Ajari Anak Terima Kekalahan

Posted: 26 November , 2013 in Artikel-artikel

Tidak selamanya anak akan selalu merasa senang dan menang dalam segala pertandingan. Ketika masuk usia sekolah, perlu mulai mengajarkan mereka menerima kekalahan dengan lapang dada. Dengan belajar untuk kecewa, anak akan semakin terbentuk kepribadiannya. : Irisha William

Karakter dan Urutan Lahir Berpengaruh

Mungkin sempat terlintas di pikiranmu, kok ada anak yang bisa dengan mudah menerima kekalahan saat bermain dengan temannya, sementara

yang lain bisa sampai mengamuk, bahkan menangis? Menurut edukator orangtua dari Toronto, Beverley Cathcart-Ross, ini ada hubungannya dengan temperamen anak. “Anak yang tipenya lebih intens biasanya lebih ngotot sekaligus lebih gampang frustrasi kalau kalah. Setelah itu, mereka bakal lebih lama larut dalam kekecewaan,” jelas Cathcart-Ross.

Selain itu, urutan lahir juga pengaruh, lho. Anak pertama biasanya lebih susah menerima kekalahan, karena biasanya orangtuanya telah menciptakan atmosfir anti-kalah di rumah. Harapan orangtua yang tinggi membuat anak jadi takut mengecewakan orangtua. Akibatnya, sebisa mungkin anak akan menghindari kemungkinan kalah. Karena kalau sampai kalah, hati mereka akan ikut hancur berkeping-keping.

Belajar Kalah Untuk Menang

 Menerima kekalahan dengan lapang dada itu adalah kemampuan hidup yang anak-terima-kekalahan-2harus dipelajari setiap anak. Menurut Cathcart-Ross, dengan belajar untuk kalah, anak akan mampu membangun relasi yang baik dengan oranglain dan juga lebih menghargai diri sendiri. Untuk itu, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk anak, agar mereka bisa menerima kekalahan:
  • Pahami rasa kecewa anak. Jangan berkata padanya, “Sudah, jangan seperti anak kecil, kalah saja nangis!”. Tapi, bilang padanya bahwa kamu paham bahwa sulit baginya untuk menerima kekalahan. Tekankan juga pada anak, bahwa orangtua akan selalu menyayangi dan menghargai mereka, meski mereka kalah atau menang dalam bertanding, saran Cathcart-Ross.
  • Tekankan pada usaha anak. Kalau orangtua selalu berfokus pada hasil akhir, anak juga akan demikian. Karenanya, kamu sebagai orangtua juga perlu introspeksi diri dan lebih berfokus pada proses yang dilalui anak ketimbang menang atau kalahnya. Misalnya, setelah anak selesai pertandingan bola, bicarakanlah seputar bagaimana dia masih belum bisa bekerjasama dengan teman satu timnya. Lalu, beri saran supaya dia bisa memperbaiki permainannya.
  • Dorong anak untuk mengambil risiko. Banyak anak tidak mau mencoba hal-hal baru karena takut salah dan kalah. Sebaiknya, orangtua selalu menekankan bahwa mereka lebih suka anaknya berusaha keras dan gagal, daripada tidak mencoba sama sekali, kata Cathcart-Ross. Dengan begitu, anak akan belajar dari kegagalan, sama seperti mereka belajar dari kesuksesannya. “Selain itu, ajak anak selalu mengevaluasi diri dan tidak selalu bergantung pada evaluasi dari orang lain,” tambah Cathcart-Ross. Dengan dukungan orangtua dan banyak latihan, anak akan bisa menerima kekalahan dengan lapang dada.

 Sumber: http://family.fimela.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s