-angkanya saya senangi. Saya senang belajar statistik dari S1. Bahkan sekarang dikelas  teman-teman memanggil saya, anak-nya pak Dosen PPHP 😀 . Astghfirullah saya tidak tau maksud mereka apa. Ketika saya menyenangi mata-kuliah2 ini. Bukan berarti saya tidak menyenangi mata kuliah bahasa Arab, bahasa penghuni syurga. Bukan! cuman saja saya tidak mendapatkan bahasa arab, dan pelajaran kitab gundul lebih awal. Ketika sekarang baru saya pelajari tentu butuh waktu yang agak lama. Sekarang saya ditawari teman untuk belajar dipesantren, belajar bahasa arab dan kitab gundul, katanya mumpung masih di Jawa. Belum saya iya-kan 😦 .

Bahkan sampai sekarang saya tetap masih merasa paling bodoh di antara teman-teman yang lain. Namun saya tetap bersyukur atas apa yang telah Dia berikan sampai hari ini. 🙂

Iklan
Komentar
  1. Sultan berkata:

    Pengalaman yang menarik.
    Setiap tempat memang menawarkan pengalaman tersendiri.
    Dinanti pengalaman pertama kuliah di luar negerinya… hehe…

    Suka

  2. Anita Deckha berkata:

    Aamiin,, Aamiin,, iya k’ Optimis!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s