Mengembalikan Fitrah asal TOEFL

Posted: 3 Oktober , 2013 in Artikel-artikel

Temans, tulisan ini sangat bermanfaat. Tolong dibaca ya,,

Oleh: Pak’ Ahmad Lizam.

Tidak hanya manusia saja yang perlu untuk dikembalikan menjadi fitri, tapi TOEFL juga musti dikembalikan fungsi fitrahnya atau asalnya. Semakin tambah hari penggunaan toefl semakin melenceng dari jalur asalnya (fitrah).

Dari pengalaman pribadi, saya bisa mengetahui penyimpangan ini setelah membaca sebuah info lowongan di facebook mengenai perekrutan karyawan baru Bank Indonesia. Saya tercengang ketika melihat salah satu persyaratannya yang berbunyi pelamar musti lancar berbahasa inggris dengan melampirkan sertifikat TOEFL ITP yang biasa dipakai untuk melamar beasiswa ke luar negeri dengan skor minimal 500. Sungguh sangat tidak wajar hanya untuk membuktikan kelancaran skill berbahasa inggris dengan melampirkan sertifikat TOEFL yang notabenya itu difungsikan bukan untuk orientasi dunia kerja melainkan dunia pendidikan.

Inisiasi melaksanakan kebijakan kontroversial ini diawali oleh kementerian perdagangan sekitar di awal tahun 2012 yang menyaratkan karyawan-karyawannya memiliki skor TOEFL minimal 600. Jika seseorang memperhatikan tujuan dari Tes TOEFL ini, dia mungkin merasa sulit untuk memahami alasan dibalik rencana Kementerian Perdagangan untuk memaksa para karyawannya untuk mengikuti tes dan mendapatkan skor minimum 600.

Kita perlu memahami dengan cermat bahwa pada awalnya, memiliki skor TOEFL merupakan syarat mutlak bagi calon mahasiswa yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya (non-English native) yang ingin melanjutkan studi mereka di universitas-universitas Amerika Serikat.

Oleh karena itu, TOEFL menjadi sebuah alat atau instrumen yang digunakan untuk mengukur calon mahasiswa internasional  seberapa mahir kemampuan bahasa Inggris mereka, terutama kemampuan dalam keterampilan kebahasaan secara tradisional yakni mendengarkan, membaca, berbicara dan menulis.

Dengan sedemikian rupa, tes ini awalnya dirancang untuk memenuhi persyaratan akademik yang ditetapkan oleh universitas di Negeri Paman Sam ini. Hal ini tertuang dalam isi tes, yang berorientasi pada semua aspek yang bersifat akademis. Dengan kata lain, tujuan dari tes ini adalah untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh kesiapan akademik mahasiswa asing untuk berpartisipasi dalam suasana akademik di Amerika yang menjadikan bahasa Inggris adalah satu-satunya bahasa sebagai media berinteraksi.

Dalam praktik kehidupan sekitar kita, TOEFL telah lama disalahgunakan yang relative cukup fatal untuk berbagai tujuan seperti untuk menyeleksi calon mahasiswa yang masuk sebuah universitas, untuk penempatan level siswa dalam kursus bahasa Inggris, dan baru-baru ini untuk persyaratan bagi para pelamar kerja.

Trend yang menampakkan daya tarik untuk menjadikan TOEFL sebagai standar tes yang digunakan di seluruh dunia telah membuat kita semua pasrah untuk mengikutinya. Sungguh sangat tidak adil jika dipukul ratakan seperti ini antara sebagai syarat mendaftar kuliah di Amerika dengan hidup di Indonesia yang mayoritas penduduknya menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa utamanya.

Sebelum kita mempertanyakan alasan mensyaratkan untuk mendapatkan skor minimal 500 atau 600 sekalipun, pertanyaan mendasar yang kita munculkan adalah apakah TOEFL, yang digunakan tujuan utamanya untuk akademik, bisa menjadi ukuran valid untuk mewakili kemampuan bahasa Inggris secara komprehensif dari seseorang?

Jika dilihat sepintas isi TOEFL dan perenungan atas relevansinya dengan kebutuhan seorang staf atau karyawan saat ini, menyebabkan orang berpendapat bahwa tes ini mungkin lebih tidak sinkron dengan tingkat kemampuan berbahasa Inggris. Dengan demikian, sangat tidak realistis untuk menetapkan standar minimum mengharuskan mereka untuk mendapatkan skor 500 atau 600.

Kebanyakan, namun tidak sebagian besar, orang awam sering gagal memahami bahwa ada bagian tertentu yang diujikan dalam TOEFL adalah semacam ukuran secara tidak langsung dari kemampuan bahasa yang mendasari seseorang dalam standar bahasa Inggris tertulis. Misalnya, bagian mencari atau mengidentifikasi kesalahan yang disebutkan, dimana peserta tes harus mengidentifikasi kesalahan tata bahasa kalimat, secara tidak langsung dirancang untuk mengukur kompetensi menulis.

Asumsi yang mendasari ukuran ini secara tidak langsung bahwa semakin seseorang dapat mengidentifikasi unsur-unsur bahasa yang salah dalam kalimat yang diberikan, semakin besar kemungkinan dia akan mampu menulis dalam standar bahasa Inggris.

