Who am i ?

Autobiography

Image1181Nama lengkapnya Anita Deka, biasa dipanggil Nita, lahir di Desa Wawontulap Kec.Tatapaan Kab.Minahasa Selatan, Sulawesi Utara pada tanggal 22-agustus-1987. Usai menyelesaikan  pendidikan jenjang SMA di SMA YBP Tateli-SULUT pada tahun 2005. Kemudian melanjutkan ke pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Manado Jurusan Tarbiyah. Semasa Kuliah, aktif menulis di PERS Kampus, dan mengikuti lomba Karya Tulis Ilmiah dengan fokus tulisan pada isu-isu aktual yang berhubungan dengan masalah-masalah pendidikan,sosial dan keagamaan. adapun tulisan yang pernah di lombakan berjudul” Sinergitas Psikologi  kontemporer dalam pendidikan agama islam” Meraih Juara III tingkat BEM yang diselenggarakan oleh CICG lembaga Penelitian STAIN Manado, “Profil dakwah masa kini dan masa lalu, suatu upaya revitalisasi peran dakwah dalam ” di selenggarakan oleh PTAI se-Indonesia masuk 5 besar, kemudian “Manado Monument Pluralisme beragama di Indonesia” di selenggarakan oleh Universitas Para Madina Jakarta.” dan “Merintis Paradigma Baru Pendidikan Islam Suatu Kajian Historis”, “Islam ditengah idiologi besar dunia”  meraih juara 2. Selain menulis, aktif  mengikuti organisasi ektra dan intra kampus,  aktif di BEM sebagai koordinator intelektual mahasiswa, BEM Tarbiyah sebagai koordinator Dakwah dan komunikasi. selain aktif dalam organisasi intra, aktif juga dalam organisasi Extra, di amanahi sebagi ketua Komisariat KAMMI STAIN Manado, dan KAMMI daerah Sulawesi utara sebagai staf. Kebijakan Publik.

Pada tahun 2010 memulai karir menjadi Guru TK di Islamic Center manado, Kemudian perpindah ke SD, SMA, dan terakhir di SMP. Menikah dengan Aditia Bayu Pratama S.Hut, dan dikarunia seorang anak perempuan bernama Assyifa Adzka Alifatunnisa.

Sekarang sedang menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana melalui beasiswa restorasi dari Gubernur Sulawesi Tenggara di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA Semarang) Konsentrasi pada Pendidikan Agama Islam (PAI) jurusan Tarbiyah.

>>>> My Story

protect   “Saya Ingin jadi Seperti Mereka”

Semua bermula dari mimpi besar, mimpi menjadi seorang atlet yang berprestasi, yang selalu mengharumkan nama bangsa, seperti di Tv-Tv melihat pertandingan maupun kejuaraan, hati ini selalu penasaran, dan merasa tertantang ingin jadi seperti meraka yang membawa pulang medali emas untuk negara tercinta, mencium bendera indonesia, menyanyikan lagu indonesia raya, hmm menangis terharu melihat semua itu, hati inipun terasa sesak, dalam hati berkata “saya ingin jadi seperti mereka”.“Saya ingin menjadi atlet berprestasiiiiiiiiii !!! *teriak saya dalam hati.

Memasuki SMP keinginan itu semakin besar, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti beladiri. Memang sudah sejak kecil dikenal dengan anak yang tomboy, hoby berantem, panjat pohon, teman laki-laki  pada takut memanjat, tapi dengan beraninya saya memanjat pohon hanya untuk mengambilkan buah rambutan untuk mereka, akhirnya ketahuan sama abah (My beloved father. Alm) kalau lagi manjat, karena ketakutan, saya buru-buru turun dan terpeleset, akhirya jatuh dari pohon rambutan.  Masa-masa kecil yang menyenangkan *senyum kecil

Saya terlahir dikeluarga yang sederhana, tidak begitu religius dan penuh mitos, dan bukan dari keluarga PNS, Pengusaha atau apalah, tidak seperti teman-teman saya yang lain, keluarga saya adalah keluarga pekerja keras, ibu dan abah hanya menghabiskan waktu untuk mencari uang untuk membayar sekolah saya dan kakak, satu hal yang saya banggakan dari abah adalah dia begitu semangat, ya semangat setiap malam mengantarkan saya ke taman pengajian, dan selalu memarahi saya kalau bolos mengaji, sampai akhirnya  saya bisa membaca Al-Qur’an, saya baru menyadarinya sekarang, dan saya bersyukur atas semua itu, meski harus dipukul sama guru mengaji, di kasih hukuman kalau datang terlambat dan tidak mengerjakan PR, saya menyadarinya sekarang bahwa itu semua untuk kebaikan saya *terimakasih ibu dan abah,  terimakasih k’ati, kanda yeyen, k’bahar dan ustad.

