“Belajar Dari Sinonggi”

Posted: 18 Oktober , 2013 in Story

sinonggiMumpung malam ini hujan baru saja reda. Saat yang tepat tuk bercerita tentang makanan khas yang satu ini. Sinonggi.  Karena umumnya Masyarakat SULTRA menyantap makanan khas ini, saat cuaca lagi hujan atau dingin-dingin. hihi, Entahlah kenapa. Mungkin karena disajikan panas-panas, dan bikin badan anget kali y? hihi. Tapi untuk  saya pribadi, mau hujan atau nggak, kalau ada yang kasih sinonggi, saya sikat wkwkwk.

Sulawesi Tenggara adalah persinggahan kedua saya. Di Sulawesi tenggara ini saya kembali bertemu dengan wajah-wajah baru, dan mengenal berbagai macam suku dan budaya. Tidak hanya di SULUT saja. Ternyata Sulawesi tenggara pun demikian. Berbagai macam suku dan budaya bisa kita jumpai di Bumi Anoa ini .

Nah malam ini saya hanya akan cerita tentang pengalaman pertama mencicipi Makan Khas Suku Tolaki, Karena menurut saya  makan ini Unik.

Itulah Sinonggi. Sinonggi adalah makanan pokok Suku Tolaki yang terbuat dari pati sari Sagu. Di Sulawesi Selatan, masakan yang serupa dikenal dengan nama Kapurung dan di Kepulauan Maluku disebut Papeda. Meski masakan-masakan tersebut memiliki kemiripan bahan, cara penyajiannya berbeda. Untuk sinonggi, tepung sagu yang sudah dimasak tidak dicampurkan dengan sayur, kuah ikan, sambal (“dabu-dabu“) kata orang Manado. Atau bumbu lainnya, namun tergantung selera masing-masing. Bagi suku Tolaki, sinonggi dahulu merupakan makanan pokok, namun saat ini telah menjadi makanan sekunder pengganti Beras pada masa paceklik. (Wikipedia)

Filosofi Nama sinonggi

sinDiyakini budayawan lokal berasal dari kata posonggi. Posonggi atau o songgi (bahasa Tolaki) merupakan alat mirip sumpit terbuat dari bambu yang dihaluskan dengan ukuran panjang kurang dari sepuluh sentimeter. Alat inilah yang digunakan untuk mengambil sinonggi dari tempat penyajian. Dengan cara digulung, sinonggi diletakkan ke piring yang telah diisi kuah sayur dan ikan serta bumbu lainnya. Gulungan sinonggi di piring kemudian dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam mulut menggunakan alat serupa yang berukuran lebih kecil atau dengan jari. Sinonggi biasanya tidak dikunyah, tetapi ditelan langsung (Wikipedia)

Temans,, Setelah menikah otomatis saya harus mengikuti suami, dan meninggalkan kampung halaman saya SULUT. Disinilah saya berjumpa dengan makan khas ini. Makanan ini memang mirip dengan Padeda makanan khas Maluku. Tapi saya sendiri belum pernah mencobanya. hanya mendengar namanya.

Ketika mencicipi makanan ini pertama kalinya, yang dibuat ibu mertua. Trus kata  abi nggak boleh di kunyah, tapi langsung ditelan. Sedikit kaget. karena cara makannya memang seperti itu. Dan lebih nikmat lagi jika langsung menggunakan tangan, bukan sendok atau garfu. Hmm,, saya melihat mereka makan dengan lahap. Saya memaksakan tuk mencobanya, Tapi nggak bisa 😦 karena leher saya tidak bisa menerima, agak geli-geli giman gitu. Licin-licin, pokoknya geli. Akhirnya saya menyudahi tidak melanjutkan, kalau saya paksakan bisa berakibat fatal bagi diri saya sendiri. Dan Sempat membencinya (maaf) 😦 Pokoknya waktu itu bertekad untuk tidak memakannya lagi. Tidak akan.

But, by the time goes by. Saya mulai mempelajari seni atau cara memakan makanan khas ini. Abi terus mengajari saya. Tiap membuat sinonggi saya selalu di ajak tuk makan bersama. Meski beberapa kali sempat menolak. Akhirnya memasuki bulan ke dua saya paksakan tuk bisa mencobanya kembali.

Abi menyuruh tuk kasih perasan air Jeruk, cabe biar agak kecut dan pedas. Akhirnya lama-kelamaan saya mulai ketagihan. Saya mulai menyukai Sinonggi. Lidah saya mulai akrab dengannya dan mengenalnya lebih dekat. Ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Prinsip yang saya tanamakan pertama kali ketika melihat sinonggi yaitu membencinya dan tidak akan mencicipinya lagi. Perlahan mulai terkikis dan akhirnya Tumbang. Sinonggi membuat saya bertekuk lutut *lebay. Ternyata memang enak, hanya aja sayalah yang belum tau seni  mencicipi makanan ini.

Dulu sinonggi adalah makan yang saya benci. Tapi sekarang adalah yang saya sukai. Apalagi sekarang berada di Semarang mencari sari pati sagu khas Tolaki itu memang tidak ada. Untunglah tepung sagu masih ada disini. Jadi bisa mengobati rasa rindu saya tuk mencicipi kembali makan khas tolaki ini. Meski rasanya tak senikmat sagu tolaki. Tapi tak apelah.. hihi

Maaf jika selama ini telah membenci sinonggi. Ternyata Tidak semua yang kita lihat buruk itu lantas buruk. Dan yang kita lihat baik lantas baik. Dan janganlah  terlalu membenci sesuatu itu berlebihan, karena bisa jadi yang kita benci berubah menjadi yang kita Sukai dan cintai. Orang yang sering berdebat pun kadang bisa menjadi teman. Jadi mulai sekarang harus pikir-pikir lagi ketika harus membenci apapun.

Sampai detik ini saya merindukan sinonggi. Pengalaman-pengalaman itu membuat saya harus banyak “belajar dari sinonggi” 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s