Little Netherland Part 2

Posted: 28 Juni , 2014 in Story

10370994_10203916785461358_3377739403516594472_nHampir memasuki tahun ketiga aku masih berada di kota ini. Kota yg dijuluki kota ATLAS atau Little Netherland julukan lain kota ini. Kota yang menjadi Kota persinggahan ketigaQu. Kota ATLAS memilki dua wilayah, yaitu kota dataran Tinggi dan dataran Rendah (baca:Kota atas/Kota bawah)

Kujuluki kota dataran rendah ini dengan sebutan “kota tergenang” (#istilahQuSendiri) karena sudah jelas berada di dataran rendah. Tergenang akibat Banjir rob yg sudah menjadi langganan  kota ini.

Aku menyukai Hujan, Sungai, laut dan semua yg mengingtkanku pada memory masa kecil saat bersama ayah, ibu dan kakak.

Ku ingin menikmati hujan dengan aromanya yang harum, aku ingin melihat sungai dengan airnya yg bening mengalir indah. Ku ingin melihat laut dengan ombaknya yang menawan yang semua itu membuatku takjub.

Tapi,,, ternyata tidak Kutemukan disini. Tidak!

Hujan yg kurindukan kadang menjadi ancaman tuk penduduk di kota ini yg menyisahkan bau lumpur yg menyengat. Sungai yg indah berubah menjadi tumpukan sampah yg mengapung & memberi aroma bau busuk. Laut yg sering Kurindukan membawa banjir rob tuk mereka begitupun aku.

Entah sampai kapan penduduk yg tinggal di kota tergenang ini merasakan tempat yg lebih layak.
Tidur ditemani air, dan selalu dihantui banjir rob.

Hanya si kaya yg bisa membangun pondasi yg tinggi dan kokoh di kota ini agar bisa aman dan hidup nyaman. Lalu bagaimna dgn si miskin? Yg kadang makanpun tak cukup karena menafkahi 4 org anaknya.

“Kenapa ibu tidak pindah saja dari sini? Saat Qutemui salah seorang ibu langsung di rumahnya.” Tinggal dimna mba? Tidak ada pilihan lain. Hanya ini tmpat tinggl kami satu2nya. Sudah lama kami hidup seperti ini.”ibu itu menjawab dan melemprkan senyum kecil. Senyum yg sepertinya dipaksa. Sambil menidurkan si bungsu, dan si sulung terlihat begitu nyenyak tertidur di atas ranjang yg ditemani genangan air.

“banjir ini telah menjadi pemandangan dan mkanan kami sehari-hari” wajah berparas keras itu terus saja tersenyum. Meski menahan perih. Dia terus bercerita. Aku mendengr ceritanya dengan mata berkaca-kaca.

“anak perempuan ibu kuliah dimna? TanyaQu penasaran.
“Nggk kuliah mba.. Lulus SMA saja saya sudah bersyukur. Biaya kuliah mahal mba. PenghasilanQu saja sehari dgn menjual sembako di gang kost kadang tidak cukup.bagaiman mau kuliahkan anak. AnakQu punya Semangat besar tuk lanjutkan sekolah mba.. Ya cuma itu uangnya mau ambil dimna mba?”sambil berjalan ke kamar meletkkan si bungsu yg jatuh tertidur dipelukannya.

Aku membeli beberapa sembako di rumahnya, Setelah itu bergegas kembali ke kost.

Wahai penguasa Negeri tergenang, kota dataran bawah. Kota langganan banjir rob. Sampai kapan mereka akan terus tidur di bawah genangan air Laut yang pasang. Sedangkan kalian tidur dengan nyenyaknya dikasur yg empuk!

Wahai para penguasa kota tergenang tunaikan janji-janjimu saat kampaye kemarin. Quharap kau tidak akan lupa, atau berpura-pura lupa. Meski hanya meninggikan sedikit pondasi tuk mereka itu sudah lebih dari cukup.

(Sudut kota Semarang, menjelang Subuh)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s