Akan tetapi, tidak ada bukti yang menguatkan asumsi ini ada. Telah diketahui bahwa mereka yang mendapatkan skor tertinggi di bagian identifikasi kesalahan masih belum mampu menulis esai yang baik dalam standar bahasa Inggris. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada suatu hubungan antara kemampuan untuk mengidentifikasi kesalahan tata bahasa dan kemampuan untuk menulis esai.

Apakah skor TOEFL benar-benar mencerminkan kemampuan bahasa Inggris seseorang? Jelas, kemahiran seseorang dalam bahasa Inggris terlalu rumit untuk diukur dengan TOEFL saja. Memang, kita tidak pernah bisa yakin bahwa kesimpulan kita atas kemampuan berbahasa inggris dari seseorang dalam waktu singkat secara lengkap dan tepat.

Demikian pula, kita tidak dapat meyakinkan diri bahwa skor yang diperoleh dari instrumen tes tunggal ini, tidak peduli seberapa tinggi standarnya, secanggih dan sevalid tes tersebut, benar-benar mewakili kemampuan bahasa inggris para peserta tes. Tambah lagi, instrument yang digunakan tidak tepat sasaran.

Kita seharusnya tidak mengabaikan kemungkinan bahwa tes standar seperti TOEFL memiliki potensi untuk menjadi bias dan bahkan tidak sesuai dengan kemampuan kita.

Menanggapi peringatan diatas, pimpinan institusi akan sangat merugikan para stafnya jika sebagian besar keputusan atau ketentuan mengenai kemampuan berbahasa Inggris stafnya yang dibuat hanya dengan menggunakan skor TOEFL skor sebagai referensi.

Demi meningkatkan kinerja para karyawan atau pegawai di era daya saing tinggi, kemampuan bahasa Inggris sangat dibutuhkan. Tidak ada yang meragukan itu.

Bagaimanapun upaya tersebut tidak harus direalisasikan dengan ambisi, namun tidak realistis juga mengharuskan para karyawan memiliki skor TOEFL tinggi hanya sebatas bukti untuk bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Ada banyak cara yang tepat dan tidak membosankan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris seseorang misalnya membebentuk klub bahasa Inggris di tempat kerja seseorang.

Klub ini, yang dapat menjadi tempat potensial bebas dari tekanan psikologis pengambilan ujian dan tekanan lain dari kegiatan akademik, harus menjadi tempat dimana para anggotanya dapat melakukan kegiatan belajar bersama untuk mempelajari bahasa asing (misalnya bahasa Inggris) misalnya bercakap-cakap di dalamnya dengan rekan-rekan mengenai topik yang menarik dilingkungan sekitar atau dari apa yang mereka baca.

Ini bukan usulan yang tidak masuk akal, karena orang dapat memperoleh bahasa kedua (bahasa Inggris) dengan mudah dan dengan hampir tidak ada usaha asalkan kebutuhan dasarnya dalam belajar adalah kesenangan, menguasai bahasa karena biasa.

Namun, jika tetep ngotot penggunaan sebuah instrument tes untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris seseorang, penggunaan TOEIC (Test of English for International Communication) bisa menjadi pilihan yang tepat. Tes TOEIC dapat mengukur kemampuan berbahasa Inggris untuk individu yang bekerja di lingkungan internasional dalam kesehariannya. Nilai-nilainya menunjukkan seberapa baik seseorang dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan individu lainnya dalam berbisnis, perdagangan dan industri. Tes ini tidak memerlukan pengetahuan khusus atau istilah yang tidak umum seperti yang terdapat dalam tes TOEFL.

Oleh karena itu, materi tes TOEIC lebih mudah dibandingkan tes TOEFL karena hanya merupakan tes pilihan ganda selama 2 (dua) jam yang dibagi dalam sesi mendengarkan dan sesi membaca.

Sehingga, tes TOEIC dipandang cocok bagi karyawan atau staf yang menggunakan bahasa Inggris di lingkungannya seperti bisnis, hotel, rumah sakit, restoran, pertemuan internasional, konferensi dan even olahraga. Demikian pula staf manajemen, sales dan karyawan teknik dalam bisnis internasional, perdagangan dan industri yang membutuhkan Bahasa Inggris dalam pekerjaan mereka.

*Penulis adalah Seorang Instruktur di Center for International Language Development (CILAD) Universitas Islam Sultan Agung dan Mahasiswa Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa angkatan V.

Iklan
Komentar
  1. Fidho berkata:

    ini Anita deka yahhh??
    Kalau untuk pekerja dengan standar 500 memang terlalu tinggi, bukan hanya pekerja juga tapi tuk mahasiswa yg basicnya bukan guru b.inggris standar ini terlalu tinggi. ide bagus jika ada yg membuka club2 english.

    Suka

  2. Anita Deckha berkata:

    Iya ini mom nita hehe, tapi yang tulis ini bukan saya, melainkan teman saya. yup saya juga setuju Fid. eh thanks dah mampir ya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s