Wawontulap

Posted: 1 Oktober , 2013 in Story

862449_334884603298341_1938980407_nTempat dimana saya dilahirkan, tempat saya menghabiskan setengah masa kanak-kanak bersama teman-teman, tempat yang penuh mitos-mitos masa lalu, tempat mereka berbagi satu dengan yang lain, tempat mereka menghormati agama satu dengan yang lainnya, tempat yang penuh kekeluargaan, tempat untuk orang-orang bertahan hidup mencari sesuap nasi, wajah-wajah berparas keras tergambar di desa ini. Tempat saya bermanja kepada ibu dan abah(Alm.) Tempat yang menyimpan jejak-jejak  masa kecil saya dan kakak.

Adalah Desa Wawontulap yang terletak kurang lebih 30 km dari Jl. Raya Tanah wangko, salah satu kelurahan di kecamatan Tatapaan (Dulu:Kec. Tumpaan) Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Desa ini ditempati oleh sekitar 250 kepala keluarga. Agama yang dianut penduduk Desa wawontulap adalah Islam, Kristen Protestan, dan  Pantekosta. Desa ini berada tepat di Jl. Rab-rab.

Wawontulap Berasal dari dari kata “Wawon” adalah bahasa minahasa, yang berarti: di atas dan “Tulap” juga berasal dari bahasa minahasa, berarti: Lubang. Jadi, Wawontulap adalah  tempat di atas sebuah lubang. Aneh kand? Saya juga sendiri bingung. :DTapi Memang di pantai tulap ini sebelah kanan pantai ada lubang goa, jadi dari lubang goa inilah Filosofi nama desa saya di ambil. Karena di atas lubang itu banyak rumah-rumah penduduk.

Penduduk Desa Wawontulap mengenal budaya terbuka dan toleransi dalam kehidupan keseharian mereka. Alasan yang menjadi bukti dari budaya terbuka dan toleransi ini dapat diamati dalam kehidupan sosialitas penduduknya dengan komposisi masyarakat yang berasal dari latar belakang agama budaya dan suku yang berbeda-beda ini di ikat dalam ikatan simbolik yaitu Bo- Hu- Sa –Mi (BolaangMonongondow-Hulontalo/Gorontalo-Sangir-Minahasa). Ikatan simbolik ini, dipahami oleh setiap penduduk desa sebagai ikatan persaudaraan yang tidak memeperdulikan perbedaan bahasa, suku dan budaya bahkan agama.

Akses jalan menuju ke Jl. Raya Tanah Wangko masih bisa dilalui oleh kendaraan roda empat meski jalanannya berbatu. Jalan ini sudah pernah diperbaiki oleh Pemerintah setempat, tapi setelah beberapa bulan kemudian kembali seperti semula. Hanya saja untuk berkeliling desa kita harus berjalan kaki atau menaiki kendaraan roda dua. Terakhir kali saya ke sana sejak tahun 2011.

Kebanyakan dari penduduk desa wawontulap bermata pencaharian sebagai petani, nelayan dan wiraswasta. Bisa dibilang Kehidupan ekonomi penduduk desa wawontulap masih tergolong pada kategori menengah, karena tidak ada lapangan kerja yang mendukung. Ketika  mereka mempunyai lahan sawah atau Sero (Tempat untuk menangkap ikan dilaut) inilah yang bisa menyambung kehidupan ekonomi mereka. Waktu saya SD, air bersihpun susah. Tapi sekarang sudah lumayan bagus, meski penduduk lain tetap memilih menggunkan sumur. Tidak ada pegawai negeri, apalagi Polri. Sebenarnya ada PNS tapi hanya pendatang yang ditugaskan untuk mengajar di SD saya. Jadi mereka bukan penduduk asli.

Rata-rata remaja yang sudah lulus sekolah dasar memilih merantau ke kota-kota lain. Atau memilih putus sekolah dan membantu orangtuanya di kebun atau di laut. Mereka sama sekali tidak memperdulikan masa depan pendidikan mereka, yang terpikirkan saat itu adalah bagaimana mereka bisa memperoleh uang untuk membantu orangtua. Alhasil hanya orangtua dan anak-anak saja yang tinggal di Desa saya ini. Kalau anak perempuan memilih langsung nikah dan mengurus anak atau ikut merantau mencari pekerja diluar kota.

Tapi ada juga sebagian orangtua yang sadar akan pentingnya pendidikan dan memaksa anak-anak mereka untuk tetap melanjutkan sekolah. Meskipun akhirnya sekolah itu putus ditengah jalan. Bukan karena orangtua ini tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka. Tapi anak-anakmerekalah yang enggan melanjutkan sekolah. Tidak ada motivasi dari dalam diri ana-anak tersebut. Mungkin mereka memandang bahwa pendidikan itu tidak terlalu penting.

Kalau anak-anak ini malas melanjutkan sekolah terjadilah adu mulut dengan orangtua mereka. akhirnya nama saya terbawa-bawa, disebut-sebut biar anak-anak mereka termotivasi melanjutkan sekolah. (Detailnya ada dalam buku)

Dulu sekitar tahun 2001 kalau saya tidak salah ingat. Desa saya pernah masuk TV dan Koran akibat terjadinya pengeboman ikan di laut yang menghancurkan terumbu-terumbu karang dan mengakibtkan ekosistem laut terancam. Mereka menggunakan bom untuk menangkap ikan kemudian dijual ke pasar. Dan terjadi juga penebangan hutan bakau secara liar. Waktu itu saya sekeluarga sudah tidak berada lagi di Wawontulap.

Dalam bidang sosial, seiring dengan pesatnya perkembangan pendidikan Kabar terakhir yang saya dengar kondisi pendidikan desa saya sudah cukup baik. Karena pemerintah Kab. Minahas Selatan telah membangun gedung SMP. Dulu waktu saya masih SD. SD Wawontulap ini adalah SD terfavorit di desa saya karena satu-satunya SD yang pernah ada di Wawontulap. :p

Kegiatan-kegaiatan sosial yang dikelolah masyarakat lewat berbagi organisasi kaum tani dan nelayan untuk membantu kehidupan ekonomi mereka ternyata cukup membantu.  Tahun 2013 ini saya tidak tahu jelas apa kegiatan itu masih berjalan atau tidak.

Rasanya saya ingin kembali ke Desa saya, dan  mengabdikan diri disini. Ditempat  kelahiran saya ini. Menjadi guru yang benar-benar memotivasi mereka,  mengajari mereka banyak hal, membuat mereka bermimpi tuk terus melanjutkan sekolah. Mengatakan bahwa saya adalah anak dari desa ini.  Desa Wawontulap.

Solusi konkrit yang sangat saya harapkan khusunya dalam bidang pendidikan adalah bagaimana Pemerintah Kab. Minahasa Selatan lebih memperhatikan Proses pendidikan yang ada di Wawontulap. Kabar terakhir yang saya dengar ternyata masih kurangnya tenaga pengajar. Jadi, dengan adanya penambahan pengajar di SD ataupun SMP akan sangat membantu. Karena bagaimanapun gurulah yang memegang peranan terpenting dalam proses pendidikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s