Arsip untuk Februari, 2015

Menari di bawah temaram bulan sabit

Posted: 6 Februari , 2015 in Cerpen

vlcsnap-2013-04-16-02h59m03s6“Ummi.. ummi, tuh.. tuh, ada bulan!” jari-jemarinya yang mungil menunjuk-nunjuk bulan sabit dari balik pintu, yang sedari tadi bersembunyi di antara pepohonan.

Kakiku melangkah gontai ke depan pintu,mendekati bocah yang umurnya tak lama lagi menginjak 3 tahun itu.

“Wah indahnya. Eh, coba Syifa lihat! ada bintang juga, tuh!” Sahutku.

Senyumnya mengembang bak bulan sabit dengan mata menyipit melihatku. Bocah manis itu melompat-lompat kegirangan, lalu bergegas memakai sandal. Mbak Jannah, Mas Ikhsan dan Mbak Nurul yang asyik bermain dalam rumah, sekejap menyambar sendal di depan pintu. Mereka berlari berhamburan di halaman rumah. Menari-nari di bawah temaram bulan sabit.Sesekali berteriak riang.

Aku hanya terduduk di antara anak tangga teras rumah, menyaksikan keriangan mereka malam itu.

Mataku menerawang, seperti melihat diriku sendiri. 17 tahun silam bersama alm. Abah. Dia tak pernah melarangku.

Setelah puas melihat alam raya di malam hari. Tertawa lepas. Mereka bergegas masuk rumah.

“Da.. dah.. bulan, Syifa masuk dulu, ya,” kata Syifa kepada bulan, sambil melambaikan tangannya.

Iklan

Kejutan Menjelang Senja ^_^

Posted: 6 Februari , 2015 in Cerpen

“Dik, ayo, ke belakang rumah! ada yang ingin Kakak perlihatkan.”

“Perlihatkan, apa?”

“Ayo, cepat! pakai jilbabnya! nanti keburu malam.”

Segera kusambar jilbab di atas ranjang.

“Ada apa sih, Kak?” tanyaku lagi, semakin penasaran.

“Nanti Adik lihat sendiri,” jawab Abi, sambilĀ  berjalan ke samping rumah mengambil sepeda motor dan segera menghidupkannya.

“Hmmm…”

Sepeda motor melaju, melintasi gang sempit menuju kebun belakang. Sesekali melewati kubangan lumpur. Badanku melompat-lompat di atas motor.

“Jalan di sini rusak,” desisku.

“Iya.”

“Mau ke manakah?”

“Nggak lama lagi sampai, nanti Adik lihat sendiri.”

Beberapa menit kemudian.

Perlahan, rumput yang kurindukan itu makin jelas di pelupuk mata. Melambai-lambai oleh tarian angin. Bagai hamparan kapas putih yang bergoyang dan sesekali kapas-kapas itu berterbangan menari-nari di udara.

Terkesima.

Ilalang itu seperti melambaikan salam sunyi kepadaku.

“Nah! ini yang ingin Kakak perlihatkan. Adik pernah bilang ingin lihat ilalang,” kata lelaki sederhana itu dengan mantap dan segera memarkirkan motornya.

Bahagia tak terkira.

“Semak ilalang nan indaah. Aaakh….” aku memekik senang. Hamparan ilalang yang luas bernuansa putih, kini berada di depanku.

Aku menerawang. Ingatanku tertujuh pada wajah yang selalu kurindukan dan kudoa’akan.

Alm. Ayah dan masa kecil.

Senyumku kembali mengembang dengan mata berkaca-kaca. Haru.

Masih tak menyangka di belakang rumah Abi ada pemandangan seindah ini.

Aku menikmati senjaku yang diiringi alanunan sunyi bersama tarian angin yang disajikan semesta.

Bahagia itu sederhana. Batinku.

“Terima kasih, kejutannya.
Aku akan sering ke sini,” ucapku pelan, sambil menatapnya dan melemparkan senyum bahagia.

10923630_10205789608120754_7891751821494706128_n