Sekilas Pendidikan di Finlandia

Posted: 10 Mei , 2014 in Artikel-artikel

Tak ada salahnya mengintip sejenak model pendidikan di Finlandia. Sekedar share dari buku yang saya baca dari Pak Munif Chatif (Gurunya manusia) merupakan salah satu referensiyang tepat untuk para pendidik, bagaimana kita bisa menjadi Gurunya Manusia.

Di Finlandia, anggaran pendidikan  mendapat prioritas utama, meski bukan yang tertinggi di antara negara-negara Eropa lainnya. Pada 2003, anggaran pendidikan finlandia mencapai 5,9 miliar euro. Leo Pahkin, konselor pendidikan dari badan pendidikan nasional Finlandia, terus memacu mutu pendidikan di Finlandia yang dia pandang sebagai aset kemajuan bangsa ” Kami menanam investasi yang besar di bidang pendidikan dan pelatihan agar bisa mencetak tenaga ahli dan terampil yang kelak  menghasilkan inovasi,” Ujarnya

Kegiatan sekolah di Finlandia rata-rata hnya 30 jam per minggu, berarti hanya 6 jam  per hari. Pelajar akan masuk sekolah pukul 08.00 dan pulang pukul 13.00. Artinya, di sana berlaku sekolah non -asrama, bukanlah full day school.

Ternyata, jumlah waktu untuk bertemu keluarga di rumah menjadi prioritas yang paling penting. Di Finlandia, interaksi keluarga dianggap sebagai proses belajar yang tidak akan dijumpai di sekolah. Bayangkan!

Tidak mudah menjadi guru di Finlandia. Untuk dapat kuliah di jurusan pendidikan saja,  sesorang harus bersaing sangat ketat. Fakultas pendidikan dikatakan sebagai fakultas paling bergengsi dibandingkan dengan fakultas lain.Rat-rata dari 7 orang peminat, hanya 1 orang akan diterima di fakultas pendidikan.Tak heran fakultas di Finlandia rata-rata mencapai $2.311 per bulan. Negara dan rakyat Finlandiamenempatkan Guru sebagai profersi terhormat dan mereka yang menyandang profesi itu pun merasa mendapat sebuah prestise dan kebanggaan tersendiri. (sampai di sini, sayaingat sebuah guyonan klasik di negara kita, “Jangan sari menantu seorang guru untuk anak perempuan  kita, biasanya hidupnya akan susah! gajinya kecil dan perlu waktu sangat lama untuk sukses, bahkan profesi guru itu dianggap tidak punya jenjang karir di negera kita,” Pasti guyonan seperti itu tidak berlaku di Finlandia)

Guru-guru di Finlandia dibebaskan menyusun kurikulum dan silabus sesuai dengan visi dan misi sekolah. Dengan kreatif merancang buku teks yang aplikatif. Hampir semua guru menjadi penulis, minimal penulis buku pelajaran yang mereka gunakan dikelas. mreka juga menggunakan strategi belajar mengajar yang beragam  dengan memperhatikan multiple intelligences semua siswa. Guru juga menentukan model evaluasi dan penilaian setiap aktivitas belajar mengajar. Dan akhirnya gurulah yang menjadi penilaian terbaik para siswanya. Dampak dari otonomi guru tersebut menjadikan guru-guru di Finlandia, “Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, itu berarti ada yang tidak beres  dengan pengajaran saya.”

Kewibaan guru demikian tinggi di mata para siswanya. Mereka sangat menghindari memberi kritik terhadap pekerjaan siswa, tetapi mereka mengajak para siswa untuk membandingkan dengan nilai sebelumnya yang pernah diraih (Konsep ipsative). Para guru menghindari memvonis siswa dengan mengatakan “kamu salah” karena mereka menganggap sebagai hal biasa jika siswa melakukan kesalahan  termasuk dalam mengajarkan soal-soal.

Proses belajar mengajar berjalan dua arah. Suasanasekolah boleh dibilang lebih cair, fleksibel, menyenangkan dan efektif. Siswadi Finlandia juga diarahkan mampu mengevaluasi secara mandiri hasil belajar masing-masing. Hal ini diterapkan sejak dini/pra-TK. Mereka didorong bekerja sama secara individu, tak peduli apapun hasilnya. “ini akan membantu siswa untuk belajar bertanggung jawab atas pekerjaan mereka sendiri,” kata Sundstrom, seorang kepala sekolah dasar di Poikkilaakso, Finlandia.

Sampsa Vourio, seorang guru di Torpparinmaki Comprehensive school Finlandia, menjelaskan bahwa sistem pendidikan di negaranya dijalankan sangat demokratis. Penekanan belajar fokus pada Proses, bukan pada hasil belajar. Remedial tidak dianggap sebagai kegagalan, tapi untuk perbaikan, sedangkan PR dan ujian tak harus dikerjakan dengan sempurna yang penting murid menunjukan adanya usaha. Ujian justru dipandang, sebagai penghancur mental siswa. Tidak ada sistem peingkat ( ranking) Sehingga siswa merasa percaya diri dan nyaman terhadap dirinya. Sistem peringkat dipandang hanya membuat guru terfokus pada murid-murid terbaik saja, bukan kepada seluruh murid.

Kesimpulannya, Finlandia telah sukses menggabungkan kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi, dan komitmen dengan keberhasilan melalui tanggung  jawab pribadi. (Sumber:Buku Gurunya Manusia. Munif Chatib)

Setelah membaca buku ini, saya sebagai pendidik merasa benar-benar tertampar. Ketika membandingkan dengan sistem pendidikan di negara yang kita cintai saat ini, begitu miris. Bisa dibilang pendidikan kita saat ini masih sangat jauh dari kata “bermakna.” Tentunya ini menjadi PR besar bagi saya dan umunya seluruh  pendidik di indonesia, bahwa sistem pendidikan kita harusnya lebih menekaknkan pada Prosess oriented bukan result oriented. Setiap guru yang telah memperoleh tunjangan-tungannya, sertifikasi harunya lebih meningkatkan kompetensinya. Terus belajar, menggali potensi dan melaksankan pelatihan-pelatihan demi meningkatkan mutu pendidikan.

Jika para guru dan pemerintah di indonesia  mempunyai korelasi yang baik dan mempunyai visi dan misi yang sama, sam-sama berkeinginan keras meningkatakan mutu pendidikan indonesia, niscaya kita bisa melahirkan manusia-manusia cerdas, tidak hanya cerdas otak, tapi juga cerdas cerdas emosional dan spritual *PR saya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s