Seperti anak-anak  yang lain saya memiliki banyak mimpi, banyak sekali mimpi yang ingin saya ceritakan, mulai dari masa-masa kecil saya, kehilangan orang yang paling saya sayangi, perjuangan, menjadi atlet, pengorbanan, organisasi, mencari jatidiri, pretasi, cinta dan sampai mengenal jilbab.

**********

Menjelang Ebtanas kelas VI, kabar itu sangat membuat saya drop, tekejut, takut, dan sangat sedih, abah saya meninggal dunia karena sakit, abah meninggalkan saya  ketika saya berumur 12 tahun, abah sudah pernah di operasi tapi penyakit itu tumbuh lagi, dan membuat abah tersiksa, segala pengobatan telah dilalui tapi nihil, dan ibu waktu itu tidak memiliki cukup banyak uang untuk melakukan operasi lagi, yang saya sesali adalah sikap saya yang masih keras kepala, dengan kondisi abah yg seperti itu, saya tetap tidak mau diatur, selalu berantem dengan kakak, bahkan ketika abah menghembuskan nafas yg terakhir saya masih keras kepala. Ya Allaaaaaah maafkan saya, ampunilah dosa-dosa saya.

Sebelum abah menghembuskan nafas yg terakhir abah berpesan,“ita,,, (panggilan kesayang saya) harus jadi anak yg tegar, tidak boleh keras kepala, tidak boleh berantem-brantem lagi sama kakak, tidak boleh pilih-pilih makanan, makanlah apa adanya yang penting halal, karena kalau ita masih seperti ini, ita akan mersakan akibatnya, jika abah sudah tidak ada lagi di dunia”. Ya Allaaaaaaah tiba-tida air mata saya jatuh, setelah itu abah menyuruh saya agar memboyongnya keluar kamar, dan berbaring diruang tamu, abah menyuruh saya mengambil bantal, setelah saya kembali dari kamar dan memberikan bantal itu, tiba-tiba abah suda tidak bergerak, abah sudah kaku, abah diam membisu, sekujur tubuh terasa dingin, saya panik, teriak menangis, ibu terus menenangkan saya. Ternyata abah  udah meninggal, abah sudah diambil sama Allah, abah sudah tidak ada lagi di dunia, sudah tidak ada lagi orang yang mengantarkan saya pergi mengajii, tidak ada lagi orang yg sering menceritakan saya dogeng ketika tidur, mengajari saya main gitar, memberi saya kejutan ketika meraih juara di sekolah, tidak ada lagi, tidak ada lagi, tidak ada lagi  tempat saya   mengadu, tidak ada lagi tempat saya bermanja, tidak ada lagi orang yang memarahi saya ketika  memananjat pohon, tidak ada lagi orang yang memukuli saya ketika menjelang magrib masih mandi dipantai, tidaak  ada lagiii.

*Bersambung

Iklan
Komentar
  1. SYAQyra berkata:

    emmmm,,, jd penasaran bc gmanaendingx,,,cpat ka lanjutin tulis,,, g nyangka seorang ka nita yang berjilbab,, pernah manjat rambutan,, seorang anak tomboi, sekarang jd ka nit yang feminim,, manis, dan berakhlak,,, kok bisa ka nit ktmu sm ka adit,,, emmmmm aku jd penasaran dengar cerita yang bagian itu,,, ok ka,,,, di tggu lanjutannya, keep spirit

    Suka

  2. syaQyra berkata:

    coba ka nit lanjutkan tulis .. dont be to long,, bikin pnsaran saja,,,,,,,, aku lagi tunggu cerita tntang ka nit berubah seperti skrng,,,, n knp seorng atlit silat bsa jd feminim,, come on dont be cerious me,,,,,

    Suka

  3. anitadeka berkata:

    Lanjutanya ada di novel hehe,, tulisan2 ini belum begitu sempurna

    Suka

  4. nur fitriani s.tasming berkata:

    mudah2han apa yg diharapkan terwujud,,,amin,,amin,,amin ya rabb
    sy salut dengan perjalanan hidupnya,,bisa jadi inspirasi/

    Suka

  5. SyaQyra berkata:

    ka aku jg pengen bisa seperti ka nita mw menulis karya ilmiah, mhon bimbingannya, n untuk cerita who am’i ,,,,,, selesaikan,,,, ka,,,,,,, asli penasaran,,,,,,, misss u ka nit

    Suka

  6. musadaud berkata:

    speachless…

    Suka

  7. annisa berkata:

    terharuu bacanya kk

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s