Arsip untuk Januari, 2014

Jleb

a madeandi's life

Tentu saja tulisan ini bukan untuk Anda, pembaca yang budiman. Tulisan ini adalah untuk orang yang tidak Anda kenal. Orang yang memiliki keinginan untuk mendapatkan beasiswa luar negeri tetapi tidak sadar kalau dirinya menderita kemalasan stadium tinggi. Saya menyebutnya pejuang malas dengan ciri-ciri seperti ini:

  1. Menanyakan hal-hal yang sebenarnya ada di website atau buku panduan beasiswa. Mereka malas membaca.
  2. Selalu mengatakan ‘tes TOEFL/IELTS mahal banget’ tapi malas menabung dan tetap rajin nongkrong di cafe 😉
  3. Sibuk berpikir caranya lolos beasiswa meskipun tidak memenuhi syarat. Mereka tidak fokus berusaha agar bisa memenuhi syarat. Anehnya, dengan begitu mereka merasa kreatif.
  4. Mudah bertanya “syarat beasiswanya apa saja?” Seakan itu satu rahasia yang tidak ada di website atau buku panduan (terutama jika ditanyakan lewat email ketika penanya memiliki akses internet yang memadai).
  5. Bertanya “jurusan yg cocok buat saya apa ya?” seakan orang lain lebih paham tentang dirinya. Untuk menggali bakat dan minat sendiri saja…

Lihat pos aslinya 214 kata lagi

“Lebih dari 5 cm”

Posted: 20 Januari , 2014 in Curhat

Ternyta ini bukanlah perkara mudah. Setiap pilihan punya konseukensi yg harus dipertanggungjawabkan. Aku, Kamu atau siapapun entahlah.. ya, aku memilih jalan ini. Jalan melanjutkan study. Mengejar mimpi2Qu. Mimpi keduaQu yang hampir mendekati puncak pencapaian.

Berharap apa yg ku dapat di persinggahan ketigaQu dapat bermanfaat bagi banyak orang. Khususnya tuk anakQu sendiri. mengajari dia byak hal, tertawa bersama, bermain, memahami dunianya berusaha menjadi seorang ibu yg baik untuk Syifa. Qu tahu ini adalah saat yang tepat mengajari dia akan banyak hal. Tak terasa putri kecilQu telah berumur 2 tahun setelah Qu kembali dari pulau seberang. Melihat dia mulai bersinar. Tapi bukan aku yg mengajari dia sampai sepintar itu. sediih. jelas hati bagai teriris sembilu melihat dia lebih dekat nenek dan kakeknya dari pada aku ibunya sendiri.

Semenjak dalam perjLanan menuju rumah rasa tak sabar ingin segera memeluk putri kecilQu. Terlintas beribu tanya dalam pikiranQu. Apakah dia akan mengenalQu? apakah dia akan suka padaQu?, apakah dia mau bermain dengNQu? apakh dia mau tidur denganQu? apakah dia akan memanggilQu ummi? dan masih byak lagi pertanyaan yg sering terlintas dlam pikiranQu seolah2 membuatQu semakin takut tuk mengetahui jawabannya.

Libur semstr 3 yang agak lama membuatQu memilih tuk pulang ke kota persinggahan keduaQu. Disana Syifa dilahirkan dan dibesarkan. setelah diskusi dgn abi akhirnya abi mengizinkanQu tuk pulang dan melepas Rindu dgn putri kecilQu itu.

Rindu yang tiap hari mulai membuncah, aqu meninggalkannya sejak 8 bulan dan sekarang tepat berumur 2 tahun. Semua orang mengatakan bahwa AQU bukan ibu yg baik. Bgtu teganya aku meninggalkan anakQu demi mengejar mimpi. Setiap kali mendengar kata2 itu aku hanya melemparkan senyum dan berusaha sabar dan ikhlas. Kenapa? ya.. krna aqu sudah punya jawaban sendiri.

Pukul 12:45 kendraan yg aku tumpangi menuju rumah, terparkir tepat di depan rumah ibu mertuaQu. Mataqu liar mencari sosok bocah kecil yang sedang bermain di teras rumah. Yang mana syifa… yang mana? hatiQu mulai bertanya2 tak sabar. Ada beberapa anak2 yg main diteras rumah. mereka adalah teman2 syifa. MataQu berganti menatap bocah2 kecil itu tapi, tak ada satupun yang mirip dengan foto yang seringQu liad lewat Fb yg dikirim Omnya… syifanya yang mana? hatiQu terus bertanya semakin penasaran.

Bapak mertua berlajan perlahan mendekTiQu yang baru pulang dari rumah tetangga. bapak ingin membantu mengangaktkan koperQu dari dlm mobil.. bpak berjalan sambil menggendongi bocah perempuan kecil yang imut, matanya yang sipit dan rambut lurus sedagu. Aku langsung mengenali anak itu.. ya.. Ya Allaaah Dialah Syifa. Yang dulu aku tinggalkan masih merangkak sekarang bisa berlari dengN kencang.

Air mata tak hentinya berderai.. bapak mendekatiQu Dan membiarka aku menggendong anakQu.. tangisan semakin kencang. Aqu terus memeluk erat putri kecilqu, dan menciumnya.. ” Syifaaa ini ummi…” Aqu coba menjelaskan.. ” ummi rindu skali sama Syifa” aku terus memeluk dan menciumnya. Syifa hanya terdiam dan matanya berkaca-kaca melihatQu terus menangis dan memeluknya. Ummi.. mencintaimu maafkand ummi yg telah tega meninggalkanmu. sambil menyeka air mata dgn jilbab. Air mata kebahagian. inilah kerinduan yang terpendam selama setahuan. Kini jarak Qita lebih dari 5 cm.